Kamis, 17 Januari 2013

PENDEKATAN DALAM EVALUASI




Pendekatan dalam Evaluasi (Stecher, Brian M, & W. Alan Davis, 1987)
1.     Pendekatan Experimental
Pendekatan experimental yaitu evaluasi yang berorientasi pada penggunaan experimental science dalam program evaluasi. Pendekatan ini berasal dari control eksperimen yang biasanya dilakukan dalam penelitian akademik.Tujuan evaluator yaitu memperoleh kesimpulan bersifat umum tentang dampak suatu program tertentu yang mengontrol sebanyak-banyaknya faktor dan mengisolasi pengaruh program. Evaluator berusaha menggunakan metode saintifik sebanyak mungkin. Misal: evaluator menciptakan situasi yang dikontrol , dimana beberapa subjek menerima perlakuan, sedang yang lainnya tidak, dan membandingkan kedua kelompok untuk melihat dampak program. Evaluator memakai teknik dasar desain eksperimental acak, kelompok control, dan analisis longitudinal untuk menarik kesimpulan tentang dampak perlakuan.
Kelemahan pendekatan ini adalah tidak dapat melakukan control yang begitu ketat dalam kenyataannya, sedangkan keuntungannya ialah kemampuannya dalam menarik kesimpulan yang relative objektif, generalisasi jawaban terhadap pertanyaan program yang bersangkutan. Evaluator sebagai orang ketiga yang objektif dalam program yang menjalankan prinsip-prinsip desain penelitian dalam situasi yang diberikan untuk memperoleh informasi yang tidak diragukan kebenarannya atas dampak program.

2.     Pendekatan Berorientasi pada Tujuan
Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai criteria untuk menentukan keberhasilan. Evaluator mencoba mengukur sampai dimana pencapaian tujuan telah dicapai. Model ini memberi petunjuk pada pengembangan program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dan hasil yang akan dicapai.
Evaluator dalam pendekatan ini membantu klien merumuskan tujuannya dan menjelaskan hubungan antara tujuan dan kegiatan. Kalau evaluator berbicara tentang tujuan, klien kebanyakan bicara tentang hasil. Evaluator juga dapat membantu klien menerangkan rencana penerapan dan melihat proses pencapaian tujuan yang memperlihatkan kemampuan program menjalankan kegiatan sesuai rencana. Hasil evaluasi berisi penjelasan tentang status tujuan program.
Kelebihan pendekatan ini terletak pada hubungan antara tujuan dan kegiatan dan penekanan pada elemen yang penting dalam program melibatkan individu pada elemen khusus bagi mereka. Sedangkan, keterbatasannya yakni kemungkinan evaluasi ini melewati konsekuens yang tak diharapkan.

3.     Pendekatan Berfokus pada Keputusan (The Decision Focused Approach)
Pendekatan ini menekankan peranan informasi yang sistematik untuk pengelola program dalam menjalankan tugasnya. Informasi akan sangat berguna jika dapat membantu pengelola program membuat keputusan. Oleh sebab itu, kegiatan evaluasi harus direncanakan sesuai kebutuhan untuk keputusan program.
Pengumpulan data dan laporan dibuat untuk menambah efektifitas pengelola program. Pada tingkat perencanaan, pembuat program memerlukan informasi tentang masalah dan kapasitas organisasi. Selama dalam tingkat implementasi administrator memerlukan informasi tentang proses yang sedang berjalan. Bila program sudah selesai, keputusan penting akan dibuat berdasar hasil yang dicapai.
Evaluator memerlukan 2 macam informasi dari klien, yakni:
a.      Mengetahui butir-butir keputusan penting pada tiap periode selama program berjalan.
b.     Mengetahui macam informasi yang mungkin akan berpengaruh untuk tiap keputusan.
Keunggulan pendekatan ini ialah perhatiannya terhadap kebutuhan pembuat keputusan yang khusus dan pengaruh yang makin besar pada keputusan program yang relevan. Keterbatasannya yakni banyak keputusan penting dibuat tidak pada waktu yang tepat, tapi di waktu yang kurang tepat. Keputusan tidak dibuat berdasar data, tapi bergantung impresi perorangan, politik, perasaan, kebutuhan pribadi, dll. Evaluator mungkin dapat memberi pengaruh positif lebih objektif dan rasional. Evaluator juga perlu berkonsultasi dengan pemegang keputusan.

