Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus harus menguasai bahasanya.
Bahasa merupakan salah satu unsur identitas nasional. Bahasa dipahami sebagai sistem perlambangan yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan digunakan sebagai sarana berinteraksi manusia. Di Indonesia terdapat beragam bahasa daerah yang mewakili banyaknya suku-suku bangsa atau etnis.
Setelah kemerdekaan, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia dahulu dikenal dengan bahasa melayu yang merupakan bahasa penghubung antar etnis yang mendiami kepulauan nusantara. Selain menjadi bahasa penghubung antara suku-suku, bahasa melayu juga menjadi bahasa transaksi perdagangan internasional di kawasan kepulauan nusantara yang digunakan oleh berbagai suku bangsa Indonesia dengan para pedagang asing.
Pada tahun 1928 bahasa melayu mengalami perkembangan yang luar biasa. Pada tahun tersebut para tokoh pemuda dari berbagai latar belakang suku dan kebudayaan menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia, keputusan ini dicetuskan melalui sumpah pemuda. Dan baru setelah kemerdekaan Indonesia tepatnya  pada tanggal 18 Agustus Bahasa Indonesia diakui secara Yuridis.

B.        Perumusan Masalah
Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.  Apa sajakah kedudukan Bahasa Indonesia ?
2.  Apa sajakah fungsi Bahasa Indonesia ?
3.  Bagaimanakah sejarah perkembangan Bahasa Indonesia ?
4.  Apa sajakah ragam Bahasa Indonesia ?




C.       Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.     Untuk mengetahui perkembangan bahasa indonesia mulai dari sumber atau asal usul bahasa indonesia itu sendiri serta peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan resminya bahasa melayu menjadi bahasa indoneisa.
2.     Untuk mengetahui Fungsi serta Kedudukan Bahasa Indonesia.
3.     Untuk Mengetahui apa saja ragan serta variasi bahasa.

D.       Manfaat
Diantara manfaat mempelajari perkembangan Bahasa Indonesia adalah agar pengetahuan kita lebih luas mengenai masalah bagaimana sebenarnya sejarah atau asal usul lahirnya bahasa Indonesia, bagaimana proses terjadinya sampai akhirnya bahasa Indonesia itu sendiri memiliki nilai yang berarti bagi bangsa Indonesia.






















