Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

HAKEKAT MASALAH DALAM BK

A    Hakekat masalah dalam BK
Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal. Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimalMasalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal. Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal.
Sedangkan masalah dalam bimbingan dan konseling adalah segala sesuatu yang menjadi kendala atau hambatan yang harus dipecahkan dalam pencapaian dan terwujudnya tujuan bimbingan dan konseling.
B    Isu-isu dalam BK
1.    Guru BK yang ada di sekolah kebanyakan bukan dari lulusan jurusan bimbingan dan konseling, melainkan dari program jurusan lain.
2.    Guru BK disekolah terkadang mengawasi atau mengampu siswa dengan jumlah siswa melebihi standar yaitu 150 siswa.
3.    Ruang BK di sekolah-sekolah kebanyakan belum memenuhi standar, dan ada juga sekolah yang tidak memiliki ruangan bimbingan dan konseling sama sekali.
4.    Pemberian layanan hanya layanan klasikal saja, dan dalam pemberian layanan tidak berdasarkan assessmen kebutuhan siswa melainkan hanya asal saja.
5.    Bimbingan kelompok disamakan dengan forum.
Kesalahpahaman dalam dunia bimbingan dan konseling
Bidang bimbingan dan konseling yang ada selama ini telah banyak digeluti oleh berbagai pihak dengan latar belakang yang sangat bervariasi. Sebagian besar diantara mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan bidang bimbingan dan konseling. Di samping itu, literature yang memberikan wawasan, pengertian, dan berbagai seluk beluk teori dan praktek bimbingan dan konseling yang dapat memperluas dan mengarahkan pemahaman mereka itu juga masih sangat terbatas.
Melihat hal tersebut diatas, maka tak heran bila dalam kenyataannya masih banyak terjadi kesalahpahaman tentang bimbingan dan konseling. Kesalahpahaman yang sering diumpai di lapangan antara lain adalah sebagai berikut:
a)    Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
Ada dua pendapat yang berbeda kaitannya dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling.
1)    Bahwa bimbingan dan konseling sama saja dengan pendidikan. Jadi dengan sendirinya sudah termasuk ke dalam usaha sekolah yang menyelenggararakan pendidikan. Sekolah tidak perlu bersusah payah menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara mantap dan mandiri. Pendapat ini cenderung mengutamakan pengajaran dan mengabaikan aspek-aspek lain dari pendidikan dan sama sekali tidak melihat pentingnya bimbingan dan konseling.
2)    Bimbingan dan konseling harus benar-benar dilaksanakan secara khusus oleh tenaga ahli dengan perlengkapan yang benar-benar memenuhi syarat. Pelayanan ini harus secara nyata dibedakan dari praktek pendidikan sehari-hari.
Kedua pendapat tersebut diatas adalah pandangan-pandangan ekstrem yang perlu dievaluasi. Memang secara umum bimbingan dan konseling di sekolah termasuk ke dalam ruang lingkup upaya pendidikan, namun bukan berarti pengajaran (yang baik) saja akan menjangkau seluruh misi pendidikan di sekolah. Sekolah juga harus memperhatikan kepentingan peserta didik untuk bisa membuat mereka berkembang secara optimal. Maka dalam hal ini, peran bimbingan dan konseling adalah menunjang seluruh usaha sekolah demi keberhasilan peserta didik.
b)    Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
Masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah. Anggapan ini mengatakan ”barangsiapa diantara siswa-siswa melanggar peraturan dan disiplin sekolah harus berurusan dengan konselor”. Tidak jarang pula konselor sekolah diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Konselor ditugaskan mencari siswa yang bersalah dan diberi wewenang untuk mengambil tindakan bagi siswa-siswa yang bersalah itu. Konselor didorong untuk mencari bukti-bukti atau berusaha agar siswa mengakua bahwa ia telah berbuat sesuatu yang tidak pada tempatnya atau kurang ajar, atau merugikan. Misalnya konselor ditugasi mengungkapkan agar siswa mengakui bahwa ia mengisap ganja dan sebagainya. Dalam hubungan ini pengertian konselor sebagai mata-mata yang mengintip segenap gerak-gerik siswa agar dapat berkembang dengan pesat.
Berdasarkan pandangan di atas, adalah wajar bila siswa tidak mau datang kepada konselor karena menganggap bahwa dengan datang kepada konselor berarti menunjukkan aib, ia telah berbuat salah, atau predikat-predikat negative lainnya. Padahal sebaliknya, dari segenap anggapan yang merugikan itu, di sekolah konselor haruslah menjadi teman dan kepercayaan siswa. Disamping petugas-petugas lainnya di sekolah, konselor hendaknya menjadi tempat pencurahan kepentingan siswa, apa yang terasa di hati dan terpikirkan oleh siswa. Petugas bimbingan dan konseling bukanla pengawas ataupun polisi yang selalu mencurigai dan akan menangkap siapa saja yang bersalah. Petugas bimbingan dan konseling adalah kawan pengiring petunjuk jalan, pembangun kekuatan, dan Pembina tingkah laku positif yang dikehendaki. Petugas bimbingan dankonseling hendaknya bisa menjadi si tawar si dingin bagi siapaupun yang dating kepadanya. Dengan pandangan, sikap, ketrampilan, dan penampilan konselor siswa aatau siapapun yang berhubungan dengan konsellor akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.
c)    Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat
Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Disamping memerlukan pemberian nasehat, pada umumnya klien sesuai dengan problem yang dialaminya, memerlukan pula pelayanan lain seperti pembrian informasi, penempatan dan penyaluran, konseling, bimbingan belajar, pengalih tangan kepada petugas yang lebih ahli dan berwenang, layanan kepada orang tua siswa dan masayarakat, dan sebagainya.
Konselor juga harus melakukan upaya-upaya tindak lanjut serta mensinkronisasikan upaya yang satiu dan upaya lainnya sehingga keseluruhan upaya itu menjadi suatu rangkaian yang terpadu dan bersinambungan.
d)    Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat incidental
Pada hakikatnya pelayan itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih luas, yaitu yang lalu, sekarang, dan yang akan datang. Di samping itu konselor seyogyanya tidak hanya menunggu klien datang dan mengungkapkan masalahnya.
Maka petugas bimbingan dan konseling harus terus memasyarakatkan dan membangun suasana bimbingan dan konseling, serta mampu melihat hal-hal tertentu yang perlu diolah ditanggulangi, diarahkan, dibangkitkan, dan secara umum diperhatikan demi perkembangan segenap individu.
e)    Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-kliean tertentu saja.
Bimbingan dan konseling tidak mengenal penggolonan siswa-siswa atas dasar mana golongan siswa tertentu dalam memperoleh palayanan yang lebih dari golongan yang lainnya. Semua siswa mendapat hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelayanan dan bimbingan konseling, kapan, bagimana, dan di mana pelayanan itu diberikan. Pertimbangannya semata-mata didasarkan atas sifat dan jenis masalah yang dihadapi serta ciri-ciri keseorangan siswa yang bersangkutan.
Petugas bimbingan dan konseling membuka pintu yang selebar-lebarnya bagi siapa saja siswa yang ingin mendapatkan atau memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling.
Kalaupun ada penggolongan, maka penggolongan didasarkan atas klasifikasi masalah (seperti bimbingan konseling pendidikan, jabatan/ pekerjaan, keluarga/perkawinan), bukan atas dasar kondisi klien (misalnya jenis kelamin, kelasa social/ekonomi, agama, suku, dan sebagainya). Lebih jauh klasifikasi masala itu akan mengarah pada spesialisasi keahlian konseling tertentu sesuai dengan permasalahan yang ada.
f)    Bimbingan dan konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang normal”
Ada asumsi bahwa bimbingan konseling hanya melayani orang-orang normal yang mengalami masalah tertentu. Bukankah jika segenap fungsi yang ada pada diri seseorang yang normal dapat berjalan dengan baik, dia akan dapat menjalin kehidupannya secara normal pula? Kehidupan yang normal ini pasti menuju kebaikan dan kewajaran. Sayangnya, bekerjanya fungsi-fungsi yang sebenarnya normal itu kadang-kadang terganggu atau arahnya tidak tetap sehingga memerlukan bantuan konselor demi lebih lancar dan lebih terarahnya kegiatan fungsi-fungsi tersebut.
Jika seseorang ternyata mengalami keabnormalan tertentu, apalagi kalau sudah bersifat sakit jiwa, maka orang tersebut sudah seyogianya menjadi klien psikeater. Masalahnya ialah masih banyak konselor yang terlalu cepat menggolongkan atau setidak-tidaknya menyangka seseorang mengalami keabnormalan mental atau ketidaknormalan jiwa, sehingga terlalu cepat pula menghentikan pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling dan menyarankan klien agar pergi saja ke psikeater. Hal ini tentu saja tidak pada tempatnya atau bahkan berbahaya. Klien yang sebenarnya tidak sakit, tetapi oleh konselor dikirim ke dokter atau psikeater, pertama-tama akan menganggap bahwa konselor tersebut sebenarnya ahli; keahlianya adalah semua atau setidak-tidaknya diragukan. Sebagai akibatnya, klien tidak lagi mempercayainya. Konselor-konselor yang demikian itu akan memudarkan citra profesi bimbingan dan konseling. Kedua, klien berkemungkinan akan mempersepsi masalah yang dialaminya secara salah. Atau mungkin akan memprotes pengiriman yang salah alamat itu dan memeberikan reaksi-reaksi lain yang justru memperberat masalah yang dialaminya.
Konselor yang memiliki kemampuan yang tinggi, akan mampu mendeteksi dan mempertimbangkan lebih jauh tentang mantap atau kurang mantapnya fungsi-fungsi yang ada pada klien, sehingga kliennya perlu dikirim kepada dokter atau psikiater atau tidak. Penanganan masalah oleh ahlinya secara tepat akan memberikan jasmani yang lebih kuat bagi keberhasilan pelayanan.
g)    Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi, melainkan proses yang bekerja sendiri sarat dengan unsur-unsur budaya, social dan lingkungan. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Konselor perlu bekerjasama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang dihadapi oleh klien.
Di sekolah misalnya, masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri. Masalah itu seringkali terkait dengan orangtua siswa, guru dan pihak-pihak lain; terkait pila dengan berbagai unsure lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat sekitarnya. Oleh sebab itu, penanggulangan tidak dilakukan sendiri oleh konselor saja. Dalam hal ini peranan guru, orang tua danpihak-pihak llain sering kali sangat menentukan. Konselor harus pandai menjalin hubungan kerjasama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah. Disamping itu. Konselor harus pula memanfaatkan berbagi sumber daya yang ada dan dapat diadakanuntuk kepentingan pemecahan masalah siswa.
h)    Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
Sesuai asas kegiatan, disamping kinselor bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling, pihak lainpun, terutama klien, harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. Lebih jauh, pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Mereka hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakannpada konselor saja. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini konselor, maka hasilnya akan kurang mantap, tersendat-sendat, atau bahkan tidak berjalan sama sekali.
i)    Bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja
Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dengan melihat gejala-gejala dan atau keluhan awal yang disampaikan oleh klien. Namun demikian, jika pembahasan masalah itu dilanjutkan, didalami, dan dikembangkan, seringkali ternyata bahwa masalah yang sebenarnya lebih jauh, lebih luas dan lebih pelik apa yang sekedar tampak atau disampaikan itu. Bahkan kadang– kadang masalah yang sebenarnya, sama sekali lain daripada yang tampak atau dikemukakan itu. Usaha pelayanan seharusnya dipusatkan pada masalah yang sebenarnya itu. Konselor tidak boleh terpukau oleh keluahan atau masalah yang pertama disampaikan oleh kien. Konselor harus mampu menyelami sedala-dalamnya masalah klien yang sebenarnya.
j)    Meneanggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakuka oleh siapa saja.
Pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja, jika dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran saja. Tapi jika pekerjaan bimbingan dan konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip-prisip keilmuan (mengikuti filosofi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara professional, maka pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Salah satu ciri profesionalnya adalah pelayanan itu dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup.
k)    Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater
Memang dalam hal-hal tertentu terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pkerjaan dokter atau pskiater, yaitu sama-sama menginginkan klien atau pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Di samping itu, baik konselor maupun dokter atau psikiater, memakai teknik-teknik yang sudah teruji pada bidang pelayananya masing-masing untuk mengungkapkan masalah klin/pasien, untuk melakukan pragnosis dan diagnosis, dan akhirnya menetapkan cara-cara pengentasan masalah atau penyembuhannya. Namun demikian, pkerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Baik dokter atau psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang sehat yang sedang mengalami masalah.
Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater ialah dengan memakai obat dan resep serta teknik pengobatan dokter atau psikiater lainnya, sedangkan bimbingan dan konseling memberikan jalan pemecahan masalah melalui jalan pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, penguatan tingkah laku, pengubahan lingkungan, upaya-upaya perbaikan, serta teknik-teknik bimbingan dan konseling lainnya, sedangkan bimbingan dan konseling memberikan jalan pemecahan masalah melalui pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, penguatan tingkah laku, pengubahan lingkungan, upaya-upaya perbaikan, serta upaya-upaya perbaikan, serta tehnik-tehnik bimbingan dan konseling lainnya.
l)    Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat
Usaha-usaha bimbingan dan konseling bukanlah hal yang instant, tapi menyangkut aspek-aspek psikologi/mental dan tingkah laku yang kompleks. Maka proses ini tidak bisa didesak-desakkan agar cepat matang dan selesai. Pendekatan ingin mencapai hasil segera justeru dapat melemahkan proses itu sendiri. Ini bukan berarti bahwa usaha bimbingan dan konseling boleh santai-santai saja menghadapi masalah klien, karena proses bimbingan dan konseling adalah hal yang serius dan penuh dinamika, maka harus wajar dan penuh tanggung jawab.
Petugas bimbingan dan konseling harus berusaha sebaik dan seoptimal mungkin dalam menghadapi masalah klien.
m)    Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
Segala cara yang dipakai untuk mengatasi masalah harus disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang sama, bahkan masalah yang sama sekalipun.
Pada dasarnya, pemakaian suatu cara tergantung pada pribadi klien, jenis dan sifat masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan petugas bimbingan konseling, dan sarana yang tersedia.
n)    Memusatkan usaha bimbibingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi dan konseling (misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap lainnya)
Perlu diketahui bahwa perlengkapan dan sarana utama yang pasti ada dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah ketrampilan pribadi. Dengan kata lain koselor tidak seharusnya terganggu dengan ada atau tiadanya instrument-instrumen pembantu (tes, inventori, angket, dan sebagainya). Petugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secar optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan.
o)    Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang ringan saja
Berat atau ringannya sebuah masalah bukanlah hal yang mudah untuk ditetapkan. Oleh karena itu, memberikan sifat ringan atau berat pada masalah yang dihadapi klien tidaklah perlu, karena hal itu tidak akan membantu meringankan usaha pemecahan masalah. Yang terpenting adalah bagaimana menanganinya dengan cermat dan tuntas.
Apabila seluruh kemampuan konselor tidak bisa mengatasi masalah klien, maka diperlukan pengalihtanganan. Pengalihtanganan tidak harus sekaligus kepada psikiater atau ahli-ahli lain diluar bidang bimbingan dan konseling. Alih tangan pada tahap pertama hendaknya dilakukan kepada sesame konelor sendiri yang memiliki keahlian yang lebih tinggi. Dan bila ternyata ditemukan gejala-gejala kelainan kejiwaan misalnya, maka ahli tangan sebaiknya diserahkan kepada psikiater.



