Senin, 14 Mei 2012

TEKNIK MODELING


A.   Asumsi Dasar
1.   Belajar bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa juga diperoleh secara tidak langsung dnegan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya.
2.  Bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka bisa unlearned (dihapus dari ingatan) dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh.
B.   Pengertian Modeling
Modeling berakar dari teori Albert Bandura dengan teori belajar sosial. Penggunaan teknik modeling atau penokohan telah dimulai pada akhir tahun 50-an, meliputi tokoh nyata, tokoh film, tokoh imajinasi atau imajiner. Beberapa istilah yang digunakan adalah penokohan (modeling), peniruan (imitation), dan belajar melalui pengamatan (observational learning). Penokohan istilah yang menunjukan terjadinya proses belajar melalui pengamatan (observational learning) terhadap orang lain dan perubahan terjadi melalui peniruan. Peniruan (imitation) menunjukkan bahwa perilaku orang lain yang diamat, yang ditiru, lebih merupakan peniruan terhadap apa yang dilihat dan yang diamati. Proses belajar melalui pengamatan menunjukkan terjadinya proses belajar setelah mengamati perilaku pada orang lain.
Perry dan Furukawa (dalam Abimanyu dan Manrihu 1996) mendefinisikan modeling sebagai proses belajar melalui observasi dimana tingkah laku dari seorang individu atau kelompok, sebagai model, berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap, atau tingkah laku sebagai bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang ditampilkan. Teknik modeling ini adalah suatu komponen dari suatu strategi dimana konselor menyediakan demonstrasi tentang tingkah laku yang menjadi tujuan. Model dapat berupa model sesungguhnya (langsung) dan dapat pula simbolis. Model sesungguhnya adalah orang, yaitu konselor, guru, atau teman sebaya. Di sini konselor bisa menjadi model langsung dengan mendemonstrasikan tingkah laku yang dikehendaki dan mengatur kondisi optimal bagi konseli untuk menirunya. Model simbolis dapat disediakan melalui material tertulis seperti: film, rekaman audio dan video, rekaman slide, atau foto. Teknik modeling ini juga bisa dilakukan dengan meminta konseli mengimajinasikan seseorang melakukan tingkah laku yang menjadi target seperti yang dilakukan dalam ‘modeling terselubung’.
Suatu cara penting wahana individu belajar merespon pada situasi adalah dengan mengamati orang-orang lain. Tingkah laku motor komplek, pola verbal rumit, dan ketrampilan sosial yang halus, juga berbagai reaksi emosional, terhadap stimuli sosial lainnya, dapat dipelajari melalui pengamatan(observasi) (Bandura, 1969, Bourdon, 1970). Sebagian belajar ini bersifat sengaja, tapi umumnya berlangsung insidentil, tak sengaja.
Sehingga, kecakapan-kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada. Juga reaksi-reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati orang lain yang mendekati obyek-obyek atau situasi-situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat-akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya. Pengendalian diri juga bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti dan orang-orang pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.
C.   Jenis-Jenis Teknik Modeling
Menurut Bandura (dalam Alwisol,2009 : 292) menyatakan bahwa jenis-jenis modeling ada empat yaitu :
1.   Modeling tingkah laku baru
Melalui taknik modeling ini orang dapat memperoleh tingkah laku baru. Ini dimungkinkan karena adanya kemmapuan kognitif. Stimulasi tinngkah laku model ditransformasi menjadi gambaran mental dan symbol verbal yang dapat diingat dikemudian hari. Ketrampilan kognitif simbolik ini membuat orang mentransformasi apa yang didapat menjadi tingkah laku baru.
2.  Modeling mengubah tingkah laku lama
Dua macam dampak modeling terhadap tingkah laku lama. Pertama tingkah laku model yang diterima secara social memperkuat respon yang sudah dimiliki. Kedua, tingkah laku model yang tidak diterima secara social dapat memperkuat  atau memperlemah tingkah laku yang tidak diterima itu. Bila diberi suatu hadiah maka orang akan cenderung meniru tingkah laku itu, bila dihukum maka respon tingkah laku akan melemah.
3.  Modeling simbolik
Modeling yang berbentuk simbolik biasanya didapat dari model film atau televisi yang menyajikan contoh tingkah laku yang dapat mempengaruhi pengamatnya.
4.  Modeling kondisioning