BAB II
PEMBAHASAN

A.       Kedudukan Bahasa Indonesia
Secara formal sampai saat ini bahasa Indonesia mempunyai empat kedudukan, yaitu sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Dalam perkembangannya lebih lanjut, bahasa Indonesia berhasil mendudukkan diri sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu. Keenam kedudukan ini mempunyai fungsi yang berbeda, walaupun dalam praktiknya dapat saja muncul secara bersama-sama dalam satu peristiwa, atau hanya muncul satu atau dua fungsi saja.
Bahasa Indonesia dikenal secara luas sejak "Soempah Pemoeda", 28 Oktober 1928, yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pada saat itu para pemuda sepakat untuk mengangkat bahasa Melayu-Riau sebagai bahasa Indonesia. Para pemuda melihat bahwa bahasa Indonesialah yang berpotensi dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri atas ratusan suku vangsa atau etnik. Pengangkatan status ini ternyata bukan hanya isapan jempol. Bahasa Indonesia bisa menjalankan fungsi sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia rasa kesatuan dan persatuan bangsa yang berbagai etnis terpupuk. Kehadiran bahasaIndonesia di tengah-tengah ratusan bahasa daerah tidak menimbulkan sentimen negatif bagi etnis yang menggunakannya. Sebaliknya, justru kehadiran bahasa Indonesia dianggap sebagai pelindung sentimen kedaerahan dan sebagai penengah ego kesukuan.
Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing, bahasa Indonesia justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu tanpa meinggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa etnik yang bersangkutan. Bahkan, lebih dari itu, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini, kepentingan nasional diletakkan jauh di atas kepentingan daerah dan golongan.
Latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda berpotensi untuk menghambat perhubungan antardaerah antarbudaya. Tetapi, berkat bahasa Indonesia, etnis yang satu bisa berhubungan dengan etnis yang lain sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Setiap orang Indonesia apa pun latar belakang etnisnya dapat bepergian ke pelosok-pelosok tanah air dengan memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Kenyataan ini membuat adanya peningkatan dalam penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia dalamn fungsinya sebagai alat perhubungan antardaerah antarbudaya. Semuanya terjadi karena bertambah baiknya sarana perhubungan, bertambah luasnya pemakaian alat perhubungan umum, bertambah banyaknya jumlah perkawinan antarsuku, dan bertambah banyaknya perpindahan pegawai negeri atau karyawan swasta dari daerah satu ke daerah yang lain karena mutasi tugas atau inisiatif sendiri.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mulau dikenal sejak 17 Agustus 1945 ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dalam kedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional atau lambang kebangsaan. Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan. Melalui bahasa nasional, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia dipelihara dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Rasa kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia ini pun terus dibina dan dijaga oelh bangsa Indonesia. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera nasional, Merah Putih, dan lagu nasional bangsa Indonesia, Indonesia Raya. Dalam melaksanakan fungsi ini, bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri sehingga serasi dengan lambang kebangsaan lainnya. Bahasa Indonesia dapat mewakili identitasnya sendiri apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsur-unsur bahasa lain, yang memang benar-benar tidak diperlukan, misalnya istilah/kata dari bahasa Inggris yang sering diadopsi, padahal istilah.kata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Sejalan dengan fungsinya sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya, bahasa Indonesia telah berhasil pula menjalankan fungsinya sebagai alat pengungkapan perasaan. Kalau beberapa tahun yang lalu masih ada orang yang berpandangan bahwa bahasa Indonesia belum sanggup mengungkapkan nuansa perasaan yang halus, sekarang dapat dilihat kenyataan bahwa seni sastra dan seni drama, baik yang dituliskan maupun yang dilisankan, telah berkembang demikian pesatnya. Hal ini menunjukkan bahwa nuansa perasaan betapa pun halusnya dapat diungkapkan secara jelas dan sempurna dengan menggunakan bahasa Indonesia. Kenyataan ini tentulah dapat menambah tebalnya rasa kesetiaan kepada bahasa Indonesia dan rasa kebanggaan akan kemampuan bahasa Indonesia.
Dengan berlakunya Undang-undang Dasar 1945, bertambah pula kedudukan bahasa Indonesia, yaitu sebagai bahasa negara dan bahasa resmi. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia dipakai dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik secara lisan maupun tulis. Dokumen-dokumen, undang-undang, peraturan-peraturan, dan surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan instansi kenegaraan lainnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato kenegaraan ditulis dan diucapkan dengan bahasa Indonesia. Hanya dalam kondisi tertentu saja, demi komunikasi internasional (antarbangsa dan antarnegara), kadang-kadang pidato kenegaraan ditulis dan diucapkan dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Warga masyarakat pun dalam kegiatan yang berhubungan dengan upacara dan peristiwa kenegaraan harus menggunakan bahasa Indonesia. Untuk melaksanakan fungsi sebagai bahasa negara, bahasa perlu senantiasa dibina dan dikembangkan. Penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan dalam pengembangan ketenagaan, baik dalam penerimaan karyawan atau pagawai baru, kenaikan pangkat, maupun pemberian tugas atau jabatan tertentu pada seseorang. Fungsi ini harus diperjelas dalam pelaksanaannya sehingga dapat menambah kewibawaan bahasa Indonesia.
Dalam kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia bukan saja dipakai sebagai alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja dipakai sebagai alat perhubungan antardaerah dan antarsuku, tetapi juga dipakai sebagai alat perhubungan formal pemerintahan dan kegiatan atau peristiwa formal lainnya. Misalnya, surat-menyurat antarinstansi pemerintahan, penataran para pegawai pemerintahan, lokakarya masalah pembangunan nasional, dan surat dari karyawan atau pagawai ke instansi pemerintah. Dengan kata lain, apabila pokok persoalan yang dibicarakan menyangkut masalah nasional dan dalam situasi formal, berkecenderungan menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi, di antara pelaku komunikasi tersebut terdapat jarak sosial yang cukup jauh,misalnya antara bawahan - atasan, mahasiswa - dosen, kepala dinas - bupati atau walikota, kepala desa - camat, dan sebagainya.
Akibat pencantuman bahasa Indonesia dalam Bab XV, Pasal 36, UUD 1945, bahasa Indonesia pun kemudian berkedudukan sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu. Di samping sebagai bahasa negara dan bahasa resmi. Dalam hubungannya sebagai bahasa budaya, bahasa Indonesia merupakan satu-satunya alat yang memungkinkan untuk membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri dan identitas sendiri, yang membedakannya dengan kebudayaan daerah. Saat ini bahasa Indonesia dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan semua nilai sosial budaya nasional. Pada situasi inilah bahasa Indonesia telah menjalankan kedudukannya sebagai bahasa budaya. Di samping itu, dalam kedudukannya sebagai bahasa ilmu, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pendukung ilmu pengetahuna dan teknologi (iptek) untuk kepentingan pembangunan nasional. Penyebarluasan iptek dan pemanfaatannya kepada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan negara dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Penulisan dan penerjemahan buku-buku teks serta penyajian pelajaran atau perkuliahan di lembaga-lembaga pendidikan untuk masyarakat umum dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, masyarakat Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada bahasa-bahasa asing (bahasa sumber) dalam usaha mengikuti perkembangan dan penerapan iptek. Pada tahap ini, bahasa Indonesia bertambah perannya sebagai bahasa ilmu. Bahasa Indonesia oun dipakai bangsa Indonesia sebagai alat untuk mengantar dan menyampaian ilmu pengetahuan kepada berbagai kalangan dan tingkat pendidikan.
Bahasa Indonesia berfungsi pula sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari lembaga pendidikan terendah (taman kanak-kanak) sampai dengan lembaga pendidikan tertinggi (perguruan tinggi) di seluruh Indonesia, kecuali daerah-daerah yang mayoritas masih menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Di daerah ini, bahasa daerah boleh dipakai sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan tingkat sekolah dasar sampai dengan tahun ketiga (kelas tiga). Setelah itu, harus menggunakan bahasa Indonesia. Karya-karya ilmiah di perguruan tinggi (baik buku rujukan, karya akhir mahasiswa - skripsi, tesis, disertasi, dan hasil atau laporan penelitian) yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, menunjukkan bahwa bahasa Indonesia telah mampu sebagai alat penyampaian iptek, dan sekaligus menepis anggapan bahsa bahasa Indonesia belum mampu mewadahi konsep-konsep iptek.