Daftar pustaka:
1.    Prof. Dr. H. Prayitno, M.SC.Ed&Drs. Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. PT. Rineka Cipta, Jakarta 2004.
2.    http;//akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/14/tujuan-bimbingan-dan-konseling/
3.    http://echisyofiyan.blogspot.com/2009/12/miskonsepsi-kesalahpahaman-dalam.html
4.    http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2020002-pengertian-masalah/#ixzz1ZigmEHYu
5.    http://teraskita.wordpress.com/2009/03/30/problematika-bimbingan-dan-konseling/

LAPORAN PRAKTIK KONSELING KELOMPOK

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Praktik bimbingan dan konseling kelompok adalah salah satu mata kuliah dalam program studi bimbingan dan konseling. Mata kuliah praktik bimbingan dan konseling kelompok yang berbobot 2 SKS dan diampu oleh Bapak Heru Mugiarso dan Ibu Sinta Saraswati. Dalam mata kuliah praktik bimbingan dan konseling kelompok  mahasiswa mempelajari tentang konsep baik konseling kelompok maupun bimbingan kelompok diawal perkuliahan. Mahasiswa juga akan mendapat tugas berupa praktik bimbingan kelompok dan konseling kelompok baik dalam suasana makro maupun mikro. Khususnya dalam konseling kelompok makro, mahasiswa akan di beri tugas akhir berupa praktik konseling kelompok dengan konseli serta dibebankan juga tugas berupa penyusunan laporan sebagai pertanggungjawaban atas praktik konseling kelompok yang telah dilaksanakan.
Pada pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah, layanan konseling kelompok merupakan salah satu layanan dari sembilan layanan bimbingan dan konseling. Konseling kelompok merupakan layanan dalam bimbingan dan konseling yang diselenggarakan dalam format kelompok dan disini konselor mempunyai peran sebagai pemimpin kelompok. Konseling kelompok mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna dalam pengembangan pribadi dan pemecahan masalah individu yang menjadi peserta kegiatan kelompok. Dalam konseling kelompok dibahas masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Masalah-masalah tersebut dibahas melalui suasana dinamika kelompok yang intens dan konstruktif, diikuti oleh semua anggota kelompok dibawah bimbingan pemimpin kelompok.
Sebagai seorang konselor, khususnya ketika menjalankan tugasnya memberikan layanan konseling kelompok kepada siswa, haruslah mempunyai kompetensi sebagai seorang konselor, baik kompetensi akademik maupun kompetensi profesional. Praktik konseling kelompok akan melatih kompetensi akademik sebagai seorang konselor, yaitu: (a) mengenal secara mendalam konseli yang hendak dilayani, (b) menguasai khasanah teoretik dan prosedural termasuk teknologi dalam bimbingan dan konseling, khususnya dalam layanan konseling kelompok. (c) menyelenggarakan layanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (d) mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan sebagai bekal ketika terjun ke lapangan di kemudian hari. Melalui kegiatan praktik konseling kelompok ini penguasaan kompetensi profesional konselor akan pelan-pelan terbentuk karena disana praktikan dilatih untuk menerapkan kompetensi akademik dalam bidang bimbingan dan konseling yang telah dipelajari/dikuasai itu dalam konteks otentik di arena terapan layanan ahli.
Lebih khususnya, praktik konseling kelompok akan mempersiapkan praktikan secara lebih matang sebagai seorang konselor yang nantinya berkecimpung dalam kegiatan profesional di sekolah atau di arena terapan layanan ahli lainnya yang relevan. Praktik konseling kelompok juga secara tidak langsung akan memberikan pelajaran dan pengalaman yang bermanfaat yang tidak bisa di dapat melalui kegiatan perkuliahan secara teoritik.

B.    Tujuan
Penyusunan laporan praktik konseling kelompok yang dilakukan bertujuan untuk:
1.    Memenuhi tugas akhir mata kuliah praktik bimbingan dan konseling kelompok.
2.    Memberikan pengalaman kepada praktikan guna terjun ke lapangan kelak.

C.    Manfaat
Manfaat yang didapat dari penyusunan laporan praktik konseling keompok ini adalah memberikan pemahaman atas konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Sedangkan pengalaman yang didapat praktikan ketika praktik dapat memberikan referensi dan masukan bagi diri praktikan sendiri.

D.    Kerangka Kerja
Kerangka kerja yang dilakukan oleh praktikan dalam praktik ini adalah sebagai berikut:
1.    Pemantapan konsep praktik konseling kelompok.
2.    Melaksanakan praktik konseling kelompok.
3.    Menyusun hasil praktik konseling kelompok.
4.    Melaporkan hasil praktik konseling kelompok.
5.    Pertanggungjawaban secara lisan atas laporan hasil praktik konseling kelompok.

E.    Waktu dan Tempat
Pelaksanaan praktik konseling kelompok dilaksanakan pada:
Hari/tanggal    : Selasa, 15 November 2011
Waktu        : 07.00 – 09.00 WIB
Tempat        : Ruang perkuliahan A1-302 gedung Fakultas Ilmu Pendidikan
 

BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL KONSELING KELOMPOK

A.    Pengertian Konseling Kelompok
Gazda (1984) dan Shertzer & Stone (1980) (dalam Mungin Edi Wibowo, 2005) mengemukakan pengertian konseling kelompok yaitu : “konseling kelompok adalah suatu proses antar pribadi yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari. Proses itu mengandung ciri-ciri terapeutik seperti pengungkapan pikiran dan perasaan secara leluasa, orientasi pada kenyataan, pembukaan diri mengenai perasaan-perasaan mendalam yang dialami, saling percaya, saling perhatian, saling pengertian, dan saling mendukung”.
Sedangkan Hanzen, Warner &Smith (dalam Larrabe & Terres, 1984 dalam Mungin Edi Wibowo, 2005) menyatakan bahwa konseling kelompok adalah merupakan cara yang amat baik untuk menangani konflik-konflik antar pribadi dan membantu individu-individu dalam pengembangan kemampuan pribadi mereka.
Menurut Rochman Natawidjaja (1987) (dalam Mungin Edi Wibowo, 2005) mengemukakan bahwa konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perubahan dan pertumbuhannya. Bersifat pencegahan dalam arti bahwa konseli yang beersangkutan mempunyai kemampuan untuk berfungsi secara wajar dalam masyarakat, akan tetapi mungkin memiliki titik lemah dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Menurut Heru Mugiarso dalam Bimbingan dan Konseling (2009: 69), konseling kelompok adalah layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok. Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan konseling kelompok adalah fungsi pengentasan.
Menurut Prayitno dan Erman Anti dalam Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (1994:319), konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan dalam suasana kelompok.
Menurut Dewa Ketut Sukardi (2003), konseling kelompok merupakan konseling yang diselenggarakan dalam kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjdi di dalam kelompok itu. Masalah-masalah yang dibahas merupakan masalah perorangan yang muncul di dalam kelompok itu, yang meliputi berbagai masalah dalam segenap bidang  bimbingan (bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir).
Menurut Prayitno (2004), layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disana ada konselor dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya minimal dua orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan yaitu hangat, permisif, terbuka dan penuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
Menurut Winkel (2007), konseling kelompok adalah suatu proses antarpribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari.
Menurut Tatik Romlah (2001), konseling kelompok adalah upaya untuk membantu individu agar dapat menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, upaya itu bersifat pencegahan serta perbaikan agar individu yang bersangkutan dapat menjalani perkembangannya dengan lebih mudah.
Dari uraian-uraian yang disampaikan beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok merupakan salah satu layanan konseling yang dipimpin oleh seorang konselor profesional dan beranggotakan beberapa konseli yang berkelompok dan diselenggarakan dalam suasana kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok, serta terdapat hubungan konseling yang hangat, terbuka, permisif dan penuh keakraban.hal ini merupakan upaya individu untuk membantu individu agar dapat menjalani perkembangannya dengan lebih lancar, upaya itu bersifat preventif dan perbaikan. Sebab, pada konseling kelompok juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah, kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.

B.    Tujuan Konseling Kelompok
Menurut Mungin Eddy Wibowo, (2005:20). Tujuan yang ingin dicapai dalam konseling kelompok, yaitu pengembangan pribadi, pembahasan dan pemecahan masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok, agar terhindar dari masalah dan masalah terselesaikan dengan cepat melalui bantuan anggota kelompok yang lain.
Menurut Dewa Ketut Sukardi, (2002:49).Tujuan konseling kelompok meliputi:
1.    Melatih anggota kelompok agar berani berbicara dengan orang banyak.
2.    Melatih anggota kelompok dapat bertenggang rasa terhadap teman sebayanya.
3.    Dapat mengembangkan bakat dan minat masing-masing anggota kelompok.
4.    Mengentaskan permasalahan-permasalahan kelompok.
Menurut Prayitno (2004), tujuan umum konseling kelompok adalah mengembangkan kepribadian siswa untuk mengembangkan kemampuan sosial, komunikasi, kepercayaan diri, kepribadian, dan mampu memecahkan masalah yang berlandaskan ilmu dan agama. Sedangkan tujuan khusus konseling kelompok, yaitu:
1.    Membahas topik yang mengandung masalah aktual, hangat, dan menarik perhatian anggota kelompok.
2.    Terkembangnya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap terarah kepada tingkah laku dalam bersosialisasi/komunikasi.
3.    Terpecahkannya masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah bagi individu peserta konseling kelompok yang lain.
4.    Individu dapat mengatasi masalahnya dengan cepat dan tidak menimbulkan emosi.

