Tampilkan postingan dengan label kesehatan mental. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan mental. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

IQ




Dalam rangka mencari definisi IQ (kecerdasan intelektual) yang konkrit, penulis sedikit kesulitan mengingat banyaknya persepsi dari beberapa tokoh dan ilmuan yang mengutarakan definisi yang beragam, mengingat keanekaragaman pula sudut pandang kajiannya. Namun, penulis akan menjembatani dari beberapa pendapat tersebut diantaranya:
Dikemukakan oleh Muhammad Sa’id Mursi dalam bukunya “Seni Mandidik Anak” tentang IQ (kecerdasan intelektual), kecerdasan adalah kemampuan untuk mengetahui hubungan antara beberapa benda, kemampuan untuk menciptakan atau memperbaharui, kemampuan untuk belajar, berfikir, memahami, menguasai, berkhayal, mengingat dan merasa, kemampuan untuk memecahkan masalah, mengerjakan tugas dengan berbagai tingkat kesulitan.
Dalam definisi yang lain juga dikatakan bahwa IQ adalah bakat yang didapat dari keturunan, tapi lingkungan dan kondisi sekelilingnya juga mempengaruhi peningkatan presentasi kecerdasan sesorang melalui pengalaman, pengetahuan yang didapat dan pengajaran.
Kemudian dikemukakan pula oleh David Wechsler tentang IQ yaitu kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif.
Menurut Thurstone IQ (kecerdasan intelektuan) adalah:
a. Kemampuan untuk memahami hal-hal ynag dinyatakan secara verbal atau menggunakan bahasa.
b. Kelancaran dan kefasihan menyatakan buah pikiran dengan menggunakan kata-kata.
c. Kemampuan untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah matematis yaitu masalah yang menyangkut dan menggunakan angka-angka atau bilangan.
d. Kemampuan untuk mengingat.
e. Kemampuan untuk mengamati dan memberikan penafsiran atas hasil pengamatan
f. Kemampuan berfikir logis.
Dengan demikian, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa IQ (kecerdasan intelektual) adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi atau IQ tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berfikir rasional.
1. Ciri-Ciri Kecerdasan Anak
Para ahli berpendapat bahwa perkembangan kecerdasan anak berkembang sangat cepat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Pada usia 4 tahun kapasitas kecerdasan sudah mencapai sekitar 50 %, usia 8 tahun mencapai 80 %, dan mencapai titik kulminasi 100 % pada usia 18 tahun. Oleh sebab itu, anak pada masa usia dini disebut masa emas perkembangan. Usia keemasan (golden age) merupakan masa dimana anak mulai peka atau sensitif untuk menerima berbagai upaya pengembangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, namun pada umumnya biasa terjadi pada rentang usia 0-6 tahun.
Kecerdasan seseorang berkembang seiring dengan bertambahnya usia, secara umum anak yang cerdas mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lebih kuat dalam memperhatikan dan lebih cepat memahami sesuatu dibandingkan dengan yang lain
b. Lebih cepat belajar menerima pemikiran dan informasi
c. Lebih mampu mengetahui hubungan antara beberapa hal, jumlah dan kalimat
d. Lebih mampu menciptakan sesuatu, merancang rencana dan cara untuk mencapai tujuan
e. Lebih cepat beradaptasi dengan sitiasi baru
f. Percaya diri.
Carl Witherington mengemukakan enam ciri dari perbuatan yang cerdas yaitu:
a. Memiliki kemampuan yang cepat dalam bekerja dengan bilangan
b. Efisien dalam berbahasa
c. Kemampuan mengamati dan menarik kesimpulan dari hasil pengamatan yang cukup cepat
d. Kemampuan mengingat yang cukup cepat dan tahan lama
e. Cepat dalam memahami hubungan
f. Memiliki daya khayal atau imajinasi yang tinggi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan beberapa ciri dari prilaku cerdas atau prilaku individu yang memiliki kecerdasan tinggi adalah sebagai berikut:
a. Memiliki daya adaptasi yang tinggi artinya prilaku cerdas cepat membaca dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tidak banyak mengeluh dan merasakan hambatan dari lingkungan
b. Prilaku cerdas berorientasi kepada keberhasilan artinya tidak takut gagal dan selalu optimis
c. Sikap jasmaniah yang baik artinya seorang siswa yang intelegen ketika pelajaran berlangsung duduk dengan baik, menempatkan bahan yang dipelajari dengan baik, memegang alat tulis dengan baik, tidak belajar sambil tiduran, sambil tengkurap, dll
d. Mempunyai motivasi yang tinggi.
2. Macam-Macam Kecerdasan
Menurut Gardner ada tujuh macam kecerdasan yang dimiliki manusia, antara lain:
a. Kinestetik
Kecerdasan kinestik disebut juga body smart. Kecerdasan ini melibatkan koordinasi bahasa badan, yang memproses pengetahuan melalui indra tubuh. Jadi, kecerdasan kinestik merupakan kecakapan melakukan gerakan dan keterampilan kecekatan fisik seperti dalam olah raga, atletik, menari, kerajinan tangan, bedah, dll. Orang-orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yang tinggi adalah para olah ragawan, penari, pecinta tari, pengrajin profesional, dokter bedah, dll.
b. Bahasa
Kecerdasan bahasa disebut juga word smart. Kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan menggunakan bahasa yang efektif. Jadi, kecerdasan bahasa berkaitan dengan kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis.
Dalam kecerdasan ini terdapat cakupan yang didalamnya terdapat kemampuan dalam ejaan, kosa kata, dan tata bahasa. Kecerdasan bahasa pada umumnya dimiliki oleh seorang pembaca naskah berita, para penulis, ahli bahasa, sastrawan, jurnalis, orator, penyiar, mereka adalah orang-orang yang memilki kecerdasan linguistik (bahasa) yang tinggi.
c. Musical
Kecakapan untuk menghasilkan dan menghargai musik, sensitivitas terhadap melodi, ritme, nada, tangga nada, menghargai bentuk-bentuk ekspresi musik. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan menyanyikan lagu, menghafal melodi musik, mempunyai kepekaan akan irama, atau sekedar menikmati musik.
Anak-anak yang memiliki kecerdasan musikal biasanya bercita-cita menjadi musisi, dirigen, pembuat instrumen musik, penyanyi, pengamat musik, dll.
d. Visual-Spasial
Kecerdasan ini disebut juga picture smart. Yaitu merupakan kecakapan berfikir dalam ruang tiga dimensi. Seorang yang memiliki intelegensi visual-ruang yang tinggi sepert pilot, nahkoda, astronot, pelukis, arsitek, perancang, dll. Yang mana mereka mampu menangkap bayangan ruang internal dan eksternal, untuk penentuan arah dirinya atau benda yang dikendalikan, atau mengubah, mengkresi, dan menciptakan karya-karya tiga dimensi nyata.
e. Logika Matematika
Kecerdasan ini disebut juga number smart. Anak yang menonjol dalam kecerdasan ini memiliki keterampilan untuk mengolah angka-angka dan mahir dalam menggunakan logika atau akal sehat. Kecerdasan ini dimiliki oleh para ilmuan, ahli matematis, akuntan, insinyur, pemogram komputer.
f. Interpersonal (Kecerdasan Hubungan Sosial)
Kecerdasan ini disebut juga people smart yaitu kecakapan memahami dan merespon serta berinteraksi dengan orang lain dengan tepat, watak, temperamen, motivasi, dan kecenderungan terhadap orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan hubungan sosial diantaranya guru, konselor, pekerja sosial, aktor, pemimpin masyarakat, politikus, dll.
g. Intrapersonal
Kecerdasan ini disebut juga self smart yaitu kecakapan memahami kehidupan emosional, membedakan emosi orang-orang, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri. Kecakapan membentuk persepsi yang tepat terhadap orang, menggunakannya dalam merencanakan dan mengarahkan orang lain; agamawan, psikolog, psikiater, filosof, adalah mereka yang memiliki kecerdasan pribadi yang tinggi.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi IQ Anak
a. Faktor Bawaan Atau Keturunan
Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa faktor genetik dapat mempengaruhi taraf intelegensi seseorang. Artinya, jika kedua orang tua memiliki intelegensi, besar kemungkianan anaknya memiliki intelegensi tinggi pula. Akan tetapi hal inipun tidak terjadi demikian. Adakalanya kedua orang tua memiliki taraf intelegensi tinggi mempunyai anak dengan taraf intelegensi pada tingkat rata-rata atau bahkan dibawah rata-rata.
Sebagian pakar berpendapat bahwa pengaruh orang tua yang sedemikian besar terhadap perkembangan intelegensi anak adalah lebih disebabkan oleh upaya orang tua itu sendiri dalam memberdayakan anak-anaknya.
Dr. Bernard Devlin dari fakultas kedokteran universitas Pittsburg, AS, memperkirakan faktor genetika memiliki peranan sebesar 48 % bentuk IQ anak, sedangkan sisanya adalah faktor lingkungan, termasuk ketika anak masih dalam kandungan.
Untuk menjelaskan peran genetika dalam pembentukan IQ anak, seorang pakar lain dibidang genetika dan psikologi dari universitas Minesito, AS, bernama Matt Mc Gee mencontohkan pada keluarga kerajaan yang memiliki gen elit, keturunannya belum tentu memiliki gen elit.