Modeling ini banyak dipakai untuk mempelajari respon emosional. Pengamat mengobservasi model tingkah laku emosional yang mendapat penuatan. Muncul respon emosional yang sama di dalam diri pengamat, dan respon itu ditujukan ke obyek yang ada didekatnya saat dia mengamati model itu, atau yang dianggap mempunyai hubungan dengan obyek yang menjadi sasaran emosional model yang diamati.
PraktIk teknik modeling yang sering digunakan konselor dapat berupa sebagai berikut :
1.   Proses Mediasi
Yaitu proses terapeutik yang memungkinkan penyimpanan dan recall asosiasi antara stimulus dan respon dalam ingatan. Dalam prosesnya,  mediasi melibatkan empat aspek yaitu atensi, retensi, reproduksi motorik, dan insentif. Atensi pada respon model akan diretensi dalam bentuk simbolik dan diterjemahkan kembali dalam bentuk tingkah laku (reproduksi motorik) yang insentif.
2.  Live Model dan Symbolic Model
Yaitu model hidup yang diperoleh klien dari konselor atau orang lain dalam bentuk tingkah laku yang sesuai, pengaruh sikap, dan nilai-nilai keahlian kemasyarakatan. Keberadaan konselor pun dalam keseluruhan proses akan membawa pengaruh langsung (live model) baik dalam sikap yang hangat maupun dalam sikap yang dingin. Sedangkan symbolic model dapat ditunjukkan melalui film, video, dan media rekaman lainnya.
3.  Behavior Rehearsal
Yaitu latihan tingkah laku dalam bentuk gladi dengan cara melakukan atau menampilkan perilaku yang mirip dengan keadaan sebenarnya. Bagi klien teknik ini sekaligus dapat dijadikan refleksi, koreksi, dan balikan  yang ia peroleh dari konselor dalam upaya mengetahui apa yang seharusnya ia lakukan dan ia katakana.
4.  Cognitive Restructuring
Yaitu proses menemukan dan menilai kognisi seseorang, memahami dampak negatif pemikiran tertentu terhadap tingkah laku, dan belajar mengganti kognisi tersebut dengan pemikiran yang lebih realistic dan lebih cocok. Teknik ini dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang korektif, belajar mengendalikan pemikiran sendiri, menghilangkan keyakinan irrasional, dan menandai kembali diri sendiri.
5.  Covert Reinforcement
Yaitu teknik yang memakai imajinasi untuk menghadiahi diri sendiri. Teknik ini dapat dilangsungkan dengan meminta klien untuk memasangkan antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan sesuatu yang sangat negatif, dan memasangkan imaji sesuatu yang dikehendaki dengan imaji sesuatu yang ekstrim positif.
D.   Karakteristik
1.      Menggunakan model, baik model langsung maupun simbolis.
2.     Konseli belajar melalui observasi.
3.     Menghapus hasil belajar yang maladaptif dengan belajar tingkah laku yang lebih adaptif.
4.     Konselor memberikan balikan segera dalam bentuk komentar atau saran.
E.   Tujuan
1.      Untuk Mendapatkan tingkah laku sosial yang lebih adaptif.
2.     Agar konseli bisa belajar sendiri menunjukkan perbuatan yang dikehendaki tanpa harus belajar lewat trial and error.
3.     Membantu konseli untuk merespon hal- hal yang baru
4.     Melaksanakan tekun respon- respon yang semula terhambat/ terhalang
5.     Mengurangi respon- respon yang tidak layak
F.   Prinsip
1.      Pemberian pengalaman-pengalaman belajar sebagai proses penghapusan hasil belajar yang maladaptif.
2.     Model sebagai stimulus terjadinya pikiran, sikap, dan perilaku bagi pengamat (konseli).
3.     Individu (konseli) mengamati model (tingakh laku yang nampak dan spesifik) kemudian diperkuat untuk mencontohnya.
4.     Status dan kehormatan model amat berarti, karena keberhasilan teknik ini tergantung pada persepsi konseli terhadap model yang diamati.
5.     Adegan yang lebih dari satu dapat menggambarkan situasi-situasi yang berbeda dimana tingkah laku ketegasan biasanya diperlukan (cocok).
G.   Manfaat
1.      Memberikan pengalaman belajar yang bisa dicontoh oleh konseli.
2.     Menghapus hasil belajar yang tidak adaptif.
3.     Memperoleh tingkah laku yang lebih efektif.
4.     Mengatasi gangguan-gangguan keterampilan sosial, gangguan reaksi emosional dan pengendalian diri.
H.  Kelebihan dan Kekurangan
1.      Kelebihan Teknik Modeling
Dengan teknik modeling konseli bisa mengamati secara langsung seseorang yang dijadikan model baik dalam bentuk live model ataupun symbolic model , sehingga konseli bisa dengan cepat memahami perilaku yang ingin diubah dan bisa mendapatkan perilaku yang lebih efektif.
2.     Kekurangan Teknik Modeling
a.     Keberhasilan teknik modeling tergantung persepsi konseli terhadap model. Jika konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang mencontoh tingkah laku model tersebut.
b.     Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat.