C.    Asas Konseling Kelompok
Dalam kegiatan konseling kelompok terdapat sejumlah aturan ataupun asas-asas yang harus diperhatikan oleh para anggota, asas-asas tersebut yaitu:
1.    Asas kerahasiaan
Asas kerahasiaan ini memegang peranan penting dalam konseling kelompok karena masalah yang dibahas dalam konseling kelompok bersifat pribadi, maka setiap anggota kelompok diharapkan bersedia menjaga semua (pembicaraan ataupun tindakan) yang ada dalam kegiatan konseling kelompok dan tidak layak diketahui oleh orang lain selain orang-orang yang mengikuti kegiatan konseling kelompok.
2.    Asas Kesukarelaan
Kehadiran, pendapat, usulan, ataupun tanggapan dari anggota kelompok harus bersifat sukarela, tanpa paksaan.
3.    Asas keterbukaan
Keterbukaan dari anggota kelompok sangat diperlukan sekali. Karena jika ketrbukaan ini tidak muncul maka akan terdapat keragu-raguan atau kekhawatiran dari anggota.
4.    Asas kegiatan
Hasil  layanan konseling kelompok tidak akan berarti bila klien yang dibimbing tidak melakukan kegiatan dalam mencapai tujuan– tujuan bimbingan. Pemimpin kelompok hendaknya menimbulkan suasana agar klien yang dibimbing mampu menyelenggarakan kegiatan yang dimaksud dalam penyelesaian masalah.


5.    Asas kenormatifan
Dalam kegiatan konseling kelompok, setiap anggota harus dapat menghargai pendapat orang lain, jika ada yang ingin mengeluarkan pendapat maka anggota yang lain harus mempersilahkannya terlebih dahulu atau dengan kata lain tidak ada yang berebut.
6.    Asas kekinian
Masalah yag dibahas dalam kegiatan konseling kelompok harus bersifat sekarang. Maksudnya, masalah yang dibahas adalah masalah yang saat ini sedang dialami yang mendesak, yang mengganggu keefektifan kehidupan sehari-hari, yang membutuhkan penyelesaian segera, bukan masalah dua tahun yang lalu ataupun masalah waktu kecil.

D.    Unsur Konseling Kelompok
Dalam kegiatan konseling kelompok, terdapat beberapa unsur sehingga kegiatan tersebut disebut konseling kelompok. Adapun unsur-unsur yang ada dalam konseling kelompok yaitu:
1.    Anggota kelompok, adalah individu normal yang mempunyai masalah dalam rentangan penyesuaian yang masih dapat diatasi oleh peimpin kelompok maupun anggota kelompok yang lainnya.
2.    Pemimpin kelompok, adalah seseorang ahli yang memimpin jalannya kegiatan konseling kelompok. Konseling kelompok dipimpin oleh seorang konselor atau psikolog yang profesional dengan latihan khusus bekerja dengan kelompok.
3.    Permasalahan yang dihadapi antar anggota konseling kelomppok adalah sama.
4.    Metode yang dilaksanakan dalam konseling kelompok berpusat pada proses kelompok dan perasaan kelompok.
5.    Interaksi antar anggota kelompok sangat penting dan tidak bisa dinomor duakan.
6.    Kegiatan konseling kelompok dilaksanakan berdasar pada alam kesadaran masing-masing anggota kelompok dan juga pemimpin kelompok.
7.    Menekankan pada perasaan dan kebutuhan anggota.
8.    Adanya dinamika kelompok antar anggota kelompok dalam kegiatan konseling kelompok.
9.    Ada unsur bantuan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok.

E.    Prosedur Pelaksanaan Konseling Kelompok
Prosedur pelaksanaan menurut Prayitno konseling kelompok diselenggarakan melalui empat tahap kegiatan, yaitu:
1.    Tahap pembentukan, yaitu tahap untuk membentuk sejumlah individu menjadi satu kelompok yang siap mengembangkan dinamika kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Yang dilakukan dalam tahap ini diantaranya:
a.    Mnerima secara terbuka dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kesediaan anggota kelompok melaksanakan kegiatan.
b.    Berdoa bersama, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
c.    Memperkenalkan diri secara terbuka.
d.    Menjelaskan pengertian konseling kelompok (disesuaikan dengan kegiatan apa yang direncanakan).
e.    Menjelaskan tujuan konseling kelompok.
f.    Menjelaskan asas-asas konseling kelompok, yaitu asas kerahasiaan, kenormatifan, kerahasiaan, keterbukaan, dan kesukarelaan.
g.    Menjelaskan cara pelaksanaan konseling kelompok.
h.    Mengucapkan janji kerahasiaan.
i.    Melakukan kesepakatan waktu berama-sama dengan anggota kelompok.
j.    Melakukan permainan.
2.    Tahap peralihan, yaitu tahapan untuk mengalihkan kegiatan awal kelompok ke kegiatan berikutnya yang lebih terarah pada pencapaian tujuan kelompok. Yang dilakukan dalam tahap ini diantaranya:
a.    Menjelaskan kembali kegiatan konseling kelompok.
b.    Tanya jawab kesiapan anggota kelompok.
c.    Mengenali suasana anggota kelompok.
d.    Menjelaskan batasan masalah.
3.    Tahap kegiatan, yaitu tahap “kegiatan inti” untuk membahas dan mengentaskan masalah pribadi anggota kelompok. Yang dilakukan dalam tahap ini diantaranya:
a.    Memberikan contoh masalah pribadi kepada anggota kelompok.
b.    Mempersilahkan  anggota kelompok mengemukakan masalah pribadi masing-masing.
c.    Membahas masalah yang terpilih.
d.    Melakukan selingan.
e.    Penyimpulan.
4.    Tahap pengakhiran, yaitu tahapan akhir kegiatan untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan dan dicapai oleh kelompok, serta merencanakan kegiatan selanjutnya. Yang dilakukan dalam tahap ini diantaranya:
a.    Menjelaskan kepada anggota kelompok bahwa kegiatan konseling kelompok akan diakhiri.
b.    Menanyakan tentang harapan anggota apakah sudah tercapai atau belum.
c.    Meminta anggota mengungkapkan kesan dan pesan.
d.    Penilaian segera (UCA).
e.    Pembahasan kegiatan lanjutan.
f.    mengucapan terima kasih.
g.    Memimpin doa.
h.    Perpisahan dengan anggota kelompok.

F.    Dinamika Kelompok dan Permainan Kelompok dalam Konseling Kelompok
1.    Dinamika Kelompok
a.    Pengertian dinamika kelompok
Menurut Slamet Santosa (2004), dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis jelas antar anggotanya yang satu dengan yang lainnya.
Menurut Prayitno (1995), dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua factor yang ada dalam kelompok artinya merupakan pengerah secara serentak semua factor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu, dengan demikian dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi kelompok.
Menurut Winkel, dinamika kelompok adalah studi tentang kekuatan-kekuatan sosial dalam suatu kelompok yang memperlancar atau menghambat proses kerjasama dalam kelompok, segala metode, sarana danteknik yang dapat diterapkan bila sejumlah orang bekerjasama dalam kelompok misalakan berpeeran, observasi terhadap jalannya proses kelompok dan pemberian umpan balik serta prosedur menangani organisasi dan pengelolaan suatu kelompok.
Menurut Mungin (2005: 61), dinamika kelompok adalah studi yang menggambarkan berbagai kekuatan yang menentukan perilaku anggota dan perilaku kelompok yang menyebabkan terjadinya gerak perubahan dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang telah di tetapkan.
Jadi  dinamika kelompok merupakan interaksi dan interdepensi antar anggota kelompok yang satu dengan yang lain kekuatan-kekuatan sosial yang membentuk sinergi dari semua faktor yang ada di dalam kelompok yang menyebabkan adanya suatu gerak perubahan dan umpan balik antara anggota dengan kelompok secara keseluruhan.
b.    Fungsi dinamika kelompok
Fungsi dari dinamika di dalam keompok  antara lain:
1)    Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup.
2)    Memudahkan segala pekerjaan.
3)    Mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih efektif, cepat dan efisien.
4)    Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat
Dalam dinamika kelompok untuk mengetahui fungsinya perlu di mengerti pula tanda-tanda Dinamika kelompok sudah terbentuk.
Menurut Mungin (2005: 63), konseling kelompok memanfaatkan dinamiuka kelompok sebagai upaya untuk membimbing anggota kelompok untuk mencapai tujuan. Media dinamika kelompok ini, unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang memiliki cirri-ciri dinamis, bergerak dan aktif berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan.
Menurut Glading dalam Mungin (2005: 62), dinamika kelompok dapat digambarkan dengan kekuatan-kekuatan yang muncul dalan suatu kelompok. Kekuatan-kekuatan itu bias tampak jelas atau mungkin tersembunyi seperti bagaimana para anggota kelompok merasakan diri mereka sendiri, saling merasakan satu sama lain, dan merasakan pemimpin kelompok mereka, bagaimana mereka berbicara satu sama lain, dan bagaimana pemimpin kelompok mereaksi para anggota.
Selanjutnya menurut Mungin (2005: 69) dinamika kelompok benar-benar terwujud dalam kelompok dapat dilihat dari:
1)    Anggota kelompok dapat membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
2)    Anggota kelompok mampu mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
3)    Anggota kelompok dapat membantu tercapainya tujuan bersama.
4)    Anggota kelompok dapat mematuhi aturan kelompok dengan baik.
5)    Anggota kelompok benar-benar aktif dalam seluruh kegiatan kelompok.
6)    Anggota kelompok dapat berkomunikasi secara terbuka.
7)    Anggota kelompok dapat membantu orang lain.
8)    Anggota kelompok dapat member kesempatan kepada anggota lain untuk menjalankan perannya.
9)    Anggota kelompok dapat menyadari pentingnya kegiatan kelompok.
c.    Peranan dinamika kelompok dalam konseling kelompok
Secara khusus, dinamika kelompok berperan dalam memecahan  masalah pribadi para anggota kelompok yaitu apabila interaksi dalam kelompok difokuskan pada pemecahan masalah pribadi yang  dibahas. Dinamika kelompok juga berperan dalam menumbuhkan kehangatan dalam kelompok sehingga semua nggota kelompok dapat berperan aktif menyumbangkan pendapat atau pemikiranya.
d.    Permainan Kelompok
Salah satu kegiatan untuk menimbulkan dinamika dalam kelompok adalah adanya permaianan.
a.    Syarat permainan kelompok:
1)    Memberikan dinamika didalam kelompok.
2)    Mampu mengintegrasikan kembali suasana kelompok.
3)    Memberikan keakraban antar anggota kelompok yang mulanya belum mengenal satu sama lain.
4)    Mudah dipahami.
b.    Fungsi permainan kelompok:
1)    Memberikan penyegaran pikiran kembali setelah serius melakukan kegiatan.
2)    Membentuk dinamika kelompok.
3)    Menambah keakraban anggota kelompok.