Matt Mc Gee mengatakan keluarga bangsawan yang memiliki IQ tinggi umumnya hanya sampai generasi kedua atau ketiga. Generasi berikutnya belum diketahui secara pasti, karena mungkin saja hilang. Meski dapat muncul lagi pada generasi kedelapan atau berikutnya. Jadi orang tua yang memiliki IQ tinggi bukan jaminan dapat menghasilkan anak ber IQ tinggi pula.
Jadi, hal tersebut diatas menunjukkan bahwa faktor genetic bukan satu-satunya faktor penentu tingkat kecerdasan anak.
b. Faktor Lingkungan
Pengembangan potensi anak mencapai aktualisasi optimal bukan hanya dipengaruhi faktor bakat, melainkan faktor lingkungan yang membimbing dan membentuk perkembangan anak. Faktor lingkungan dalam banyak hal justru memberi andil besar dalam kecerdasan anak. Yang dimaksud tidak lain adalah upaya memberi ‘iklim’ tumbuh kembang sebaik mungkin agar kecerdasan dapat berkembang optimal. Seperti yang dikemukakan oleh Conny Semiawan dalam bukunya yang berjudul ”Belajar dan Pembelajaran dalam Taraf Pendidikan Usia Dini” bahwa:
“Seseorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut intelegensi yang bersumber dari otaknya, kalau struktur otak sudah ditentukan oleh biologis, berfungsinya otak tersebut sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.”
Para pakar yakin faktor lingkungan benar-benar dapat mempengaruhi kecerdasan anak, hal ini terbukti dengan Helen dan Glady sepasang bayi kembar, bisa menjadi salah satu buktinya. Pada usia 18 bulan mereka dirawat secara terpisah. Helen hidup dan dibesarkan dalam satu keluarga bahagia dengan keluarga yang hidup dan dinamis, sedangkan Glady dibesarkan di daerah gersang dalam lingkungan ‘miskin’ rangsangan. Ternyata saat dilakukan pengukuran Helen memiliki angka IQ 116 dan berhasil meraih gelar sarjana dalam bidang bahasa inggris. Sedangkan Glady terpaksa putus sekolah lantaran sakit-sakitan dan IQ-nya 7 angka dibawah saudaranya.
Dengan demikian, jelas bahwa faktor lingkungan benar-benar mempunyai peran penting yang dapat mempengaruhi kecerdasan anak. Faktor lingkungan diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, yang akan dijelaskan pada uraian dibawah ini.
1). Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap pendidikan dan perkembangan anak dalam berbagai aspek. Sedangkan lembaga pra-sekolah dan sekolah hanya berperan sebagai partner pembantu, tugas penting orang tua ini akan sangat terdukung apabila mampu menciptakan suasana rumah menjadi tempat tinggal sekaligus sebagai basis pendidikan. Maka dari itu lingkungan keluarga harus memberikan stimulus positif untuk menyiapkan kondisi yang kondusif guna tercapainya perkembangan yang optimal bagi seorang anak.
Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan intelegensi anak cukup besar. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa lingkungan keluarga berkorelasi secara signifikan dengan perkembangan intelegensi anak.
Jika anak kembar satu telur diasuh bersama dalam lingkungan yanhg sama, IQ mereka akan lebih mirip sama dibandingkan dengan apabila mereka diasuh terpisah oleh lingkungan yang berbeda. Dalam kasus ini tidak terdapat hubungan genetik, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa kesamaan IQ adalah karena kesamaan pengalaman belajar dari lingkungan yang sama.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Garber Ware (1970) disimpulkan bahwa semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi pula IQ anak. Tiga unsur penting dalam keluarga yang sangat mempengaruhi perkembangan intelegensi anak yang ditemukan dalam penelitian itu adalah:
a. Jumlah buku, majalah dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan rumah.
b. Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akademiknya.
c. Harapan orang tua akan prestasi akademik anaknya.
Pada dasarnya kegiatan belajar tidak hanya berada di sekolah, hal itulah yang harus diketahui oleh orang tua. Dalam melaksanakan kegiatan belajar di lingkungan rumah, orang tua perlu menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Anak perlu diperhatikan
Perhatian kepada anak menjadi kunci keberhasilan kegiatan belajar. Perhatian kepada anak merasa senang dan terpadu dalam melakukan kegiatan. Perhatian yang proporsional akan memunculkan motivasi atau semangat anak. Motivasi ini akan menggerakkan daya cipta yang didorong oleh potensi yang sudah ada pada diri anak.
b. Pada dasarnya anak mengalami tumbuh kembang yang unik