B.        Fungsi Bahasa Indonesia
Didalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) Lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional, (3) alat perhubungan antar warga, antar daerah, dan antar budaya,dan (4) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai – bagai suku bangsa dengan latar belakang social budaya dan bahasanya masing – masing kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia.
Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilai – nilai social budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Atas dasar kebanggaan ini , bahasa Indonesia kita pelihara dan kita kembangkan serta rasa kebanggaan pemakainya senantiasa kita bina.
Sebagai lambang identitas nasional,bahasa Indonesia kita junjung disamping bendera dan lambang Negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari unsure – unsure bahasa lain.
Fungsi bahasa Indonesia yang ketiga – sebagai bahasa nasional – adalah sebagai alat perhubungan antar warga , antar daerah, dan antar suku bangsa. Berkat adanya bahasa nasional kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalah pahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang social budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan.kita dapat bepergian dari pelosok yang satu ke pelosok yang lain di tanah air kita dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat komunikasi.
Fungsi bahasa Indonesia yang keempat dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, adalah sebagai alat yang memungkinkan terlaksananya penyatuan berbagai – bagai suku bangsa yang memiliki latar belakang social budaya dan bahasa yang berbeda-beda kedalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat. Didalam hubungan ini bahasa Indonesia memungkinkan berbagai bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai – nilai social budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Lebih dari itu, dengan bahasa nasional itu kita dapat meletakkan kepentingan nasional jauh diatas kepentingan daerah atau golongan.
Didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan , (2) bahasa pengantar didalm dunia pendidikan, (3) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagai bahasa resmi kenegaraan , bahasa Indonesia dipakai didalam segala upacara, peristiwa dan kegiatan kenegaraanbaik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Termasuk kedalam kegiatan – kegiatan itu adalah penulisan dokumen – dokumen dan putusan – putusan serta surat – surat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan – badan kenegaraan lainnya, serta pidato-pidato kenegaraan.
Sebagai fungsinya yang kedua didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara , bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar di lembaga – lembaga pendidikan mulai taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi diseluruh Indonesia , kecuali di daerah – daerah, seperti daerah aceh, batak , sunda , jawa , Madura , bali , dan Makassar yang menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa pengantar sampai dengan tahun ketiga pendidikan dasar.
Sebagai fungsinya yang ketiga didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia adalah alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan untuk kepentingan pelaksanaan pemerintah . didalam hubungan dengan fungsi ini, bahasa Indonesia dipakai bukan saja sebagai alat komunikasi timbal – balik antara pemerintah dan masyarakat luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan antar daerah dan antar suku , melainkan juga sebagai alat perhubungan didalam masyarakat yang sama latar belakang social budaya dan bahasanya.
Akhirnya , didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara , bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pengembangan kebudayaan nasional , ilmu pengetahuan , dan teknologi . didalam hubungan ini bahasa Indonesia adalah satu – satunya alat yang memungkinkan kita membina dan mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memikili cirri – ciri dan identitasnya sendiri , yang membedakannya dari kebudayaan daerah. Pada waktu yang sama , bahasa Indonesia kita pergunakan sebagai alat untuk menyatakan nilai – nilai social budaya nasional kita. ( Halim , 1979 : 4 – 56; Moediono,1980:15-31).
Disamping itu, sekarang ini fungsi bahasa Indonesia telah pula bertambah besar. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa media massa . media massa cetak dan elektronik, baik visual, audio, maupun audio visual harus memakai bahasa Indonesia. Media massa menjadi tumpuan kita dalam menyebarluaskan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Di dalam kedudukannya sebagai sumber pemerkaya bahasa daerah , bahasa Indonesia berperanana sangat penting. Beberapa kosakata bahasa Indonesia ternyata dapat memperkaya khasanah bahasa daerah, dalam hal bahasa daerah tidak memiliki kata untuk sebuah konsep.
Bahasa Indonesia sebagai alat menyebarluaskan sastra Indonesia dapat dipakai. Sastra Indonesia merupakan wahana pemakaian bahasa Indonesia dari segi estetis bahasa sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa yang penting dalam dunia internasional.
Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama.  Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.
Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambang.
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern.
a.      Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku,  merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan.
Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita. Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
·       agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita.
·       keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.
Pada taraf  permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang  sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).
b.     Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).
Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.
Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal,asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.
c.      Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati .
Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.
d.     Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial.
Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. klan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