G.    Pemimpin Kelompok dalam Konseling Kelompok
1.    Syarat Pemimpin Kelompok
Menurut Mungin Eddy W ( 2005:118), ada beberapa syarat menjadi pemimpin kelompok yaitu:
a.    Kehadiran, pemimpin kelompok bisa hadir secara emosional pada penggalaman orang lain.
b.    Kekuatan pribadi,meliputi kepercayaan diri dan kesadaran akan pengaruh sesorang kepada orang lain.
c.    Keberanian, pemimpin kelompok yang efektif harus sadar bahea mereka perlu menunjukan keberanian dalam interaksi dengan anggotanya.
d.    Kemauan untuk mengkonfrontasi diri sendiri,menunjukan keberanian bukan hanya pada cara- cara berhubungan dengan kelompok tetapi dengan berhubungan dengan diri mereka sendiri juga.
e.    Kesadaran diri, berbarengan dengan hal menghadapi diri sendiri. Ciri esensial dari kepemimpinan efektif adalah kesadaran akan diri sendiri, akan kebutuhan dan motivasi–motivasi seseorang,akan konflik atau masalah–masalah pribadi,akan bertahanan dan titik kelemahan,akan bidang usaha–usaha yang belum selesai.
f.    Kesungguhan/ketulusan, minat yang tulus dan sungguh–sungguh pada kesejahteraan orang lain dan kemampuan untuk berkembang secara konstruktif.
g.    Keaslian (authenticity), pemimpin menjadi sesorang yang asli,nyata atau rill,kongruen dan jujur.
h.    Mengerti identitas, bila akan menolong orang lain,pemimpin kelompok perlu memiliki pengertian yang jelas tentang identitas diri mereka sendiri.
i.    Keyakinan/kepercyaan dalam proses kelompok, merupakan esensi keberhasilan dari proses kelompok.
j.    Kegairahan (antusiasme).
k.    Daya cipta dan kreatif.
l.    Daya tahan (stamina).
Menurut Trait Theories of Leadership di dalam buku Dinamika Kelompok karangan Slamet Santosa menyebutkan ciri seseorang dapat dikatakan pemimpin adalah:
a.    Intelegensi bahwa pemimpin memiliki intelegensi lebih dari yang lain.
b.    Kematangan sosial dan pengetahuan luas.
c.    Memiliki motivasi sendiri dan dorongan berprestasi.
d.    Sikap untuk meyakini hubungan dengan orang lain.
2.    Tugas dan Peranan Pemimpin Kelompok
Menurut Munggin (2005: 107-105), tugas dari pemimpin kelompok adalah:
a.    Membuat dan Mempertahankan Kelompok. Pemimpin mempunyai tugas untuk membentuk dan mempertahankan kelompok. Melalui wawancara awal dengan calon anggota dan melalui seleksi yang baik, pemimpin kelompok membentuk konseling.
b.    Membentuk budaya. Setelah kelompok terbentuk, pemimpin kelompok mengupayakan agar kelompok menjadi sistem sosial yang terapeutik kemudian dicoba menumbuhkan norma–norma yang dipakai sebagai pedoman interaksi kelompok.
c.    Membentuk norma–norma. Norma–norma di dalam kelompok dibentuk berdasarkan harapan anggota kelompok terhadap kelompok dan pengaruh langsung maupun tidak langsung dari pemimpin dan anggota yang lebih pengaruh.
Menurut Prayitno peran pemimpin kelompok adalah:
a.    Pembentukan kelompok dari sekumpulan (calon) peserta.
b.    Penstrukturan, yaitu membahas bersama anggota kelompok apa, mengapa dan bagaimana layanan konseling kelompok dilaksanakan.
c.    Pertahapan kegiatan konseling kelompok.
d.    Penilain segera (laiseg) hasil layana konseling kelompok.
e.    Tindak lanjut layanan konseling kelompok.
3.    Keterampilan yang Harus Dimiliki Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok harus menguasai dan mengembangkan kemampuan atau ketrampilan dan sikap  untuk terselenggaranya kegiatan kelompok. Ketrampilan dan sikap yang perlu dimiliki menurut Mungin (2005:123 - 130 ) meliputi:
a.    Aktif mendengar
b.    Refleksi
c.    Menguraikan dan menjelaskan pertanyaan
d.    Meringkas
e.    Penjelasan singkat dan pemberian informasi
f.    Mendorong dan mendukung
g.    Pengaturan nada suara
h.    Pemberian model dan penyiapan diri.
i.    Penggunaan mata

H.    Hasil Perubahan Anggota Kelompok
Hasil yang diharapkan pada kelompok yaitu dengan anggota memperoleh pemahaman baru dari kegiatan konseling kelompok. Juga terentaskannya masalah anggota dalam kelompok dalam kegiatan koseling kelompok. Anggota dapat terbuka dalam mengungkapkan pendapat, saran, ataupun masalah. Terciptanya hubungan yang hangat/terciptanya dinamika dalam kelompok.

BAB III
PROSES LAYANAN KONSELING KELOMPOK

A.    Pra layanan Konseling Kelompok
1.    Persiapan Konselor/Praktikan
a.    Persiapan Akademik
Persiapan akademik adalah persiapan secara akademik yang dilakukan oleh praktikan sebelum melaksanakan praktek konseling kelompok agar mendapatkan pemahaman total tentang konsep konseling kelompok. Yang termasuk dalam persiapan akademik diantaranya:
1)    Mempelajari konsep tentang konseling kelompok yang didapat dari perkuliahan maupun secara mandiri.
2)    Mempelajari keterampilan dan sikap apa saja yan perlu dimiliki oleh praktikan ketika melaksanakan praktik konseling kelompok.
b.    Persiapan Fisik
Persiapan fisik adalah persiapan yang dilakukan secara fisik atau jasmaniah oleh seorang praktikan sebelum melaksanakan praktek konseling kelompok yang berguna untuk menunjang kelayakan dan kesopanan praktikan. Yang termasuk dalam persiapan fisik diantaranya:
1)    Menjaga kesehatan badan dengan berolahraga agar ketika melaksanakan praktik menjadi lancer dan rileks.
2)    Menjaga pola makan sehari-hari.
3)    Memakai pakaian formal yang layak untuk tampil praktik di kelas.
c.    Persiapan Mental
Persiapan mental adalah persiapan yang dilakukan secara mental yang oleh seorang praktikan guna menunjang ketenangan dan kejernihan pikiran ketika melaksanakan praktik konseling kelompok. Yang termasuk dalam persiapan mental diantaranya:
1)    Berdoa agar perasaan dan pikiran menjadi tenang.
2)    Percaya pada kemampuan diri sendiri.
d.    Persiapan Administratif
Persiapan administratif adalah persiapan yang dilakukan guna memenuhi kelengkapan administrasi ketika praktik konseling kelompok dilaksanakan. Yang termasuk dalam persiapan administrasi diantaranya:
1)    Menyiapkan lembar penilaian laiseg (penilaian segera) untuk anggota kelompok.
2)    Menyiapkan lembar observasi bagi observer serta.
2.    Sistem Rekrutmen Anggota
Pada pelaksanaan praktik konseling kelompok kali ini, sistem rekruitmen anggota kelompok konseling yaitu dengan cara berhitung. Sebelumnya, praktikan sudah diberi tawaran dan kesempatan untuk diperbolehkan menggunakan mahasiswa semester satu untuk dijadikan sebagai anggota kelompok oleh dosen pembimbing. Pada salah satu rombel di semester satu, mahasiswa satu kelas disuruh berhitung antara satu sampai lima dengan kesepakatan bahwa mahasiswa yang mendapat hitungan angka satu akan menjadi anggota kelompok praktikan. Sedangkan mahasiswa lain yang mendapat hitungan dua sampai lima akan menjadi anggota kelompok praktikan lain sesuai kesepakatan. Praktikan mendapatkan tuju orang anggota kelompok yang terdiri dari satu orang laki-laki dan enam orang perempuan.

B.    Proses Konseling Kelompok
1.    Deskripsi Tahap Konseling Kelompok
Setelah semua rencana disiapkaan dan kelengkapan sarana serta prasarana dipastikan siap, kegiatan praktik konseling kelompok dilaksanakan sesuai waktu dan tempat yang telah ditentukan, yaitu pada hari selasa tanggal 15 November 2011, jam 07.00 – 09.00 WIB, dan bertempat di gedung perkuliahan A1-302 Fakultas Ilmu Pendidikan. Kegiatan ini diikuti oleh tujuh orang anggota dan dua orang observer. Kegiatan konseling kelompok ini meliputi empat tahap, yaitu:
a.    Tahap I (tahap pembentukan)
Pada tahap pertama ini praktikan mengucapkan salam kepada semua anggota dan memimpin doa bersama agar kegiatan yang akan dilaksanakan berjalan dengan lancar. Setelah itu praktikan memberikan ucapan terima kasih kepada semua anggota kelompok atas kesediaannya mengikuti kegiatan konseling kelompok. Untuk lebih mengakrabkan anggota kelompok, selanjutnya praktikan mengadakan perkenalan masing-masing anggota dan juga praktikan tidak lupa ikut memperkenalkan diri. Perkenalan dilakukan dengan menyebutkan nama lengkap, jurusan, semester, dan hobi masing-masing. Praktikan lalu bertanya kepada anggota apakah mereka sudah pernah ada yang mengikuti kegiatan konseling kelompok ini sebelumnya. Karena sebagian besar anggota belum pernah ada yang mengikuti, lalu praktikan menjelaskan tentang pengertian, tujuan, asa-asas, dan cara pelaksanaan konseling kelompok.
Sebagai syarat utama dalam pelaksanaan praktik konseling kelompok, praktikan tidak lupa untuk mengucapkan janji kerahasiaan bersama-sama dengan semua anggota kelompok. Setelah itu, praktikan mendiskusikan bersama-sama dengan semua anggota tentang kesepakatan lama waktu dalam menjalankan konseling kelompok. Langkah berikutnya, untuk lebih mengakrabkan anggota satu sama lain dan untuk mencairkan suasana, praktikan mengadakan suatu permainan yang bernama “fruits basket”.  Permainan ini dimainkan dengan cara mengambil dua kursi dari kursi yang diduduki anggota, sehingga tersisa enam kursi. Praktikan dan anggota kelompok berada di luar lingkaran kursi yang berjumlah enam tadi. Setelah itu anggota disuruh menyebutkan nama buah yang berawalan dengan huruf yang praktikan sebutkan. Lalu anggota akan menunjuk jari terlebih dahulu sebelum menjawab dan duduk di lingkaran kursi. Karena jumlah bangku hanya ada enam, maka satu anggota yang kalah cepat dalam menjawab tidak kebagian kursi. Peserta yang tidak kebagian kursi ini dipersilahkan untuk menunjukkan kebolehannya didepan anggota yang lainnya.
b.    Tahap II (tahap peralihan)
Tahap peralihan dimasuki setelah melihat kondisi semua anggota sudah terlihat mulai akrab dan semangat, yang ditandai dengan tawa canda para anggota. Kemudian praktikan menanyakan kepada semua anggota kelompok mengenai keseapan mereka dalam mengikuti kegiatan konseling kelompok. Setelah anggota mengungkapkan bahwa mereka siap, praktikan lalu menjelaskan kembali tentang pengertian, tujuan, asas-asas, dan cara pelaksanaan konseling kelompok. Praktikan juga menjelaskan tentang batasan masalah yang akan dibahas dalam kegiatan konseling kelompok, yaitu terbatas pada masalah pribadi masing-masing anggota. Kemudian praktikan mencoba mengenali bagaimana suasana para anggota kelompok dengan memperhatikan ekspresi wajah tiap-tiap anggota untuk menuju ke tahap berikutnya.
c.    Tahap III (tahap kegiatan)
Setelah melihat kesiapan anggota kelompok untuk memasuki tahap kegiatan, praktikan segera memasuki tahap kegiatan. Yang pertama dilakukan adalah praktikan memberikan kesempatan kepada para anggota kelompok untuk mengungkapkan masalahnya masing-masing. Pada awalnya, para anggota masih diam saja, belum ada yang mau sukarela dan terbuka untuk mengungkapkan masalah pribadinya. Tetapi kemudian ada salah satu anggota yang mau mengawali mengungkapkan masalah pribadinya. Setelah itu dilanjutkan dengan anggota yang lain secara bergantian.
Setelah terungkap beberapa masalah yang dikemukakan oleh masing-masing anggota kelompok, kemudian praktikan menawarkan kepada semua anggota kelompok masalah mana yang akan dibahas terlebih dahulu. Berdasarkan atas kesepakatan semua anggota kelompok, akhirnya dipilih masalah yang dialami oleh  SNA. Praktikan menanyakan kepada SNA, apakah ia setuju bila masalahnya yang akan dibahas dalam kegiatan konseling kelompok kali ini, dan SNA menyetujuinya. Masalah yang dialami oleh SNA adalah masalah mengenai hubungan yang kurang begitu harmonis dengan ibu tirinya. Lebih lanjut SNA menceritakan bahwa hal ini bermula ketika SNA masih duduk di bangku SMP, pada saat itu orang tua SNA bercerai dikarenakan suatu hal. Pada suatu hari ayah SNA meminta ijin kepada SNA untuk menikah lagi. Pada saat itu SNA menyetujui ayahnya yang akan menikah lagi. Setelah itu SNA ikut tinggal dengan ayahnya dan juga bersama ibu tirinya. SNA mengaku ia jarang sekali berkomunikasi dengan ibu tirinya sehingga hubungannya dengan ibu tirinya kurang harmonis. Hal ini berlanjut hingga SNA mulai memasuki bangku SMA. Ketika SNA memasuki dunia perkuliahan, hubungan keduanya juga masih buruk. SNA mengatakan bahwa ibu tirinya kurang perhatian dengan SNA. Menurut pandangan SNA, ibu tirinya lama-lama menjadi menyebalkan dan hal tersebut membuat SNA tidak betah berada di rumah.
Setelah SNA menceritakan masalah yang sedang dialaminya, lalu praktikan mengungkapkan masalah tersebut secara singkat kepada semua anggota kelompok dan meminta para anggota kelompok untuk berpendapat, bertanya, ataupun memberikan solusi pemecahan masalah terkait masalah yang sedang dialami oleh SNA. Anggota terlihat antusias untuk membantu SNA menyelesaikan masalahnya, hal ini terlihat dari anggota aktif bertanya lebih dalam tentang masalahnya juga memberikan beberapa alternatif solusi pemecahan masalah untuk SNA. Pada tahapan ini, dinamika antar anggota kelompok sudah mulai terbentuk dan terlihat. Beberapa point alternatif solusi yang ditawarkan oleh anggota diantaranya:
1)    Mencoba aktif menjalin komunikasi dengan ibu tiri.
2)    Mencoba menyapa ibu tiri dengan ramah.
3)    Secara berkala mengirim pesan singkat kepada ibu tiri.
4)    Menelepon ibu tiri.
5)    Mencoba mengobrol untuk lebih mengakrabkan diri kepada ibu tiri.
Berdasarkan poin-poin solusi tersebut, lalu praktikan meminta pendapat SNA. kemudian, hal terakhir yang dilakukan praktikan adalah memberi kesimpulan dari pembahasan masalah yang telah dibahas. Praktikan menyimpulkan tentang masalah yang sedang dihadapi SNA, lalu disimpulkan pula secara singkat beberapa alternatif solusi pemecahan masalahnya.
d.    Tahap IV (tahap pengakhiran)
Tahap pengakhiran dimasuki ketika praktikan menjelaskan kepada semua anggota kelompok bahwa kegiatan konseling kelompok akan segera diakhiri. Praktikan juga menanyakan kepada anggota kelompok tentang harapan-harapan yang mereka miliki terkait dengan kegiatan konseling kelompok. Setelah semua anggota kelompok mengungkapkan harapannnya, praktikan mencoba menawarkan kepada semua anggota kelompok apabila diadakan kegiatab konseling kelompok di lain waktu. Ternyata respon anggota kelompok sangat positif dan merasa senang bila diadakan kegiatan konseling kelompok lagi.
Praktikan mengakhiri kegiatan konseling kelompok dengan memimpin doa atas lancarnya kegiatan yang dilakukan juga mengucapkan terima kasih kepada semua anggota kelompok. Untuk melihat progres yang ada pada diri masing-masing anggota, praktikan memberikan laiseg untuk diisi. Tahap ini ditutup dengan perpisahan dengan anggota kelompok dan mengucapkan terima kasih.
2.    Upaya Mnumbuhkan Dinamika Kelompok
Upaya yang dilakukan oleh praktikan untuk menumbuhkan dinamika kelompok antar anggota adalah dengan menggunakan permainan “fruits basket” yang dilakukan pada akhir tahap pembentukan. Pada permainan ini, anggota diharuskan beranjak dari tempat duduknya untuk memindah-mindah kursi dan berdiri di belakang kursi untuk mulai bermain. Pada kegiatan tersebut, para anggota menggerakkan badan tapi tetap menguji kecepatan berfikir dan merasa juga tetap merasa rileks. Hal ini diharapkan bisa mengurangi kebosanan yang terjadi pada anggota karena berbicara secara serius yang cukup lama. Permainan ini mengharuskan anggota untuk bergerak, sehingga diharapkan isa mencairkan suasana diantara para anggota kelompok. Selain dengan permainan, praktikan mencoba menumbuhkan dinamika kelompok anggota dengan menyelipkan sedikit humor ketika berbicara agar suasana tidak trlalu kaku.