Kegiatan belajar yang dilakukan harus disesuaikan dengan tumbuh kembang anak yang terjadi. Anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada anak yang lebih cepat mengolah pengetahuan dengan pendengaran (auditory), gerakan (kinesthetic), dan dengan cara melihat (visual).
c. Fasilitas belajar sebaiknya disediakan dalam ruangan khusus
Fasilitas belajar sedapat mungkin disediakan dalam ruangan khusus. Hal ini akan mempermudah pendampingan terhadap anak dalam aktifitas permainan edukatif.
d. Waktu kegiatan belajar di rumah bisa lebih longgar
Di rumah setiap waktu dapat digunakan untuk melakukan kegiatan belajar dengan tidak meninggalkan pertimbangan memberi keleluasaan dan kebebasan anak dalam melakukan kegiatan.
2). Lingkungan Sekolah
Lingkungan yang berfungsi sebagai tempat pendidikan diluar keluarga adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah yaitu lingkungan formal yang mempunyai struktur dan mempunyai program yang baku.
Mengapa diperlukan adanya pendidikan pada usia dini ? Menurut hasil penelitian di dunia kedokteran bahwa otak manusia pada saat dilahirkan kurang lebih sama. Makin banyak otak digunakan, makin banyak jaringan otak terbentuk, sebaliknya jika otak jarang digunakan, makin kurang jaringan otak tersebut. Maka dari itu, pendidikan anak usia dini sangat penting dalam upaya optimalisasi potensi anak.Berbagai bentuk pelayanan pendidikan bagi anak usia dini banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita, baik yang bersifat informal maupun yang formal, antara lain tempat penitipan anak, kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar awal, dll. Dengan demikian tuntutan bagi pendidik/guru TK untuk menjadikan pengalaman belajar anak menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan untuk mengoptimalkan perkembangan anak di masa yang akan datang.
3). Lingkungan Masyarakat
Lingkungan kedua yang berfungsi sebagai pendidikan diluar keluarga adalah masyarakat. Dalam masyarakat ini anak akan bergaul dengan orang lain sehingga baik langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi pembentukan pribadi anak.
c. Gizi Bagi Anak
Kekurangan dari salah satu zat atau beberapa zat gizi yang diperlukan anak maka akan mengakibatkan gangguan pada tingkat kecerdasan dan perkembangan intelektual anak. Lebih lanjutnya, anemia defisiensi zat besi (anemia gizi) dapat menyebabkan terlambatnya perkembangan kognitif, psikomotorik, dan kemampuan verbal, serta terlambatnya kemampuan motorik dan koordinasi dari anak. Idradinata dan Polit (1993) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa anemia gizi pada anak dibawah umur 2 tahun, perkembangan mental dan motoriknya dapat diperbaiki setelah pemberian suplementasi zat besi selama 4 bulan. Namun penelitian lain justru bertentangan bahwa pemberian suplemen gizi tidak berhasil memperbaiki gangguan mental dan psikomotorik anak penderita anemia gizi.
Gangguna mental, intelektual dan psikomotor yang diderita anak di bawah umur 2 tahun akibat anemia gizi dapat bersifat permanen, oleh karena itu sebaiknya masalah seperti ini harus dicegah dan perlu diwaspadai oleh orang tua.
Masalah gizi adalah merupakan masalah kompleks yang harus ditanggulangi secara terpadu dan terkonsep yang berawal dari keluarga. Hal itu perlu diwaspadai dan mendapat perhatian sedini mungkin. Pada masa prenatal dan post-natal sampai usia remaja orang tua perlu waspada terhadap pola kebiasaan makan anak, apabila menginginkan anak yang cerdas.
Demikian Burhan Hidayat menjelaskan bahwa “pada anak usia pra sekolah, gangguan mental akibat anemia gizi dapat berupa kurangnya perhatian, keinginan, dan motivasi anak dalam belajar serta lemahnya kemampuan berkonsentrasi. Secara keseluruhan anemia gizi pada anak usia sekolah dapat menyebabkan rendahnya IQ dan prestasi belajar”.
Penelitian Sulzer juga menunjukkan bahwa anak penderita anemia (kurang darah akibat defisiensi zat besi) mempunyhai nilai lebih rendah dalam uji IQ dan kemampuan belajar. 
d. Tempat Tinggal Dan Cerita
Selain faktor gizi dan perawatan, apa yang dilihat, di dengar, dan dipelajari anak sejak dalam kandungan sampai usia 5 tahun sangat menentukan intelegensi dasar untuk masa dewasanya kelak. Setelah usianya melewati 5 tahun secara potensial IQ nya telah tetap. Dengan begitu, masa itulah merupakan “kesempatan emas” bagi kita (pendidik) untuk memacu kecerdasan anak.