C.        Sejarah Bahasa Indonesia
1.     Masa lalu sebagai bahasa Melayu
Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Kerajaan Sriwijaya (dari abad ke-7 Masehi) memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuno) sebagai bahasa kenegaraan. Hal ini diketahui dari empat prasasti kuno yang ditemukan berdekatan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu. Pada saat itu bahasa Melayu yang digunakan bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta. Sebagai penguasa perdagangan di kepulauan ini (Nusantara), para pedagangnya membuat orang-orang yang berniaga terpaksa menggunakan bahasa Melayu, walaupun secara kurang sempurna. Hal ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal, yang secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti. Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah (berangka tahun abad ke-9) dan di dekat Bogor (Prasasti Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan adanya penyebaran penggunaan bahasa ini di Pulau Jawa. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila, Pulau Luzon, berangka tahun 900 Masehi juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.
Kajian linguistik terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua dialek bahasa Melayu Kuno yang digunakan pada masa yang berdekatan. Sayang sekali, bahasa Melayu Kuna tidak meninggalkan catatan dalam bentuk kesusasteraan meskipun laporan-laporan dari Tiongkok menyatakan bahwa Sriwijaya memiliki perguruan agama Buddha yang bermutu.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Alfred Russel Wallace menuliskan di Malay Archipelago bahwa “penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain, sehingga bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh dunia Timur. Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia Belanda.” Selanjutnya, Jan Huyghen van Linschoten, di dalam buku Itinerario (”Perjalanan”) karyanya, menuliskan bahwa “Malaka adalah tempat berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Mereka lalu membuat sebuah kota dan mengembangkan bahasa mereka sendiri, dengan mengambil kata-kata yang terbaik dari segala bahasa di sekitar mereka. Kota Malaka, karena posisinya yang menguntungkan, menjadi bandar yang utama di kawasan tenggara Asia, bahasanya yang disebut dengan Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling pas di antara bahasa-bahasa di Timur Jauh”.
Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional di masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.

Ragam Bahasa Indonesia-Suroboyoan dalam Komunikasi via SMS


Oleh:
Anneke Heritaningsih Tupan
atupan@peter.petra.ac.id
BIPA FS-UK PETRA


Abstrak
Lancar berbicara dalam Bahasa Indonesia (BI) adalah kemampuan yang ingin dimiliki oleh setiap Penutur Asing (PA) atau pembelajar yang belajar Bahasa Indonesia. Pernyataan ini tidak dapat dipungkiri karena PA yang belajar BI ingin menggunakan bahasa yang sedang dipelarinya untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat mencapai keinginan tersebut, aspek keseharian dalam berinteraksi menjadi bagian yang harus dicermati oleh para pengajar BIPA. Kenyataan dilapangan dapat membuat PA ‘frustasi’ karena ragam BI yang dipelajarinya di kelas sering tidak dapat digunakan sepenuhnya ketika mereka berinteraksi dengan para penutur asli. Hal ini disebabkan karena ragam bahasa yang digunakan penutur asli, dalam konteks pergaulan, kurang atau sama sekali tidak dapat dipahami PA. Kenyataan ini adalah tantangan bagi pengajar BIPA untuk senantiasa mengupdate bahan ajarnya dengan menyisipkan berbagai latihan guna menjembatani pembelajaran BI di kelas dengan ragam bahasa Indonesia yang dijumpai di luar kelas. Makalah ini bertujuan membagikan pengalaman penulis tentang peran dan fungsi ragam bahasa dalam pengajaran BIPA kepada sekelompok mahasiswa Korea yang kuliah di UK Petra. Dalam pengajaran BIPA, penulis menyisipkan pengajaran ragam bahasa Indonesia-Suroboyoan melalui beragam latihan menulis pesan melalui SMS dari mahasiswa Korea kepada mahasiswa penutur asli.