3.    Masalah yang Dikemukakan Anggota Kelompok
Diantara masalah yang dikemukakan oleh anggota kelompok yaitu:
a.    Kekurangharmonisan hubungan antara anak dengan ibu tirinya.
b.    Pertentangan memilih perguruan tinggi dengan keluarga.
c.    Kurang bisa mengungkapkan perasaan sendiri kepada orang lain.
d.    Ketidaksukaan anak atas perselingkuhan ayahnya.
4.    Cara Menentukan Masalah Untuk Dibahas
Cara menetapkan masalah mana yang akan dibahas dalam kegiatan konseling kelompok adalah dengan menggunakan voting. Setelah semua anggota kelompok mengungkapkan masalah pribadinya masing-masing, lalu praktikan menanyakan kepada semua anggota kelompok masalah mana yang akan dibahas. Masalah yang akan dibahas secara tuntas selanjutnya diputuskan berdasarkan suara terbanyak dan persetujuan bersama. Tidak lupa praktikan juga menanyakan persetujuan kepada anggota kelompok yang masalahnya akan dibahas. Setelah mendapatkan persetujuan, barulah masalah tersebut dibahas secara tuntas.

BAB IV
PENGEMBANGAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK

A.    Kendala yang Dihadapi dan Usaha Mengatasinya
Dalam pelaksanaan praktik kegiatan konseling kelompok ada beberapa kendala yang muncul. Kendala yang muncul disebabkan sesuatu yang tak terduga. Beberapa kendala yang muncul dan cara praktukan mengatasinya diantaranya:
1.    Terlalu bisingnya ruang kelas yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan konseling kelompok. Hal ini terjadi karena dalam satu ruang kelas yang digunakan untuk praktik oleh empat orang praktikan sekaligus, sehingga suara-suara dari kelompok konseling yang lain saling bertabrakan menyebabkan kebisingan dan suara praktikan jadi kurang jelas didengar oleh anggota kelompok. Cara praktikan mengatasi hal tersebut adalah dengan cara memperbesar volume suara praktikan sendiri agar suara praktikan dapat didengar jelas oleh para anggota kelompok, juga agar perhatian anggota kelompok tidak tertuju kepada kelompok konseling yang lain.
2.    Ada beberapa anggota kelompok yang pasif ketika kegiatan berlangsung. Sekiranya ada dua anggota kelompok yang selalu terlihat pasif, mereka tidak mau mengungkapkan pendapatnya dan hanya diam saja. Cara praktikan mengatasinya adalah dengan memberi perhatian lebih kepada keduanya. Mencoba bertanya tentang pendapat merekatentang  masalah yang sedang dibahas dalam kegiatan kelompok kepada keduanya. Hal ini dilakukan agar semua anggota dalam kelompok bisa lebih komunikatif.
3.    Ketika sudah sampai pada batas waktu yang ditentukan, kegiatan konseling kelompok belum selesai. Karena waktu yang digunakan untuk membahas masalah dan untuk permainan cukup lama, mengakibatkan ketika jam sudah mau selesai, kegiatan belum selesai. Cara prakrikan mengatasi hal tersebut adalah dengan meniadakan beberapa kegiatan dalam tahap pengakhiran konseling kelompok, yaitu kegiatan pengungkapan pesan dan kesan oleh anggota kelompok serta ketika anggota mau meninggalkan ruangan, tidak ada acara perpisahan yang formil (berjabat tangan).
4.    Ada salah satu anggota kelompok yang “caper” dan ketika disuruh menunjukkan kebolehan malah mengemukakan banyak alasan. Karena salah satu anggota ini kebanyakan alasan untuk menolak menunjukkan kebolehannya sehingga pada tahap permainan memakan cukup banyak waktu. Cara praktikan mengatasi adalah dengan berusaha menegur, mendorong dan membujuknya agar dia mau menunjukkan kebolehannya dan kegiatan yang selanjutnya bisa segera dilaksanakan.
5.    Kendala dari segi internal praktikan sendiri diantaranya, praktikan masih merasa gugup ketika memberikan layanan konseling kelompok, olah vokal dirasa masih kurang, bahasa yang digunakan masih bercampur dengan bahasa daerah, masih gugup ketika berbicara di depan orang banyak, kelancaran dalam berbicara masih kurang, dan perasaan grogi masih menempel saat pelaksanaan praktik. Usaha praktikan utuk mengatasi beberapa hal tersebut adalah dengan cara percaya pada kemampuan diri sendiri dan meyakinkan diri bahwa praktikan pasti bisa menlaksanakan praktik konseling kelompok ini hingga selesai.
6.    Kendala yang lain yaitu bahwa ketika pelaksanaan praktik konseling kelompok, praktikan selalu ingin tertawa ketika berbicara di depan kelompok. Usaha praktikan untuk mengatasinya adalah dengan cara menekan perasaan ingin tertawa tersebut dan terkadang mengubah tertawa menjadi senyum biasa.

B.    Diskusi Profesional di Kelas
Ketika kegiatan praktik konseling kelompok selesai, praktikan mendiskusikan beberapa hal dengan teman sejawat terkait pelaksanaan praktik konseling kelompok. Beberapa hal yang dibahas dalam diskusi diantaranya:
1.    Membahas tentang perasaann yang dirasakan ketika melaksanakan praktik konseling kelompok untuk yang pertama kalinya dan dengan konseli yang sungguhan.
2.    Membahas tentang kegiatan-kegiatan pada tahap-tahap tertentu pada praktik konseling kelompok. Pada praktiknya ternyata banyak praktikan yang lupa tidak melaksanakan kegiatan tertentu. Hal ini terjadi karena perasaan grogi yang dialami oleh masing-masing praktikan.
3.    Membahas tentang pentingnya simulasi konseling kelompok terlebih dahulu dengan teman sejawat yang lainnya. Hal ini dikira dapat memberikan para praktikan konseling kelompok gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana kegiatan konseling kelompok sesungguhnya berlangsung. Juga untuk persiapan yang lebih matang.
4.    Membahas tentang berbagai macam karakter anggota kelompok yang menjadi anggota dalam kegiatan konseling kelompok masing-masing praktikan. Hal ini berhubungan dengan derajat keaktifan masing-masing anggota kelompok dan dinamika kelompok yang ada pada kelompok tersebut.
5.    Membahas tentang setting ruangan yang dipakai dalam praktik konseling kelompok. Berkaitan dengan pada ruang satu kelas yang dipakai untuk empat praktikan sekaligus sehingga tidak efektif.
6.    Membahas tentang permainan yang digunakan dalam praktik konseling kelompok. Hal ini berkaitan dengan memilih permainan yang seperti apa yang paling cocok untuk mencairkan suasana dalam situasi kelompok kecil.


BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari semua tahapan atau proses kegiatan konseling kelompok yang telah dilaksanakan, dapat diambilkesimpulan bahwa:
1.    Masalah yang dibahas dalam konsleing kelompok adalah masalah tentang ketidakharmonisan hubungan antara anak dan ibu tirinya.
2.    Praktikan sudah dapat melaksanakan semua tahap yang ada dalam kegiatan konseling kelompok dengan cukup baik.
3.    Beberapa kekurangan dirasa akibat pengalaman praktik yang dilakukan oleh praktikan masih sedikit. Juga dikarenakan bahwa konseling kelompok tersebut baru dilaksanakan untuk pertama kali, sehingga menjadi pengalaman dan referensi tersendiri untuk praktikan.
4.    Praktik konseling kelompok ini membuat kemampuan praktikan menjadi lebih terasah. Hal ini bisa disimpulkan dari bagaimana praktikan menguasai diri dari rasa grogi dan bagaimana praktikan mengelola kelompok yang terdiri dari kepribadian yang berbeda dari masing-masing individu. Hal tersebut dirasa sebagai beban namun sekaligus juga mengasah diri untuk menjadi lebih baik sebagai bekal untuk terjun ke lapangan sesungguhnya kelak.

B.    Saran
Saran yang terbentuk dari diri praktikan adalah bila mengadakan suatu kegiatan konseling kelompok akan lebih baik bila di lakukan ditempat yang sepi atau diruangan tertentu yang memadai yang jauh dari keramaian. Selanjutnya adalah agar lebih menambah latihan yang dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri dan belajar menguasai keadaan yang tidak terencana, sedangkan keadaan menuntuk untuk selalu tampil prima. Profesionalitas seorang konselor harus terjaga dihadapan konseli maupun dihadapan stake holder agar pengakuan sehat dari masyarakat dapat terangkat.