Menurut Jean Praget, Psikolog dari Swiss, semakin banyak hal baru yag dilihat dan didengar, seorang anak akan semakin ingin melihat dan mendengar segala sesuatu yang ada dan terjadi dilingkungannya. Karenanya disarankan agar orang tua memperkaya lingkungan tempat tinggal (kamar tidur atau kamar bermain) bayi dengan warna dan bunyi-bunyian yang merangsang penglihatan dan pendengaran bayi. Seperti gambar-gambar, binatang, atau bunga, musik, kicauan burung, dan lain sebagainya.
Para pakar juga yakin lingkungan verbal bagi anak juga tidak kalah pentingnya. Bahasa yang didengarkan anak bisa meningkatkan atau menghambat kemampuan dasar berfikirnya. Penelitian ini dilakukan oleh psikolog Rusia, ia membayar para ibu keluarga miskin untuk memberikan cerita dengan suara keras untuk bayi mereka masing-masing selama 15-20 menit setiap hari. Menjelang usia 1,5 tahun bayi menjalani pengukuran. Hasilnya, bayi-bayi tersebut memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik dari pada bayi-bayi seusianya di daerah yang sama.
Penelitian lain dilakukan disekolah perawat di New York, AS, terhadap dua kelompok anak usia tiga tahun. Masing-masing anak diperlakukan secara berbeda, kelompok pertama diberi pelajaran bahasa selama 15 menit setiap hari, kelompok kedua diberi perhatian khusus juga selama 15 menit tanpa pelajaran bahasa. Setelah 4 bulan ternyata kelompok pertama mendapatkan kenaikan intelegensi rata-rata sebesar 14 angka. Sedangkan kelompok kedua kenaikan rata-ratanya hanya 2 angka.
Dengan demikian, untuk mendapatkan anak yang cerdas ternyata gampang, hanya dengan memberi makan sehat (gizi seimbang), perawatan baik, dan lingkungan psikologis yang mendukung sejak dalam kandungan sampai anak usia lima tahun, besar kemungkinan harapan orang tua akan tercapai.
4. Langkah Menumbuhkan IQ Anak
Dalam keadaan anak normal, kecerdasan itu dapat ditumbuhkan, tentunya dengan metode pengasuhan yang juga cerdas, berikut ini langkah-langkah yang perlu dikembangkan untuk menumbuhkan IQ anak antara lain:
a. Melakukan Pembelajaran Secara Dini Bagi Anak
Kecerdasan anak tidak dapat tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus dirangsang, diantaranya dengaan melakukan pembelajaran secara dini bagi anak. Misalnya pada usia dini, anak diperkenalkaan pada kegiatan membaca dan menulis, dengaan cara membuat tulisan pada benda yang dimaksud. Kegiatan semacam ini dapat merangsang daya ingat anak terhadap benda tersebut sekaligus memperkenalkaan anak akan bentuk huruf dan tulisan.
Begitu pula dengan kemampuan dasar matematika anak, dapat dirangsang melalui cara sederhana seperti menghitung jumlah anak tangga, menghitung panjang masa dengan jengkal si anak, mengukur tinggi dan berat badannya sendiri dan lain-lain.
Membangkitkan potensi yang diminati anak tidak harus menggunakan waktu yang terjadwal ataupun waktu-waktu khusus. Namun dari semua peristiwa atau kegiatan sehari-hari yang dialami oleh anak bisa dijadikan media belajar anak untuk merangsang dan mengasah segala potensi anak, seperti yang dikatakaan oleh Dr. Seto Mulyadi mengajarkan kepada orang tua agar mengaitkan semua kegiatan (sehari-hari) sebagai suatu aktivitas yang menyenangkan dan selalu ditunggu oleh anak, sehingga dapat menumbuhkan hasrat ingin tahu yang besar serta kemampuaan logika yang baik.
b. Membangun Stimulus Pada Anak
Selain makanan, pengasuhan dan penyediaan lingkungan yang kaya stimulus, tanpa adanya stimulasi yang baik, perkembangan intelegensi baik intelektual maupun emosional tidak akan berkembang maksimal. Hasil puncak stimulasi lingkungan yang optimal terjadi ketika anak berumur 6 tahun, maka dari itu orang tua harus bisa memanfaatkan sebaik mungkin dan memberikan stimulasi seoptimal mungkin. Dalam memberikan stimulasi pada anak, ada lima aspek perkembangan yang dibutuhkan anak yaitu :
1). Bahasa
Perkembangan bahasa sangat tergantung dari stimulasi banyak mendengar kata-kata melalui pembicaraan radio, tape, dan kata-kata yang biasa diucapkan oleh orang tuanya, serta melalui mendongeng atau membacakan cerita itu. Hal tersebut dapat membantu perkembangan bahasa anak.
2). Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi anak membutuhkan syarat mutlak yakni melalui pola asuh yang penuh perhatian dan kasih sayang.
3). Musik
Stimulasi melalui musik dan belajar musik sejak dini dapat membangun kapasitas otak untuk berfikir visual spasial, matematika dan logika. Masa yang paling baik adalah usia tiga sampai sepuluh tahun, sebab stimulasi suara musik telah sempurna ditangkap oleh otak.