  1. Pendahuluan
Banyak hal yang dapat menentukan keberhasilan suatu kegiatan pengajaran BIPA, diantaranya motivasi pembelajar, keahlian dan ketrampilan pengajar, metode pengajaran, dan penyediaan materi ajar yang sesuai dengan tujuan pembelajar. Pada makalah ini penulis  membahas salah satu aspek saja, yaitu perancangan materi ajar yang bermuatan ragam bahasa Indonesia-Suroboyoan dengan pendekatan komunikatif integratif.
Mengapa ragam bahasa Indonesia-Suroboyoan? Di Indonesia terdapat banyak ragam bahasa, misalnya ragam Bahasa Indonesia resmi, ragam Bahasa Indonesia lokal, ragam Bahasa Indonesia dialek Jakarta, ragam Bahasa Indonesia-Suroboyoan dst. Bila proses belajar BIPA terjadi di luar negeri, mungkin cukup mengajarkan ragam Bahasa Indonesia baku saja tetapi bila proses tersebut berlangsung di Indonesia, perlu dipertimbangkan rancangan penyajian materi ragam Bahasa Indonesia nonbaku. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan dimana pembelajar (Penutur Asing/PA)  belajar Bahasa Indonesia. Ragam bahasa Indonesia-Suroboyoan dipilih karena pembelajar belajar Bahasa Indonesia di Surabaya, di kampus Universitas Kristen Petra. Dalam berinteraksi, pembelajar menggunakan bahasa Indonesia yang dipelajarinya di kelas baik secara lisan maupun tertulis .
Kenyataan yang terjadi di lapangan dapat membuat pembelajar ‘frustasi’ karena ragam Bahasa Indonesia yang dipelajarinya di kelas sering tidak dapat digunakan sepenuhnya ketika mereka berinteraksi dengan para penutur asli. Hal ini disebabkan karena ragam bahasa yang digunakan penutur asli, dalam konteks pergaulan, adalah ragam bahasa Indonesia-Suroboyoan yang  kurang atau sama sekali tidak dapat dipahami pembelajar. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi pengajar BIPA untuk senantiasa mengupdate bahan ajarnya dengan menyisipkan berbagai latihan, misalnya mengirim pesan melalui SMS,  guna menjembatani pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas dengan ragam bahasa Indonesia-Suroboyoan  yang dijumpai di luar kelas.
           
B.    Pentingnya Perancangan Materi Ajar BIPA dengan Pendekatan Komunikatif Integratif

            Dalam belajar bahasa asing dikenal empat macam kemahiran bahasa (four skills), yaitu kemahiran mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Kemahiran mendengar dan membaca bersifat reseptif, sedang kemahiran berbicara dan menulis bersifat produktif. Penguasaan bahasa yang ideal mencakup keempat jenis kemahiran tersebut, walaupun kenyataannya ada siswa yang cepat mahir berbicara tetapi lemah dalam menulis atau sebaliknya (Lado, 1985).
            Terkait retensi atau kemampuan mengingat kembali unsur-unsur bahasa yang sudah dipelajari, kemahiran membaca mempunyai derajat yang paling rendah. Seperti dilaporkan oleh Eskey (1986) pada umumnya pembelajar hanya 10% mengingat dari apa yang mereka baca, 20% dari apa yang mereka dengar, 30% dari apa yang mereka lihat, 50% dari apa yang mereka dengar dan lihat, 70% dari apa yang mereka katakan dan tulis, dan 90% dari apa yang mereka katakan seperti yang mereka lakukan. Mengingat rendahnya kemampuan mengingat dari apa yang mereka baca dan dengar dalam proses belajar bahasa asing, maka pelajaran membaca, mendengar, dan berbicara harus mendapat perhatian yang seksama.
            Penggunaan pendekatan yang tepat dan pemilihan bahan ajar yang fungsional memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran bahasa asing. Seperti dijelaskan oleh Klippel (1987, p. 4) para pembelajar yang termasuk lower-level cognitive skills memerlukan materi pelajaran yang menekankan identifikasi bentuk; sedangkan para pembelajar yang termasuk higher-level cognitive skills memerlukan materi pelajaran yang menekankan interpretasi makna. Oleh karena itu, dalam merancang materi ajar  BIPA yang ditujukan untuk lower-level cognitive skills, atau disebut kelas pemula, penulis memilih materi ajar yang fungsional dan menggunakan pendekatan komunikatif integratif. Penggunaan pendekatan tertentu berkorelasi dengan jenis kemahiran dan materi yang dipelajari. Kelas pemula ini biasanya ditandai oleh kemampuan berkomunikasi secara minimal tentang materi yang dipelajari,  
            Pendekatan komunikatif integratif adalah pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang menekankan aspek komunikatif dan integratif. Komunikatif diartikan sebagai pendekatan yang mengutamakan pembelajar dalam menggunakan bahasa target untuk berkomunikasi secara aktif. Hal in berarti bahwa fokus pembelajaran terletak pada penggunaan bahasa dalam konteks kehidupan sehari-hari.
            Sedangkan yang dimaksud dengan integratif adalah keterpaduan penggunaan empat kemahiran bahasa yaitu mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Dalam pendekatan integratif, pembelajar juga dilibatkan dalam aktivitas di kelas dan di luar kelas, baik dalam bentuk tugas terstruktur maupun dalam bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. Dalam hal ini, pembelajar  diberi latihan lisan di kelas dengan cara bermain peran dan diberi tugas untuk berkomunikasi secara tertulis dengan penutur asli dengan cara mengirim pesan melalui SMS. Pengalaman inilah yang akan dibagikan penulis ketika mengajar mahasiswa Korea di kampus UK Petra, mulai dari pemilihan materi, penyajian materi, pemberian tugas/latihan sampai dengan pembahasan tugas.