C.    Evaluasi Diri
Pada hari saat diumumkan oleh dosen pembimbing bahwa mulai minggu ke tiga bulam November akan diadakan konseling kelompok sungguhan, yaitu konseling kelompok yang dilakukan bersama konseli, praktikan sempat merasa nervous. Kenervousan ini bertambah ketika diputuskan bahwa praktikan adalah salah satu dari beberapa praktikan lain yang akan praktik di minggu berikutnya. Hal ini menyebabkann mau tidak mau praktikan mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar pada kegiatan praktik nanti bisa berjalan dengan lancar. Beberapa persiapan yang dilakukan yaitu, memperdalam konsep tentang konseling kelompok dan menyiapkan mental dengan baik.
Ketika hari praktik tiba, praktikan merasa gugup, nervous, agak cemas, dan deg-degan. Sampai pada kegiatan pembagian kelompok, dan ketika praktikan sedah duduk diantara anggota kelompok yang sudah ditetapkan, praktikan masih merasakan adanya perasaan grogi dan kurang percaya diri, namun praktikan meyakinkan pada diri sendiri bahwa praktik kali ini adalah kesempatan yang langka dan akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk di lapangan kelak. Oleh kare itu, praktikan mau tidak mau harus melawan perasaan grogi dan memulai kegiatan praktik.
Pada saat praktik konseling kelompok telah berlangsung, terkadang praktikan merasa bingung untuk menghadapi beberapa anggota kelompok yang kurang aktif berbicara. Karena meskipun sudah beberapa kali didorong untuk berbicara pun mereka masih tetap bersikap pasif. Kemudian pada saat kegiatan penunjukan kebolehan oleh salah satu anggota kelompok, praktikan juga kebingungan dengan tingkah salah satu anggota  kelompok yang berkesempatan menunjukkan kebolehannya. Hal ini dikarenakan karena anak tersebut bersi keras dan ngeyel tidak mau menunjukkan kebolehannya. Meskipun praktikann sudah berkali-kali membujuknya agar mau menunjukkan kebolehannya karena itu sudah merupakan kesepakatan bersama.
Pada saat tahap menjelaskan batasan masalah, praktikan mengaku belum terlalu detail menjelaskan bahwa pada tahap anggota kelompok mengungkapkan masalah, yang di ungkapkan terlebih dahulu adalah garis besar masalahnya dahulu, baru kemudian setelah diputuskan masalah siapa yang akan dibahas, diceritakan masalah tersebut secara panjang lebar. Sehingga ketika disuruh mengungkapkan masalah pribadinya masing-masing, mereka langsung secara panjang lebar menjelaskan masalahnya secara detail, sehingga menyebabkan memakan banyak sekali waktu. Pada saat itu, praktikan ingin memotong cerita anggota, namun karena anggota yang bercerita terlihat begitu antusias dan serius ketika mennceritakan masalahnya, praktikan membiarkan anggota kelompok bercerita sampai selesai. Hal ini memberikan pelajaran bagi praktikan untuk kegiatan praktik konseling kelompok yang akan datang.
Ketika tahap pembahasan masalah, praktikan merasa bingung dengan sikap seperti apa yang harus dilakukan disana. Praktikan bingung apakah ia harus aktif berbicara dan ikut mencarikan solusi untuk pemecahan masalah, atau praktikan hanya mengarahkan anggota untuk mereka aktif membahas dan mencarikan solusi pemecahan masalah untuk teman mereka yang masalahnya sedang dibahas. Karena kebingungan tersebut, praktikan mengaku menjadi lebih banyak diam. pada tahap ini praktikan juga merasa kurang bisa mengontrol para anggota konseling kelompok. hal semacam ini juga dirasa memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga untuk praktikan sendiri.
Berdasarkan pengalaman ketika lamanya waktu yang terpakai untuk membujuk anggota untuk unjuk kebolehan dan lamanya waktu yang digunakan untuk pengungkapan masalah masing-masing anggota kelompok, disini praktikan belajar untuk lebih memperhatikan penggunaan waktu yang ada agar semua tehapan konseling kelompok bisa terjalani semua dan agar kegiatan konseling kelompok berjalan dengan efektif.
Pengalaman dan pelajaran yang praktikan peroleh diantaranya bisa mengetahui dan menjalani sendiri bagaimana proses konseling kelompok berlangsung, mempraktikkan operasional prosedur pelaksanaan konseling kelompok, mendapat pengalaman mengetahui suasana kelompok konseling, pengalaman berbicara didepan kelompok, melatih kepercayaan diri, melatih kepemimpinan, melatih kelancaran berbicara di depan umum, melatih mengontrol emosi, bisa mengetahui bagaimana seorang konselor ketika memberikan layanan konseling kelompok, dan memberikan pengalaman untuk menjadi seorang pembimbing yang lebih baik ketika sudah terjun di lapangan kelak.
Pada kegiatan konseling kelompok kali ini, praktikan juga mengalami beberapa kemajuan pada aspek tertentu, diantaranya:
1.    Sudah lebih tegas sebagai pemimpin kelompok.
2.    Sudah sedikit lebih luwes sebagai pemimpin kelompok.
3.    Sudah mampu menjadi pendengar yang baik.
4.    Sudah mampu memberikan penjelasan singkat dan pemberian informasi.
5.    Sudah labih bisa meringkas pernyataan dari anggota kelompok.
6.    Sudah lebih bisa memperhatikan semua anggota kelompok secara merata.
Selain mengalami beberapa kemajuan, praktikan juga masih mempunyai beberapa kelemahan diri ketika menjadi pemimpin kelompok dalam konseling kelompok, diantaranya:
1.    Masih cenderung terhanyut dengan keadaan ketika pembahasan masalah.
2.    Kurang mengarahkan jalannya konseling kelompok pada tahap pembahasan masalah.
3.    Masih belum sepenuhnya bisa mengontrol anggota kelompok.
4.    Masih merasa gugup dan grogi ketika memberikan layanan konseling kelompok.
5.    Pengatuan olah vokal dan nada suara dirasa masih kurang.
6.    Bahasa yang digunakan masih bercampur dengan bahasa daerah.
7.    Masih kesulitan dalam menguraikan dan menjelaskan pertanyaan.

DAFTAR PUSTAKA
Dewa, Ketut S. 2002. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Eddy, Wibowo Mungin. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: Unnes Press
Mugiarso, Heru dkk. 2007. Bimbingan dan Konseling. Semarang: UPT UNNES PRESS
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: Ghalia Indonesia
Prayitno. 2004. Layanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Ghalia Indonesia
Romlah, Tatik. 2001. Teori dan Praktik Bimbingan Kelompok. Malang: Universitas Negeri Malang
Santosa, Slamet. 2004. Dinamika Kelompok. Jakarta: PT Bumi Aksara
W. S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2004. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi
Miss. 2011. Kerangka Konseptual Bimbingan. On line at http://misscounseling.blogspot.com/2011/09/kerangka-konseptual-bimbingan.html [accessed at 21/12/201]

Senin, 09 Januari 2012

WAWANCARA-KESULITAN BELAJAR SISWA

KESULITAN BELAJAR SISWA

Nama        :
Jenis kelamin    :
Tanggal lahir    :
Alamat        :
No. Telp.    :
Kelas        :
Sekolah    :

kesehatan
1.    Coba ceritakan riwayat kesehatan anda ?
2.    Bagaimana kondisi anda saat ini ?
3.    Adakah keluhan yang saat ini sedang anda rasakan ?
4.    Apabila ada, sejak kapan anda merasakan adanya keluhan yang anda rasakan tersebut ?
5.    Apa yang sudah anda lakukan untuk mengatasi keluhan tersebut ?

Keluarga
1.    Bagaimana suasana di rumah anda ?
2.    Apa yang menjadi ciri khas atau kebiasaan yang selalu ada di rumah anda ?
3.    Berkaitan dengan interaksi antar anggota keluarga, bagaimana interaksi anda dengan kakak, adik, ayah, ibu, kakek, atau dengan nenek barang kali ?
4.    Apa yang anda rasakan terhadap orang tua anda berkaitan dengan bagaimana cara orang tua anda mendidik anda ?
5.    Apakah anda merasa nyaman dengan bagaimana orang tua anda mendidik anda ?
6.    Berdasarkan apa yang anda perhatikan, masih adakah hal-hal yang menurut anda masih anda inginkan ?
7.    Bagaimana perlakuan orang tua anda secara umum terhadap anda dan saudara-saudara anda ?
8.    Apabila anda sedang fokus terhadap belajar, misal besok mau ujian semester, ujian mid-semester, atau ulangan harian, bagaimana perlakuan atau sikap orang tua anda ?

Lingkungan
1.    Apakah rumah anda dekat dengan jalan raya ?
2.    Apakah rumah anda cukup dekat dengan pabrik ?
3.    Bagaimana perkembangan organisasi masyarakat yang ada di lingkungan anda ?
4.    Adakah ketertarikan anda untuk mengikuti organisasi masyarakat tersebut ?
5.    Kebiasaan apa yang dilakukan teman-teman sebaya anda di lingkungan masyarakat anda untuk menghabiskan waktu luang atau senggang ?
6.    Apa yang anda lakukan ketika teman anda mengajak anda bermain di waktu belajar anda ?

Kesehatan kejiwaan, emosi, dan minat, serta hal yang mengganggu pikiran
1.    Apa yang anda pikirkan sekarang ?
2.    Bagaimana perasaan anda jika anda tidak bisa mendapatkan apa yang anda inginkan ?
3.    Apakah anda memiliki suatu ketertarikan tertentu terhadap suatu hal ? musik atau buku misalnya.
4.    Apa yang anda biasanya lakukan saat seorang guru menjelaskan materi pelajaran ?
5.    Apakah anda mengikuti kegiatan ekstra krikuler di sekolah ? jika iya, kegiatan apa yang anda ikuti ?
6.    Apa yang biasanya anda lakukan jika sedang merasa bingung atau sedang tidak nyaman ?
7.    Apakah anda sering melampiaskan perasaan anda terhadap sesuatu yang lain ? bagaimana caranya anda melampiaskan perasaan anda tersebut ?
8.    Adakah hal yang sering mengganggu pikiran anda ? jika ada, hal apakah itu ?
9.    Coba anda deskripsikan bagaimana diri anda sebenarnya menurut apa yang anda rasakan ?
10.    Bisakah anda jelaskan hal-hal apa saja yang membuat anda merasa tertarik atau berminat terhadap sesuatu hal ?

Sekolah
1.    Bagaimana suasana kelas anda saat pelajaran berlangsung ?
2.    Bagaimana kondisi sekolahan anda menurut anda ?
3.    Bisakah anda jelaskan bagaimana perlakuan teman-teman anda kepada anda dan teman-teman yang lain ?
4.    Bagaimana proses belajar mengajar di sekolah menurut anda ? apakah sudah maksimal ? coba jelaskan !
5.    Bagaimana perlakuan guru anda terhadap siswa-siswa saat ia mengajar ?
6.    Apa yang anda lakukan jika seorang guru tidak masuk kelas atau jam kosong ?
7.    Bagaimana fasilitas belajar di sekolah anda ? menurut anda, hal-hal apa saja yang masih kurang mendukung ?
8.    Mata pelajaran apa yang paling anda sukai ? bisa anda jelaskan alasan anda menyukai mata pelajaran  tersebut ?
9.    Mata pelajaran apa yang paling anda tidak sukai ? bisa anda jelaskan alasan anda tidak menyukai mata pelajaran  tersebut ?


Selasa, 07 Juni 2011

MENINGKATKAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI MELALUI KETERAMPILAN MENDENGARKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
Definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan.
Komunikasi antar-pribadi yakni kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dengan orang lainnya. Misalnya percakapan tatap muka, korespondensi, percakapan melalui telepon, dan sebagainya.
Mendengarkan merupakan salah satu unsur  penting dalam tercapainya tujuan komunikasi antar pribadi. Hal ini dapat dinyatakan bahwa kemampuan mendebgarkan dari komunikan sangat mempengaruhi apakah pesan yang disampaikan komunikator sepenuhnya dapat diterima atau tidak. Sedemikian pentingnya kemampuan dan keterampilan mendengarkan telah menarik perhatian Rankin yang mengadakan penelitian dan hasilnya adalah sebagian waktu yang dimiliki oleh orang dewasa digunakan untuk berkomunikasi, dengan porsi terbesar 45% untuk mendengarkan, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan 9% untuk menulis. Peneliti lain seperti Barker dkk seperti yang dikutib oleh Tubb dan Moss menemukan bahwa rata-rata mahasiswa menggunakan 53% dari waktu bangunnya untuk mendengarkan.

B.      Perumusan masalah
Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.       Apa arti penting mendengarkan ?
2.       Apa sifat dasar mendengarkan ?
3.       Apa pengertian mendengarkan ?
4.       Apa fungsi mendengarkan ?
5.       Bagaimana proses mendengarkan ?
6.       Apa sajakah hambatan dalam mendengarkan ?
7.       Bagaimana mendengarkan yang efektif itu ?
8.       Bagaimana upaya agar mendengar secara efektif itu ?
9.   Keterampilan apa saja yang harus kita miliki untuk menjadi pendengar yang baik?