Jumat, 13 Januari 2012

TERAPI PENDERITA DOWN SYNDROM

Jenis-jenis Terapy yang dibutuhkan penderita down syndrome :
Terapi Wicara
Suatu terapi yang di pelukan untuk anak DS atau anak bermasalah denganketerlambatan bicara, dengan deteksi dini di perlukan untuk mengetahuiseawal mungkin menemukan gangguan kemampuan berkomunikasi, sebagai dasaruntuk memberikan pelayanan terapi wicara.
Terapi Okupasi
Terapi ini di berikan untuk dasar anak dalam hal kemandirian,kognitif/pemahaman, dan kemampuan sensorik dan motoriknya. Kemandiriandiberikan kerena pada dasarnya anak "bermasalah" tergantung pada orang lainatau bahkan terlalu acuh sehingga beraktifitas tanpa komunikasi danmemperdulikan orang lain. Terapi ini membantu anak mengembangkan kekuatandan koordinasi, dengan atau tanpa menggunakan alat.
Terapi Remedial
Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan akademis skill, jadibahan bahan dari sekolah bias dijadikan acuan program.
Terapi kognitif
Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan kognitif danperceptual, missal anak yang tidak bias berkonsentrasi, anak yang mengalami gangguan pemahaman, dll.
Terapi sensori integrasi
Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan pengintegrasiansensori, misalnya sensori visual, sensori taktil, sensori pendengaran,sensori keseimbangan, pengintegrasian antara otak kanan dan otak kiri, dll.
Terapi snoefzelen
Snoezelen adalah suatu aktifitas terapi yang dilakukan untuk mempengaruhiCNS melalui pemberian stimulasi pada system sensori primer seperti visual,auditori, taktil. Taste, dan smell serta system sensori internal sepertivestibular dan proprioceptif dengan tujuan untuk mencapai relaksasi dan atauaktifiti. Snoezelen merupakan metode terapi multisensories. Terapi snoefzelenAnak di ajarkan berprilaku umum dengan pemberian system reward dan punishment. Bilan anak melakukan apa yang di perintahkan dengan benar, makan diberikan pujian. Jika sebaliknya anak dapat hukuman jika anak melakukan Hal yang tidak benar. Dengan perintah sederhana dan yang mudah di mengerti anak.Terapi snoefzelen - Terapi ini di berikan pada anak yang mengalami gangguanperkembangan motorik, misalnya anak yang mengalami keterlambatan berjalan.
Semua terapi ini dilaksanakan sesuai dengan rekomendasi dari tim dokter yang telah memeriksa anak yang mengalami gangguan.
PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
    * Pemeriksaan fisik penderita
    * Pemeriksaan kromosom
    * Ultrasonograpgy
    * ECG
    * Echocardiogram
    * Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)