C.    Pertimbangan Pemilihan Materi
Dalam memilih dan menentukan materi ajar, penulis menggunakan beberapa aspek berikut ini sebagai bahan pertimbangan

1.     Tujuan Pengajaran (umum, khusus, sasaran)
Merumuskan tujuan umum pengajaran Bahasa Indonesia yang akan dicapai, yaitu dapat menguasai Bahasa Indonesia secara komunikatif. Tujuan khusus adalah tujuan yang dikaitkan dengan bidang tertentu dan sasaran adalah tujuan khusus yang lebih sempit lagi, misalnya dalam batas-batas tertentu.

2.     Aspek-aspek Linguistik
Materi ajar yang sudah ditentukan dipilah-pilah dan diklasifikasikan berdasarkan satuan-satuan linguistik, misalnya kosakata, fonologi, morfologi, frasa, klausa, sintaksis dan wacana.

3.     Latar belakang pembelajar dan kebudayaan
Materi ajar yang dipilih dikaitkan dengan latar belakang kondisi pembelajar, misalnya usia (anak2, remaja, dewasa), tingkat pendidikan, kecenderungan minat pembelajar, kebudayaan pembelajar dan kebudayaan Indonesia.

4.     Jangka waktu yang dibutuhkan
Menentukan batasan dan jumlah materi ajar harus disesuaikan dengan tujuan yang telah dirumuskan. Misalnya, untuk mencapai tujuan tertentu dengan batasan dan jumlah materi tertentu dibutuhkan waktu 30 jam dengan rincian 2x tatap muka/minggu a’ 2 jam. Jadi waktu yang dibutuhkan adalah 10 minggu.

5.     Tempat berlangsungnya proses belajar mengajar Bahasa Indonesia
Bila proses belajar mengajar Bahasa Indonesia dilakukan di Indonesia, maka ragam bahasa setempat harus diperkenalkan kepada pembelajar. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar pembelajar merasakan langsung bahwa Bahasa Indonesia yang dipelajarinya di kelas sangat berterima ketika digunakan untuk berinteraksi diluar kelas dengan penutur asli/masyarakat.



6.     Suasana percakapan
Suasana dan latarbelakang percakapan yang diajarkan harus bervariasi, misalnya di pasar, di kantor, di toko, di Terminal bis/stasiun/bandara atau pertemuan yang tidak terduga seperti di mall, di restoran dst.

7.     Penguasaan Bahasa Indonesia calon pembelajar.
Apakah calon pembelajar sudah pernah belajar Bahasa indonesia sebelumnya atau calon pembelajar belum pernah relajar Bahasa Indonesia sama sekali.

D.    Penyajian Materi Ajar
            Sesuai dengan pendekatan komunikatif integratif, materi ajar disajikan dalam bentuk percakapan/dialog yang dalam proses belajar mengajarnya mencakup empat kemahiran bahasa, yaitu mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Percakapan sebagai materi ajar bisa dimulai dengan membaca seperti yang disarankan oleh  Nunan (1990) yaitu Guru memberi contoh dengan membaca seluruh percakapan dan pembelajar mendengarkan/menyimak dengan seksama. Setelah itu pembelajar diminta untuk bermain peran secara bergantian dengan sesama temannya. Untuk megembangkan kosakata, pembelajar diminta untuk mengganti kata kunci dengan kata-kata lain dengan memperhatikan unsur tata bahasa (mencakup penjelasan struktur dan pelatihan pola struktur). Bentuk materi pelatihan dapat disajikan dalam bentuk substitusi, pencocokan jalaban, pertanyaan dll. Untuk kegiatan menulis, pembelajar diberi tugas untuk menyusun kata-kata yang diacak menjadi sebuah kalimat atau berkomunikasi secara tertulis melalui SMS dengan teman penutur asli yang telah diberi tugas untuk membantu pembelajar.
            Materi ajar ini disajikan secara bertahap sesuai kebutuhan pembelajar sehingga dapat langsung digunakan pembelajar untuk berinteraksi lisan atau tertulis dengan sesama temannya dalam kehidupan seharĂ­-hari. Biasanya pembelajar dibantu oleh sesama mahasiswa, yaitu penutur asli yang diberi tugas pendampingan. Tujuan pendampingan ini adalah agar pembelajar dapat beradaptasi dengan lingkungannya  dan menggunakan bahasa yang dipelajarinya dalam komunitas mahasiswa penutur asli yang berbahasa Indonesia dengan ragam bahasa Suroboyoan.