c.     Bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model tersebut sesuai dengan gayanya sendiri.
I.    Tahap-tahap atau Langkah-langkah Modeling
1.      Meminta konseli untuk memperhatikan apa yang harus ia pelajari sebelum model didemonstrasikan.
2.     Memilih model yang serupa dengan konseli dan memilih siapa yang bisa mendemonstrasikan tingkah laku yang menjadi tujuan dalam bentuk tiruan.
3.     Menyajikan demonstrasi model tersebut dalam urutan skenario yang memperkecil stress bagi konseli. Konseli bisa terlibat dalam demonstrasi perilaku ini.
4.     Meminta konseli menyimpulkan apa yang ia lihat setelah demonstrasi tersebut.
5.     Adegan yang dilakukan bisa jadi lebih dari satu. Sesudah model ditampilkan, konseli dapat diminta untuk meniru memperagakan tingkah laku model itu yang paling baik konselor dapat menekankan bagian-bagian mana dari perbuatan tersebut yang penting, dan kemudian mengulang tingkah laku yang diharapkan untuk dilakukan selanjutnya. Konseli didorong untuk melakukan kembali tingkah laku tersebut. Dalam hal ini konselor memberikan balikan dengan segera dalam bentuk komentar atau saran.
Soetarlinah Soekadji (1983 : 81) menjelaskan bahwa prosedur modeling berlangsung dalam 2 tahap, yaitu :
1.   Tahap Pemilikan.
Tahap pemilikan adalah tahap masuknya perilaku dalam perbendaharaan perilaku subjek, ialah subjek memperoleh dan memepelajari perilaku teladan yang diamati. Pengamatan intensif dan mengesankan, mempercepat pemilikan perilaku ini. Namun pengamatan tidak intensifpun bila berulang-ulang dapat menimbulkan perilaku meniru. Karena itu, orang-orang dalam suatu kelompok pergaulan cenderung berperilaku serupa, salah satu sebab karena saling meniru, sengaja atau tidak sengaja.
2.  Tahap Pelaksanaan.
Pada tahap ini subjek melakukan perilaku yang telah dipelajari dari teladan. Pada tahap pelaksanaan, subjek sudah memiliki perilaku yang dicontoh tapi belum melaksanakan sebagai perilakunya sendiri. Pelaksanaan baru dapat diwujudkan bila faktor-faktor penunjang ada. Faktor lain yang mempengaruhi pelaksanaan adalah faktor pengukuhan, baik yang dialami subjek sendiri, maupun yang diperoleh lewat pengamatan, ialah melihat orang lain yang melaksanakan perilaku teladan mendapat pengukuh (vicarious reinforcement).
J.   Relevansi
Teknik modeling ini relevan untuk diterapkan pada konseli yang mengalami gangguan-gangguan reaksi emosional atau pengendalian diri, kekurangterampilan kecakapan-kecakapan sosial, keterampilan wawancara pekerjaan, ketegasan, dan juga mengatasi berbagai kecemasan dan rasa takut seperti phobia, kecemasan dengan serangan-serangan panik, dan obsesif kompulsif.
Teknik ini sesuai diterapkan pada konseli yang mempunyai kesulitan untuk belajar tanpa contoh, sehingga dia memerlukan contoh/ model perilaku secara konkret untuk dilihat/ diamati sebagai pembelajaran pembentukan tingkah laku konseli. Jadi, konseli bisa belajar sendiri menunjukkan perilaku yang dikehendaki tanpa harus mengalaminya langsung (trial and error).
K.  Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Proses Modeling
1.    Attention
Perlu adanya perhatian yang dipersiapkan lebih dulu, jika model kurang menarik perhatian, tidak disukai , atau klien/individu sedang mengantuk, lapar dan tidak nyaman, proses modeling terganggu karena lemahnya perhatian
2.    Retention
Kita perlu menyimpan informasi dalam ingatan dengan lebih dulu  memberikan tanda  dalam bentuk gambar atau bahasa sebagai bagian perilaku kita.
3.    Reproduction
Kemampuan mengingat kembali dan memanggil materi ingatan dari  dan menterjemahkannya dalam perilaku yang nyata. Dimulai dengan membayangkan perilaku model yang kita lakukan sendiri dalam bayangan kita yang kemudian akan membantu kita menerapkannya dalam perilaku nyata.
4.    Motivation
Dorongan dari dalam individu dapat dipengaruhi oleh reinforcement yang dulu pernah diperoleh setelah melakukan perilaku tertentu (past reinforcement), reinforcement yang dijanjikan misal insentif (promised reinforcements) dalam bayangan kita dan  karena melihat dan mengingat reinforce yang telah diterima model (vicarious reinforcement). Menurut Bandura, punishment tidak bekerja dengan baik dan seefektif reward dalam modeling ini (Sadmoko:2010).
Sumber materi:
Soekadji, S. et al. 1983. Modifikasi Perilku: Penerapan Sehari-hari dan Penerapan Profesional. Yogyakarta
Komalasari, G. et al. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks
VERBATIM TEKNIK MODELING
Pelaku
Dialog
Teknik
Konseli
(mengetuk pintu) “Assalamu’alaikum”