Senin, 27 Juni 2011

PERSONALITY DISORDER


PARANOID
Paranoid personality disorder is characterized by a distrust of others and a constant suspicion that people around you have sinister motives. People with this disorder tend to have excessive trust in their own knowledge and abilities and usually avoid close relationships. They search for hidden meanings in everything and read hostile intentions into the actions of others. They are quick to challenge the loyalties of friends and loved ones and often appear cold and distant. They usually shift blame to other people and tend to carry long grudges.
Symptoms of Paranoid Personality Disorder:
1.    Unwillingness to forgive perceived insults
2.    Excessive sensitivity to setbacks
3.    Distrustfulness and excessive self-reliance
4.    Projection of blame onto others
5.    Consumed by anticipation of betrayal
6.    Combative and tenacious adherence to personal rights
7.    Relentlessly suspicious
Additional Information:
Paranoid personality disorder is difficult to treat, as paranoids are often extremely suspicious of medical professionals. A combination of medication and talk therapy can be effective at combating the more debilitating symptoms of this disorder.

SCHIZOID
People with schizoid personality disorder avoid relationships and do not show much emotion. Unlike avoidants, schizoids genuinely prefer to be alone and do not secretly wish for popularity. They tend to seek jobs that require little social contact. Their social skills are often weak and they do not show a need for attention or acceptance. They are perceived by others as humorless and distant and often are termed "loners."
Symptoms of Schizoid Personality Disorder:
1.    Weak interpersonal skills
2.    Difficulty expressing anger, even when provoked
3.    "Loner" mentality; avoidance of social situations
4.    Appear to others as remote, aloof, and unengaged
5.    Low sexual desire
6.    Unresponsive to praise or criticism
Additional Information:
It is important to distinguish schizoid from avoidant. Avoidants will feel anxiety in social situations and have the desire to fit in, while schizoids simply prefer to be alone. It is occassionally difficult to distinguish between schizoid and Asperger's, as well.
This disorder is diagnosed more frequently and is often more severe among males. Schizoids usually do not seek treatment on their own and are often coaxed into it by a loved one.

SCHIZOTYPAL
Many believe that schizotypal personality disorder represents mild schizophrenia. The disorder is characterized by odd forms of thinking and perceiving, and individuals with this disorder often seek isolation from others. They sometimes believe to have extra sensory ability or that unrelated events relate to them in some important way. They generally engage in eccentric behavior and have difficulty concentrating for long periods of time. Their speech is often over elaborate and difficult to follow.
Symptoms of Schizotypal Personality Disorder:
1.    Odd or eccentric mannerisms or appearance
2.    Superstitious or preoccupied with paranormal phenomena
3.    Difficult to follow speech patterns
4.    Feelings of anxiety in social situations
5.    Suspiciousness and paranoia
6.    Odd beliefs or magical thinking
7.    Appears shy, aloof, or withdrawn to others

ANTI SOCIAL
A common misconception is that antisocial personality disorder refers to people who have poor social skills. The opposite is often the case. Instead, antisocial personality disorder is characterized by a lack of conscience. People with this disorder are prone to criminal behavior, believing that their victims are weak and deserving of being taken advantage of. Antisocials tend to lie and steal. Often, they are careless with money and take action without thinking about consequences. They are often agressive and are much more concerned with their own needs than the needs of others.
Symptoms of Antisocial Personality Disorder:
1.    Disregard for the feelings of others
2.    Impulsive and irresponsible decision-making
3.    Lack of remorse for harm done to others
4.    Lying, stealing, other criminal behaviors
5.    Disregard for the safety of self and others
Additional Information:
A majority of criminals in prison have some degree of antisocial personality disorder. Treatment is highly difficult, although the symptoms often diminish with age.

BORDERLINE
Borderline personality disorder is characterized by mood instability and poor self-image. People with this disorder are prone to constant mood swings and bouts of anger. Often, they will take their anger out on themselves, causing injury to their own body. Suicidal threats and actions are not uncommon. Borderlines think in very black and white terms and often form intense, conflict-ridden relationships. They are quick to anger when their expectations are not met.
Symptoms of Borderline Personality Disorder:
1.    Self-injury or attempted suicide
2.    Strong feelings of anger, anxiety, or depression that last for several hours
3.    Impulsive behavior
4.    Drug or alcohol abuse
5.    Feelings of low self-worth
6.    Unstable relationships with friends, family, and boyfriends/girlfriends
Additional Information:
Borderline personality disorder was so-named because it was originally thought to be at the "borderline" of psychosis. The disorder is relatively common, affecting 2% of adults. Women are much more likely to suffer borderline than men. Nearly 20% of psychiatric hospitalizations are due to borderline. With treatment, patients are often able to see their symptoms improve.
Treatment involves therapy in which the patient learns to talk through his or her feelings rather than unleashing them in destructive and self-defeating ways. Medication may be helpful, and treatment of any alcohol or substance abuse issues is required. Brief hospitalization is sometimes required, especially in cases involving psychotic episodes or suicide threats or attempts.