4.     Pendekatan Berorientasi pada Pemakai (The User Oriented Approach)
Pendekatan ini menekankan pada perluasan pemakaian informasi. Pemakai informasi yang potensial adalah tujuan utama. Evaluator menyadari sejumlah elemen yang cenderung mempengaruhi kegunaan evaluasi. Hal ini termasuk elemen seperti cara pendekatan dengan klien, kepekaan, faktor kondisi, dan situasi seperti kondisi yang telah ada, keadaan organisasi dan pengaruh masyarakat, dan situasi dimana evaluasi dilakukan dan dilaporkan. Elemen paling penting mungkin keterlibatan pemakai yang potensial selama evaluasi berlangsung. Evaluator menekankan usaha pada pemakai dan cara pemakaian informasi.
Kelebihannya adalah perhatiannya terhadap individu yang berurusan dengan program dan perhatiannya terhadap informasi yang berguna untuk individu tersebut. Keterbatasannya yakni ketergantungannya terhadap kelompok yang sama. Kelompok dapat berganti komposisi berkali-kali dan dapat mengganggu kelangsungan atau kelancaran kegiatan evaluasi. Dalam pendekatan ini, evaluator lebih menaruh perhatian pada situasi dan hubungan antarpersonel daripada aturan penelitian atau pada keperluan pengukuran. Evaluator juga berperan bukan sebagai ahli, tapi rekan yang mencoba menolong untuk hal-hal yang diperlukan organisasi. Patton menamakan pendekatan ini sebagai “active, reactive, adaptive” dimana evaluator memberikan ide pada kelompok pemakai, menerima saran mereka, dan mengadaptasikan evaluasi sesuai kebutuhan klien atau pemakai.

5.     Pendekatan yang Responsif (The Responsive Approach)
Evaluasi responsive percaya bahwa evaluasi berarti mencari pengertian suatu isu dari berbagai sudut pandangan dari semua orang yang terlibat, yang berminat, dan berkepentingan dengan program. Tujuan evaluator yaitu berusaha mengerti urusan program melalui berbagai sudut pandangan yang berbeda.
Evaluator juga mengadopsi pendekatan bermacam-macam dalam penelitiannya dan dalam masalah mencari tahu dinamika organisasi. Evaluasi responsive ditandai ciri penelitian kualitatif, naturalistic, bukan kuantitatif. Evaluator mengobservasi, merekam, menampi data, mengecek pengetahuan awal peserta program, dan mencoba membuat model yang mencerminkan pandangan berbagai kelompok. Elemen penting dalam pendekatan ini yaitu pengumpulan dan menyintesis data. Data utama pendekatan ini yakni observasi langsung dan tak langsung, dan bentuk laporan adalah studi kasus atau gambaran deskriptif. Evaluator bertindak sebagai organisator antropologis, pencari pengertian realitas melalui perspektif orang program, peserta program, dan kelompok lain dipengaruhi program tsb.
Kelebihannya yakni kepekaannya terhadap berbagai titik pandang dan kemampuannya mengakomodasi pendapat yang ambigis dan tidak fokus. Evaluasi ini juga dapat mendorong proses perumusan masalah dengan menyediakan informasi yang dapat menolong orang mengerti isu lebih baik. Keterbatasannya yakni keengganannya membuat prioritas atau penyederhanaan informasi untuk pemegang keputusan dan kenyataan yang praktis tidak mungkin menampung semua sudut pandang dari berbagai kelompok.
Pengaruh pendekatan ini terhadap pemfokusan evaluasi ialah evaluator menghabiskan banyak waktu berbicara dengan klien, mengamati kegiatan program, mencoba menyaring hal-hal yang dipandang penting oleh klien, dan masalah-masalah, konsep-konsep dan isu-isu dari berbagai sudut pandangan.

6.     Goal Free Evaluation
Alasan mengemukakan goal free evaluation (evaluasi bebas tujuan) adalah tujuan pendidikan tak dapat dikatakan sebagai pemberian, harus dievaluasi. Tujuan juga umumnya hanya formalitas, dan jarang menunjukkan tujuan sebenarnya dari proyek, atau tujuan berubah. Evaluasi berorientasi tujuan, evaluator diberitahu tujuan proyek dan karenanya membatasi dalam persepsinya, tujuan berlaku sebagai penutup mata, yang menyebabkannya melewati hasil penting yang langsung berhubungan dengan tujuan. Ciri-ciri evaluasi bebas tujuan, yaitu:
  1. Evaluator sengaja menghindar untuk mengetahui tujuan program
  2. Tujuan telah dirumuskan terlebih dahulu tidak dibenarkan menyempitkan fokus evaluasi
  3. Evaluasi bebas tujuan fokus pada hasil sebenarnya, bukan hasil yang direncanakan
  4. Hubungan evaluator dan manajer atau dengan karyawan proyek dibuat seminimal mungkin
  5. Evaluasi menambah kemungkinan ditemukannya dampak yang tak diramalkan

Mungkin lebih baik evaluasi berorientasi tujuan dan evaluasi bebas tujuan dikawinkan sehingga akan saling melengkapi.


Sumber:
DR. Farida Yusuf Tayibnapis, M.Pd.2000. Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta

Littlre snake pin