C.      Tujuan
Tujuan penulis menulis makalah tentang pentingnya keterampilan mendengarkan dalam proses komunikasi antar pribadi adalah agar kualitas penyampaian informasi atau berita kepada konseli dalam komunikasi antar pribadi dari konselor menjadi lebih baik lagi.
Di saat kita mendengarkan dengan sebenar-benarnya mendengarkan, kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pertama, kita bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh lawan bicara kita. Dengan demikian, lawan bicara kita mendapatkan apa yang ingin ia dapatkana, yaitu perhatian seksama dari kita. Kita bisa melihat dari kacamata lawan bicara dan mengerti lebih baik lagi mengenai persepsi apa yang dimiliki oleh lawan bicara. Kedua, kita bisa mengendalikan diri sendiri lebih baik lagi. Mendengarkan adalah proses kita “mengalahkan” kecenderungan dan persepsi diri sendiri, dan melepaskan sumbat yang memisahkan diri dari realita. Bahkan, mendengarkan adalah langkah awal kita menundukkan ke-ego-an dan mengenal diri sendiri lebih baik lagi.

D.      Manfaat
Manfaat peranan keterampilan mendengarkan dalam meningkatkan proses komunikasi antar pribadi adalah agar tidak ada kesulitan atau kesalahpahaman saat melakukan komunikasi antar pribadi oleh konselor kepada konseli sehingga proses komunikasi akan menjadi lebih baik.


BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Teori atribusi
Atribusi pada prinsipnya dapat dinyatakan secara singkat sebagai berikut : menurut Heyder jika kita melihat perilaku orang lain, maka kita juga harus melihat apa yang sebenarnya atau apa yang menyebabkan seseorang berperilaku seperti itu. Dengan demikian maka dalam diri kiita juga harus memiliki daya prediksi atau peramalan terhadap perilaku orang lain mengapa orang lain berperilaku seperti itu. Perilaku orang merupakan manifestasi dari sikap mereka terhadap objek tertentu dan ini dapat dipantau dari kecenderungan orang tersebut terhadap sesuatu.
Menurut Kelley perilaku manusia disebabkan oleh factor internal dan factor eksternal atau keduanya secara bersamaan. Untuk menganalisis apakah perilaku orang disebabkan oleh perilaku internal atau eksternal atau malah keduanya digunakan teori atribusi, sehingga atribusi terhadap suatu denomena atau perilkau bias bersifat atribusi internal, atribusi eksternal, atau etribusi internal eksternal.
Kelley menggunakan tiga determinan untuk menentukan apakah atribusi itu internal, eksternal, atau internal eksternal yaitu :
1.   Consensus, yaitu bagaimana seseorang bereaksi bila dibandingkan dengan orang-orang yang lain terhadap stimulus tertentu.
2.   Konsistensi, yaitu bagaimana seseorang bereaksi terhadap stimulus yang sama dalam situasi atai keadaan yang berbeda.
3.   Kekhasan, yaitu bagaiman seseorang bereaksi terhadap stimulus atau situasi yang berbeda-beda.
Teori atribusi juga dapat digunakan untuk menganalisis keberhasilan dan kegagalan seseorang. Menurut Weiner untuk menganalisis keberhasilan atau kegagalan seseorang didasarkan pada dua dimensi, yaitu dimensi locus of control (disebabkan factor internal dan eksternal) dan dimensi stabilitas (disebabkan factor stabil dan tidak stabil).

B.      Hakikat menyimak
Menyimak ialah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya (Sabarti Akhadiah, 1992). Dalam keterampilan menyimak, kemampuan menangkap dan memahami makna pesan baik yang tersurat maupun yang tersirat yang terkandung dalam bunyi, unsur kemampuan mengingat pesan, juga merupakan persyaratan yang harus dipenuhi. Dengan demikian menyimak dapat dibatasi sebagai suatu proses mendengarkan, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan (Anderson dalam H.G. Tarigan, 1987).
Menurut Tarigan (1993:19) menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi, untuk memperoleh informasi menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Sebagai aspek keterampilan berbahasa, mendengarkan merupakan suatu kegiatan yang diperlukan dalam berkomunikasi antaranggota masyarakat. Suatu komunikasi dikatakan berhasil apabila pesan yang disampaikan pembicara dapat dipahami dengan baik oleh pendengar sesuai dengan maksud pembicara tersebut. Dengan demikian mendengarkan merupakan suatu keterampilan berbahasa yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari baik di lingkungan formal maupun informal.










BAB III
PEMBAHASAN

A.      Pentingnya mendengarkan
Akan ada keraguan kecil ketika kita mendengarkan banyak hal. Tanpa sadar kita mendengar radio. Di jalan menuju sekolah kita mendengar teman-teman, orang di sekitar kita, dan mungkin deru mobil-mobil atau derasnya hujan yang turun. Di sekolah, dan kita duduk di kelas kemudian mendengarkan guru, berbicara kepada murid-murid yang lain. Kita mendengarkan teman-teman waktu makan siang atau saat mereka kembali ke kelas untuk mendengarkan guru-guru yang lain. Kita sampai di rumah dan lagi-lagi kita mendengarkan keluluarga kita dan teman-teman. Mungkin kita lalu mendengar kaset, radio, atau televise. Secara umum kita mendengarkan sebagai bagian yang baik dari kesekuruhan hari kita.
Semakin kita mendengarkan banyak hal, semakin tidak bias ditolak. Apakah kita mendengarkan secara efektif dan efisien, sebenarnya itu masalah lain. Pada pelaksanaaa yang sesungguhnya, banyak dari kita adalah pendengar yang relative buruk, dan perilaku pendengaran kita dapat dibuat lebih efektif. Memberikan lebih banyak waktu yang berhubungan dengan mendengarkan, perbaikan kemampuan mendengarkan akan memberikan nilai tambah yang baik. Hal ini tentu saja memerlukan usaha.

B.      Sifat dasar mendengar
Karena mendengarkan sering hanya secara samar-samar dan kadang-kadang tidak dimengrti secara benar, kita perlu menguji secara cepat sifat dasar dari mendengarkan secara spesifik, definisi dari mendengarkan dan jenis-jenis utama kegunaan dari mendengarkan.

C.      Pengertian mendengar
Mendengar adalah proses aktif dari menerima, memproses dan terkait dengan perangsangan, hal-hal yang berhubungan dengan pendengaran. Anggapan popular secara umum, mendengarkan adalah agak lebuh aktif dari proses pasif. Mendengarkan tidak terjadi begitu saja., kita harus membuatnya terjadi. Mendengarkan memerlukan energy dan komitmen untuk terlibat pada kebanyakan waktu yang sulit.
Mendengarkan terikat erat dengan penerimaan rangsangan dan dengan demikian dibedakan dari mendengar sebagai sebuah proses psikologis. Kata menerima digunakan disini untuk menyatakan bahwa rangsangan dapat diterima oleh penerima dan yang akan dipakai untuk sejumlah waktu tanda penerimaan tanda-tanda dan keterikatan.

D.      Fungsi mendengarkan
Mendengarka mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Terdapat tiga jenis umum dari mendengarkan yaitu :
1.   Mendengarkan untuk kesenangan merupakan bagian yang paling menyenangkan dari keseluruhan waktu yang kita gunakan untuk mendengarkan. Misalnya, mendengarkan komedi di televisi atau drama, kita mencoba menahan kemampuan kritis kita sehingga kita menikmati apa yang kita dengarkan dengan rileks dan santai.
2.   Mendengarkan untuk mendapat informasi berarti memperoleh beberapa kemampuan baru atau segala sesuatu yang berhubungan dengan beberapa perilaku yang lebih efektif seperti bagaimana menggunakan computer, membuat kurva, atau mempersiapkan jamuan makan. Pada kesempatan lain kita mendengarkan untuk informasi yang kita gunakan dalam memberikan beberapa macam evaluasi, keputusan, dan kritikan.
3.   Mendengarkan untuk menolong yang dalam hal ini berfungsi mambantu orang lain dalam mengatasi masalah. Misalnya saja kita mendengarkan orang mengadu, mendengarkan persoalan pribadi, atau berusaha untuk membuat keputusan. Mungkin saja kita hanya sekedar mendengarkan atau menjadi pendengar dan hanya bersifat pendukung saja, namun demikian proses ini sudah menjadi upaya untuk menolong orang lain. Kemampuan semacam ini sering disebut dengan istilah katarsis.


E.       Proses mendengarkan
Menurut Goss, mengungkapkan adanya lima tahapan dalam proses mendengarkan, yakni :
1.                         Receiving
Yaitu suatu proses mendengarkan yang telah dimulai sejak diterimanya pesan baik yang berbentuk verbal maupun nonverbal oleh komunikan. Hal ini dapat diupayakan dengan :
a.        Perhatikan dengan penuh konsentrasi pada pesan verbal dan nonverbal.
b.       Minimalkan gangguan yang muncul dengan cara mengabaikan segala sesuatu yang dapat diperkirakan dapat mengganggu konsentrasi kita untuk mendengarkan.
c.        Menfokuskan pada komunikator dari pada apa yang akan kita sampaikan.
d.       Menghindari interupsi pada saat proses mendengarkan karena dapat mengganggu kualitas pendengaran kita.
2.                         Understanding
Pada tahap ini komunikan mencoba untuk mempelajari dan memahami apa yang dimaksud oleh komunikator, termasuk pemikiran yang diutarakan serta emosi yang menyertainya. Ada pun cara yang dapat digunakan untuk memahami dan mempelajari adalah sebagai berikut :
a.        Menghubungkan informasi yang baru diterima dengan apa yang telah komunikan ketahui sebelumnya.
b.       Hindari penilaian sebelum benar-benarmemahami apa yang disampaikan oleh komunikator.
c.        Bertanyalah jika ada kesempatan untuk memperoleh kejelasan, bila perlu minta diberikan contoh yang lebih konkrit.
d.       Menguraikan kembali idea tau gagasan yang disampaikan komunikator dengan bahasa atau symbol yang dipahami komunikan.
3.                         Remembering
Pada hakekatnya mengingat bukan merupakan aktivitas komunikasi yang bersifat reproduksi, melainkan bersifat rekonstruksi. Artinya komunikan membangun pesan yang telah didengarkan sebelumnya dalam suatu system yang dapat dipahami dan dimengerti oleh komunikan. Caranya adalah sebagai berikut :
a.        Mengidentifikasi ide-ide pokok atau utama.
b.       Meringkas dalam format yang sederhana tanpa mengabaikan detail-detail yang penting.
c.        Mengubah konsep-konsep kunci, jika perlu dengan bersuara.
4.                         Evaluating
Meskipun kadang evaluasi terjadi tanpa sadar, namun penting bagi komunikan untuk melakukan evaluasi yang bersifat kritis analitis, sehingga apa yang dievaluasikan merupakan hal yang benar-benar perlu saja. Antara lain dengan cara :
a.        Memahami sudut pandang komunikatoe sebelum berbicara.
b.       Positive thinking terhadap komunikator dan isi pesannya.
c.        Bedakan antara fakta dan kesimpulan, opini serta interpretasi komunikator.
d.       Hindari bias dan prasangka.
5.                         Responding
Respon ini terdiri dari dua fase, yaitu respon yang diberikan saat komunikator berbicara, biasanya merupakan back-channeling cues seperti kata “ya”, atau anggukan kepala, dan lain-lain. Fase yang kedua yaitu respon ini lebih terperinci dan ekspresif. Agar tahapan ini berlangsung baik, cobalah untuk :
a.        Memberikan respon yang bervariasi.
b.       Ekspresikan dan tekankan dukungan pada komunikator pada bagian akhir dari respon.
c.        Jujur dan terbuka, sekalipunmenyatakan ketidaksetujuan pada komunikator.
d.       Komunikan menempatkan dirinya sebagai subjek dari respon, sehingga tidak menyerang atau menilai komunikator sebagai pihak diluar komunikan.