1.     Pertemuan di kampus UK Petra
(Percakapan dibawah ini bisa dibaca dengan saling bertukar peran, setelah itu pembelajar diberi tugas untuk mengganti beberapa kata kunci dengan kata lain untuk menambah kosakata)

Woo Pyong     : Selamat Pagi
Herman           : Selamat Pagi
Woo Pyong     : Boleh saya bertanya?
Herman           : Silahkan. Mau Tanya apa?
Woo Pyong     : Dimana kelas Bahasa Indonesia?
Herman           : Oh, di lantai dua, Ruang B 201
Woo Pyong     : Terimakasih
Herman           : Sama-sama

 Selamat Siang                           Kantin                      di pojok/di ujung
 Selamat Malam            Kamar kecil              di kiri/ di kanan

 Terimakasih                  Sama-sama               Boleh saya bertanya?     
 Makasih                        Kembali                    Boleh tanya, ya?
                                                                         Boleh nanya, ya?                   








Pemahaman:
Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini dengan singkat

a.      Siapa yang bertanya kepada Herman?
b.     Sudah kenalkah Herman pada Woo Pyong?
c.      Apa yang ditanyakan Woo Pyong?
d.     Mengapa Woo Pyong bertanya?
e.      Apakah Woo Pyong orang baru di kampus UK Petra
f.      Dari mana Anda tahu kalau Woo Pyong orang baru di kampus UK Petra?
g.     Dapatkah Herman membantu Woo Pyong?

2.     Pertemuan di Kelas Bahasa Indonesia
      Woo Pyong     : Selamat Pagi, Pak
      Guru                : Selamat Pagi
      Woo Pyong     : Apakah ini kelas bahasa Indonesia?
      Guru                : Ya, benar. Anda siapa?
      Woo Pyong     : Saya Woo Pyong, dari Korea. Saya  mau belajar Bahasa
Indonesia
      Guru                : Oh, silahkan masuk. Saya sedang menunggu Anda
      Woo Pyong     : Terimakasih, Pak.

Saya mau    makan      nasi/roti
                    minum     air/teh/kopi
                    mandi
                    belajar     bahasa
                    duduk
                    pulang
Saya mau   ke  kampus
                        mall
                        kantin
                        supermarket
                        dokter
                        kamar kecil
     
      Pemahaman:
      Pilihlah kata yang paling tepat untuk melengkapi kalimat berikut.
     
a.      Wo Pyong memberi ………………… kepada seorang bapak
b.     Wo Pyong sedang mencari kelas …………………….
c.      Bapak Guru …………………. Wo Pyong ke dalam kelas.
d.     Bapak Guru sedang ……………………..  Wo Pyong
e.      Bapak Guru sudah ……………. kalau Wo Pyong akan datang hari itu.


ucapan                             Bahasa Korea               Bahasa Indonesia         
menunggu                       mengetahui                    mempersilahkan

     

3.     Bacalah SMS berikut ini.
(Dengan bantuan guru, pembelajar membaca dan memahami isi SMS. Kemudian guru mengecek pemahaman pembelajar dan setelah itu pembelajar diminta untuk membuat jawaban atas SMS tersebut)
                       
                        (a)

Jangan lupa, besok rapat pleno di T AV 501 jam 10. Bilang Aryo, saya agak terlambat , ada kelas MPL – Ratih –

(J lp bsk d rpt pleno d T AV 501 j 10. Bil aryo sy tlt d kls MPL – Ratih-)


      (b)

Mbak, bilang ke ibu kos aku pulang malam, ada tugas terus rapat PHMJ – Mega –

(mb, bil b kos aq pul mlm d tgs trs rpt PHMJ – Mega-)


      ©

Selamat Ulang tahun, Maya. Ke? Jangan lupa ngajak aku kalo mau nraktir – Dio –

(S ultah, Maya, ke? J lp ngjk aq klo m nrkt – Dio-)


      (d)

Mas, jemput saya di depan wartel aja, ya. Jam 2 tepat. Jangan telat
- Nuri -

(ms, jmpt sy di dpn wrtl j ya, j 2 tpt. J tlt – Nuri –)


Apa maksud dari SMS tersebut di atas? Isilah bagian kalimat yang kosong berikut ini dengan kata yang tepat.
a.      Ratih mau temannya tidak .................... tentang rapat pleno besok.
b.     Mega minta .................... kepada temannya.
c.      Dio mengucapkan .................................... kepada Maya.
d.     Nuri minta ...................................... di depan wartel jam 14:00.