HISTRIONIC
People with histrionic personality disorder are constant attention seekers. They need to be the center of attention all the time, often interrupting others in order to dominate the conversation. They use grandiose language to discribe everyday events and seek constant praise. They may dress provacatively or exaggerate illnesses in order to gain attention. Histrionics also tend to exaggerate friendships and relationships, believing that everyone loves them. They are often manipulative.
Symptoms of Histrionic Personality Disorder:
1.    Needs to be the center of attention
2.    Dresses or acts provocatively
3.    Rapidly-shifting and shallow emotions
4.    Exaggerates friendships
5.    Overly-dramatic, occassionally theatrical speech
6.    easily influenced; highly suggestible

NARCISSISTIC
Narcissistic personality disorder is characterized by self-centeredness. Like histrionic disorder, people with this disorder seek attention and praise. They exaggerate their achievements, expecting others to recongize them as being superior. They tend to be choosy about picking friends, since they believe that not just anyone is worthy of being their friend. Narcissists tend to make good first impressions, yet have difficulty maintaining long-lasting relationships. They are generally uninterested in the feelings of others and may take advantage of them.
Symptoms of Narcissistic Personality Disorder:
1.    Requires excessive praise and admiration
2.    Takes advantage of others
3.    Grandiose sense of self-importance
4.    Lack of empathy
5.    Lying, to self and others
6.    Obsessed with fantasies of fame, power, or beauty
Additional Information:
Narcissism is most often found in men and is often diagnosed with other mental disorders.

AVOIDANT
Avoidant personality disorder is characterized by extreme social anxiety. People with this disorder often feel inadequate, avoid social situations, and seek out jobs with little contact with others. Avoidants are fearful of being rejected and worry about embarassing themselves in front of others. They exaggerate the potential difficulties of new situations to rationalize avoiding them. Often, they will create fantasy worlds to substitute for the real one. Unlike schizoid personality disorder, avoidants yearn for social relations yet feel they are unable to obtain them. They are frequently depressed and have low self-confidence.
Symptoms of Avoidant Personality Disorder:
1.    Social inhibition; retreating from others in anticipation of rejection
2.    Preoccupation with being rejected or criticized in social situations
3.    Fear of embarrassment results in avoidance of new activities
4.    Poor self-image; feelings of social ineptitude
5.    Desire for improved social relations
6.    Appear to others as self-involved and unfriendly
7.    Creation of elaborate fantasy lives

DEPENDENT
Dependent personality disorder is characterized by a need to be taken care of. People with this disorder tend to cling to people and fear losing them. They may become suicidal when a break-up is imminent. They tend to let others make important decisions for them and often jump from relationship to relationship. Dependents often remain in abusive relationships. Over-sensitivity to disapproval is common. Dependents often feel helpless and depressed.
Symptoms of Dependent Personality Disorder:
1.    Difficulty making decisions
2.    Feelings of helplessness when alone
3.    Suicidal thoughts upon rejection
4.    Submissiveness
5.    Deeply hurt by mild criticism or disapproval
6.    Unable to meet ordinary demands of life

OBSESSIVE-COMPULSIVE
While Obsessive-Compulsive personality disorder (OCDP) sounds similar in name to obsessive-compulsive anxiety disorder, the two are markedly different disorders. People with obsessive-compulsive personality disorder are overly focused on orderliness and perfection. Their need to do everything "right" often interferes with their productivity. They tend to get caught up in the details and miss the bigger picture. They set unreasonably high standards for themselves and others, and tend to be very critical of others when they do not live up to these high standards. They avoid working in teams, believing others to be too careless or incompetent. They avoid making decisions because they fear making mistakes and are rarely generous with their time or money. They often have difficulty expressing emotion.
Symptoms of Obsessive-Compulsive Personality Disorder:
1.    Need for perfection and excessive discipline
2.    Preoccupation with orderliness
3.    Inflexibility
4.    Lack of generosity
5.    Hyper-focus on details and rules
6.    Excessive devotion to work
Additional Information:
The potential for improvement with treatment is better for obsessive-compulsive personality disorder than for other personality disorders. A combination of medication and therapy tends to yield positive results.



Littlre snake pin