F.       Hambatan dalam mendengarkan
Dalam praktek berkomunikasi biasanya seseorang akan menemui berbagai macam hambatan yang jika tidak dapat ditanggapi dan disikapi secara tepat akan membuat proses komunikasi yang terjadi menjadi sia-sia atau mengalami kegagalan karena pesan tidak tersampaikan atau yang sering terjadi adalah terjadinya penyimpangan. Adapun hal-hal yang sering terjadi adalah karena ketidakmampuan seorang penyampai pesan dalam:
·      Berkomunikasi sesuai tingkatan bahasa para pendengarnya. Seorang pedagang makanan yang hanya lulusan SMP tentunya akan kesulitan mengerti pembicaraan seorang sarjana teknik yang berbicara menggunakan istilah-istilah tekniknya.
·      Mengerti keinginan arah pembicaraan dari para pendengarnya. Sekelompok remaja SMA tentunya wajar jika tidak tertarik pada pembicaraan mengenai permasalahan bagaimana merawat dan mendidik balita yang disampaikan seorang ibu rumah tangga. Mengerti kelas sosial para pendengarnya.
·      Memahami latar belakang serta nilai-nilai yang dipegang teguh para pendengarnya.
Selain hambatan dari sisi konselornya, secara umum hambatan yang sering terjadi dalam proses KAP adalah :
1.   Hambatan dari Proses  Komunikasi
·       Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi  oleh perasaan atau situasi emosional.
·       Hambatan dalam penyandian/symbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti  lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
·       Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
·       Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima.
·       Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada  saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
·       Hambatan dalam memberikan  balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
2.   Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
Contoh : bunyi pengeras suara yang gaung, gambar televisj yang tidak jelas, salah cetak pada surat kabar atau majalah.
3.   Hambatan Semantik
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi  kadang-kadang mempunyai  arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.
Contoh : seorang waiter kesulitan menangkap maksud pembicaraan tamu restaurant karena bahasa yang tidak mengerti.
4.   Hambatan Psikologis  
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim  dan penerima pesan.
Contoh : Jika komunikan sedang sedih, marah atau berprasangka buruk pada komunikator maka akan terjadi miss communicant, salah sasaran komunikasi.


5.   Hambatan Antropologis
Hambatan Antropologis adalah hambatan yang disebabkan oleh perbedaan pada diri manusia.
Contoh : Berupa perbedan budaya, adapt, norma yang berlaku.
6.   Hambatan Ekologis
Hambatan Ekologis adalah hambatan yang disebabkan oleh lingkungan sekitar proses komunikasi tersebut.

G.      Mendengarkan secara efektif
Sesuai dengan konsep bahwa mendengarkan dapat digunakan untuk bermacam-macam keputusan atau kegunaan, maka kemampuan mendengarkan secara efektif sangat diperlukan dalam komunikasi antar pribadi. Terdapat empat dimensi dalam mendengarkan secara efektif, yaitu :
1.       Mendengarkan secara aktif dan pasif
Kunci dari mendengarkan secara efektif pada situasi yang bersifat pribadi adalah partisipasi aktif. Mendengarkan secara aktif merupakan salah satu bentuk partisipasi aktif dalam komunikasi antar pribadi yang berwujud mau melakukan aktifitas seperti melacak lebih mendalam terhadap apa yang didengarkannya. Mendengarkan secara pasif yaitu suatu aktifitas dengan hanya sekedar mendengarkan tanpa melakukan pembicaraan secara langsung dalam berbagai komuniksi antar pribadi. Bentuk mendengarkan secara pasif misalnya  saja duduk santai dan rileks sehingga seolah-olah tidak ada aktivitas yang nyata. Namun demikian mendengarkan secara pasif bagaimanapun juga mempunyai manfaatdalam komunikasi antar pribadi. Mendengarkan secara aktif mempunyai fungsi diantaranya :
a.        Pendengar dapat mengontrol keakuratan informasi yang disampaikan oleh komunikan.
b.       Dapat digunakan sebagai bentuk persetujuan terhadap komunikator.
c.        Dapat merangsang pembicara untuk menggali pemikiran dan perasaannyalebih lanjut.
Dengan mendengarkan secara aktif dapat merupakan suatu dialog yang bermakna sehingga dapat memotivasi dan mendukung dalam proses pemecahan masalah.
2.       Mendengarkan secara acuh dan kritis
Karakter mendengarkan secara efektif adalah memberikan tanggapan tanpa sikap kritis dan acuh. Makna dari pernyataan ini adalah mendengarkan yang efektif berarti kita dengan pikiran terbuka mencoba untuk mengerti dan mengkritisi informasi yang diperoleh. Mendengarkan dengan pikiran terbuka akan menolong kita untuk memahami pesan yang diterima dengan baik. Sedangkan mendengarkan dengan pikiran kritis akan membantu kita untuk menganalisis pemahaman dan mengevaluasi pesan yang mencurigakan. Untuk dapat melaksanakan kegiatan mendengarkan secara acuh dan kritis maka pusatkanlah aktivitas anda sesuai dengan petunjuk berikut :
a.    Biarkan tetap terbuka dan hindari kecurigaan awal, tundalah pendapat sampai memahami semua maksud dan isi dari pesan yang disampaikan.
b.   Hindari membuang pesan yang dirasa sulit dan hindari pula kecenderungan menghilangkan informasi yang lebih rinci serta menyederhanakan pesan yang kompleks sehingga lebih mudah untuk diingat.
c.    Hindari menghilangkan pesan yang tidak diinginkan, maksudnya bahwa apapun pesan yang disampaikan harus didengarkan secara serius atau seksama.
d.   Akuilah bahwa sering membuat kesimpulan dengan mendengarkan secara berat sebelah.
e.    Pertimbangkan isi yang disampaikan dan jangan menilai komunikator yang menyampaikan.
f.    Hindari mendengarkan tanpa kekritisan ketika melakukan evaluasi dan analisis.
3.       Mendengarkan secara empati dan obyektif
Empati merupakan aktifitas emosional kita dalam hal ikut merasakan seperti apa yang dirasakan orang lain, dengan kemampuan semacam ini kita dapat mendengarkan apa yang ingin atau apa yang diharapkan orang lain. Mendengarkan dengan empati ini sering dilakukan dalam proses komunikasi antar pribadi karena masing-masing komunikator dan komunikan merasa memperoleh kesejajaran dan kebersamaan. Disamping itu kita perlu mendengarkan secara obyektif pada saat kita berkomunikasi sehingga kita bias menilai secara obyektif pesan yang disampaikan. Untuk dapat mendengarkan secara obyektif dan empati ini perlu diperhatikan :
a.        Usahakan dialog bukan monolog.
b.       Menanggapi dari sudut pandang komunikator.
c.        Pandanglah dan anggaplah komunikator sejajar dengan komunikan.
d.       Cobalah untuk mengerti pikiran dan perasaannya, maksudnya jangan menganggap tugas pendengaran selesai sebelum tahu apa yang komunikator pikirkan dan rasakan.
e.        Hindari mendengarkan yang menyerang yang biasanya ada kecenderungan untuk mencari kesalahan orang lain.
4.       Mendengarkan secara mendalam dan dangkal
Dalam proses mendengarkan atau meneriam informasi kita hendaknya dapat memberikan makna secara nyata yang dapat dibaca secara harafiah tetapi makna yang tersirat dari informasi yang didengar. Pada kasus mendengarka secara personal kita perlu fakta yang sensitive untuk membedakan level yang mendalam dengan level yang bersifat harafiah. Untuk dapat mendengarkan secara dangkal dan mendalam maka perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a.        Pusatkan pada pesan verbal dan non verbal.
b.       Sengarkan isi dan hubungan pesan yang disampaikan.
c.        Buatlah catatan-catatan khusus dari pernyataan baik dari komunikator maupun dari komunikan.
d.       Perhatikan pesan-pesan baik yang dikemukakan maupun yang tersembunyi.


H.      Upaya agar mendengarkan secara efektif
Kemampuan mendengarkan atau menyimak bukan kemampuan yang merupakan “harga mati”, melainkan dilatih dan dikembangkan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan melalui hal-hal berikut ini :
1.   Melakukan persiapan dengan baik, dari segi fisik maupun mental.
2.   Memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan dan mempertahankan pemusatan perhatian tersebut (konsentrasi).
3.   Menangkap ide sentral, gagasan, dan pokok pikiran utama dari sisi pembicaraan.
4.   Mempu mengontrol emosi dengan baik.
5.   Hindarkan dari berpikir sendiri.
6.   Menggunakan waktu luang disaat komunikator tidak aktif untuk mencerna dan memahami pesan yang diterima.
7.   Lakukan analisa dan evaluasi dengan tepat untuk menangkap relevansi dan logika berpikir komunikator.

I.         Keterampilan untuk menjadi pendengar yang baik
Betapa sukarnya menjadi pendengar yang baik, karena ada orang yang sekedar mendengar dan yang benar-benar mau mendengar. Seorang siswa yang duduk dikelas mendengarkan gurunya berbicara didepan kelas, dan siswa tersebut mau mendengarkan karena hal tersebut berguna untuk ujian mendatang; namun diluar kelas seorang penumpang mendengar orang berteriak menawarkan sebuah Koran kepada penumpang bis. Apa jadinya, bila keadaan diatas dibalik, menjadi sang siswa hanya sekedar mendengar gurunya berbicara dan sang penumpang mendengarkan (mau mendengar) sang penjual Koran berteriak. Maka sepulang dari sekolah sang siswa tak benar-benar mengerti apa yang dibicarakan gurunya; dan seturun dari bis sang penumpang hafal betul apa yang tadi diteriakkan oleh sang penjual Koran. Inilah, mengapa orang sering gagal karena tidak dapat menjadi pendengar yang baik. Oleh sebab itu, Ada 6 keterampilan untuk menjadi pendengar yang baik yaitu :
1.   Pandanglah Si Pembicara
Fokuslah pada lawan bicara Anda, karena proses mendengarkan yang prioritas adalah memberikan perhatian yang tak terbagi-bagi oleh kegiatan lainnya.
2.   Jangan Menyela atau Menginterupsi
Ada beberapa orang yang sangat tak suka pembicaraanya disela atau diinterupsi oleh lawan bicaranya. Jangan lupa segan untuk memberikan waktu pada lawan bicara Anda, karena Anda jangan pernah merasa bahwa salah satu dari Anda harus berbicara terus. Karena pasti ada waktu hening yang dapat kita gunakan untuk berbicara.
3.   Berfokus Pada Pemahaman
Betapa orang cepat melupakan hal-hal yang mereka dengar! Jadi mendengar yang efisien tidak hanya syarat dengan sekedar mendengar kata-kata yang disampaikan. Namun Anda dituntut untuk menemukan makna dan pemahaman akan apa yang sedang diucapkan lawan bicara Anda.
4.   Tangguhkan Penilaian Anda
Hampir semua orang terburu-buru manarik kesimpulan dan menyampaikannya pada saat sang pembicara belum selesai berbicara. Karena hal ini mengakibatkan, Anda mungkin kehilangan hal penting yang ingin mereka sampaikan.
5.   Ajukan Pertanyaan Untuk Mendapat Penjelasan
Kalau Anda ingin menjadi pendengar yang efektif , jadilah reporter yang baik – bukan reporter yang kaku, melainkan seorang reporter yang lembut mengajukan pertanyaan  dan meminta penjelasan.
6.   Jadikan Kegiatan Mendengar Sebagai Prioritas
Hal terakhir, adalah menanamkan ketrampilan mendengar Anda sebagai prioritas, tanpa memandang seberapa sibuknya Anda atau seberapa tinggi jabatan Anda. Jangan jadi orang yang eksklusif tetapi jadilah orang yang bijaksana.



BAB IV
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Bahwa dalam pelaksanaan kegiatan atau aktivitas komunikasi antar pribadi keterampilan mendengarkan juga sangat penting dibutuhkan untuk mengoptimalkan penerimaan pesan dari komunikator dengan baik tanpa kesalahan yang dapat menyebabkab terjadinya salah informasi atau kesalahpahaman. Untuk lebih meningkatkan kegiatan komunikasi antar pribadi upaya-upaya juga perlu dilakukan agar prosesi mendengarkan lebih efektif.
B.      Saran
Biasanya seseorang akan mengalami gangguan atau hambatan saat melaksanakan kegiatan komunikasi antar pribadi apabila komunikasi terseut dilakukan ditempat yang tidak kondusif. Maka agar kegiatan ini berlangsung dengan efektif dan efisien, diharapkan supaya saat melakukan komunikasi antara komunikator dan komunikan dilaksanakan ditempat yang kondusif, mendukung untuk adanya dialog, tidak bising atau berisik, sehingga pemecahan masalah oleh komunikator khususnya konselor kepada komunikan akan lebih berhasil guna.












DAFTAR PUSTAKA

Rahmat, J. (2000). Psikologi komunikasi. Penerbit PT remaja rosdakarya. Bandung.
Sugiyo. (2005). Komunikasi antar pribadi. UPT percetakan dan penerbitanUNNES PRESS. Semarang.
http://himpsijaya.org/2006/02/07/mendengarkan/ [accesed 20/12/09]
http://www.beritanet.com/Event/Best-of-Content-Contest-2009/6-Ketrampilan-Mendengarkan.html [accesed 20/12/09]
http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-ii/ [accesed 20/12/09]


Littlre snake pin