4.     Jawaban SMS pembelajar

(a)

Maaf, Ratih. Saya rapat terlambat. Ada quiz sampai jam 11 (Mee Ding)

      (b)

Ya, hati-hati. Terimakasih (Yoo Ming)


      (c)

Terimakasih. Umur saya ke 20 (Sue Ling)


      (d)

Baik. Jam 2 saya datang jemput. Terimakasih (Woo Pyong)



5.     Contoh SMS antar pembelajar dengan teman penutur asli

Contoh:

Pyong, aq tunggu di kantin. Cepet, yo. Selak abis makanan favmu.
- Agus -



Ya. Saya sedang berjalan. Tolong pesan Selak Abis. Enak, ya? Dingin? - Pyong



Ngawur, kon. Maksudku sate ayam favoritmu. Ayo cepetaaaan – Agus



Catatan:
Dari jawaban SMS Pyong, tampak bahwa Pyong kurang memahami isi SMS dari Agus. Ketika masalah ini didiskusikan di kelas, diketahui bahwa ketidak mengertian Pyong disebabkan Agus menggunakan bahasa Indonesia Suroboyoan. Untuk latihan selanjutnya, guru membantu Pyong  memperkaya Bahasa Indonesianya dengan ragam bahasa daerah Surabaya.

6.     Kata Tanya dalam Bahasa Indonesia
a.   Kata Tanya untuk menanyakan tempat:
      di mana, di manakah
      ke mana, ke manakah
      dari mana, dari manakah
                        b.   Kata Tanya untuk menanyakan waktu:
                              bila, kapan, bilakah, kapankah
                        c.   Kata Tanya untuk menanyakan orang:
                              siapa, siapakah
e.      Kata Tanya untuk menanyakan cara:
bagaimana, bagaimanakah
f.      Kata Tanya untuk menanyakan alasan:
mengana, mengapakah
g.     Kata Tanya untuk menanyakan sesuatu atau keadaan:
apa, apakah

            Berdasarkan contoh materi ajar tersebut di atas dan cara penyajian yang dikemukakan, dapat terlihat dengan jelas bahwa materi dan penyajiannya sangat dekat dengan keberadaan kehidupan pembelajar seharĂ­-hari (fungsional). Materi ajar ini memang sengaja dirancang sedemikian rupa agar pembelajar dapat mempraktikan langsung apa yang baru dipelajarinya di kelas dalam kebutuhannya berinteraksi dengan teman-temannya di luar kelas. Penulis menggunakan metode langsung dalam penyajian materi ajar BIPA, yaitu hanya menggunakan Bahasa Indonesia kecuali dalam keadaan terpaksa, penulis menggunakan bahasa Inggris.

E.    Kesimpulan dan Saran
            Dalam merancang materi ajar BIPA, penggunaan materi ajar yang fungsional dengan pendekatan komunikatif integratif memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Masukan yang diperoleh guru dari pembelajar melalui latihan yang diberikan di kelas maupun di luar kelas, sebaiknya digunakan untuk memperkaya latihan berikutnya. Dengan kata lain, selama proses belajar mengajar berlangsung maka materi ajar selalu terbuka untuk dimodifikasi sesuai kebutuhan pembelajar.
            Bantuan yang diberikan kepada pembelajar berupa pendampingan oleh mahasiswa penutur asli sangat bermanfaat. Ketika pembelajar mendapat kesulitan di luar kelas, ybs dapat segera menghubungi mahasiswa pendamping yang ditunjuk dan mendapat bantuan yang dibutuhkan tanpa harus menunggu atau merasa kebingungan terutama ketika kesulitan yang dihadapi terkait ragam bahasa Indonesia-Suroboyoan. Penulis menyarankan bahwa sebaiknya guru BIPA sedikitnya menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
     

REFERENSI

Dubin, F, and D.E Eskey and W Grabe. 1986. Teaching Second Language: Reading for Academic Purposes. Addison: Wesley Publishing Co.

      Klippel, F. 1987. Keep Talking: Communicative Fluency activities for Language
               Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.

Lado, R. 1985. Memory Span as a Factor in Second Language Learning, dalam IRAL 3:23-129.

     Nunan, D. 1990. Designing Tasks for Communicative Classroom. Cambridge: Cambridge University Press.




     




Littlre snake pin