Konselor
“Wa’alaikumussalam wr.wb.” (membuka pintu dan tersenyum)
“Halo.. Silahkan duduk. Pilih tempat mana yang menurutmu nyaman. (sambil menunjukkan beberapa kursi kosong di ruang BK).
Opening
Konseli
(dengan malu-malu) “Mmm.. saya duduk disini saja bu terimakasih. ” (duduk).

Konselor
“Ibu baru melihat kamu ke ruang BK?, nama kamu siapa?”
Topik Netral
Konseli
“Nama saya Gilang bu, saya murid kelas X bu. Mmm... Ibu benar yang namanya ibu Erma kan?”

Konselor
“Iya Gilang, saya ibu Erma guru BK di sekolah ini. Gilang kelas berapa?”

Konseli
“Saya kelas X-C bu.”

Konselor
“Bagaimana perasaanmu sudah masuk kelas X ini?”

Konseli
(menunduk dan berkata dengan nada berat) “Senang si bu.”

Konselor
“Gilang tadi bilang senang, tetapi ibu melihat wajah kamu menunduk. Mungkin bisa diungkapkan disini kepada ibu?”
Konfrontasi.
Peralihan.
Konseli
“Mmm iya bu. Saya datang kesini ingin meminta saran dari ibu tentang masalah saya.”

Konselor
“Begini Gilang, disini nanti masalah yang akan kamu ungkapkan kita bicarakan bersama, kita bahas dan kita cari jalan keluarnya bersama. Begitu Gilang, bagaimana?”
Strukturing (role limit)
Konseli
“Iya bu, saya mengerti.” 

Konselor
“Oke kalau begitu. Sekarang silahkan Gilang cerita masalah yang dialami Gilang.”

Konseli
“Begini bu, saya tidak mempunyai banyak teman. Dari SMP teman saya itu hanya orang yang tiap kali sebangku sama saja bu.” 

Konselor
“Hanya orang yang tiap kali sebangku saja?”
Restatement
Konseli
“Iya bu.”

Konselor
“Bisa diceritakan kepada ibu perjalanan pertemananmu dari SMP sampai sekarang?”
Lead
Konseli
“Mmm.. waktu SMP saya masuk kelas VII saya senang sekali bu. Saya sudah bisa percaya diri, saya memulai berkenalan dengan yang lain. Saya mendekati beberapa anak, tetapi saat berkenalan saya langsung ditolak bu. Saya dibilang culun dan mereka langsung menertawakan saya. Saya jadi down dan enggan untuk memulai perkenalan sampai sekarang bu.”

Konselor
“Tidak mau lagi memulai perkenalan?. Gilang bilang tadi kalau mempunyai teman dan teman-teman Gilang adalah orang yang tiap kali duduk sebangku dengan Gilang. Coba ceritakan kepada ibu bagaimana kamu bisa berkenalan dengan teman sebangkumu?”
Restatement
Konseli
“Sampai sekarang, setiap saya mempunyai teman sebangku. Teman sebangku saya dulu yang memulai perkenalan bu.”

Konselor
“O-oh begitu. Menurut kamu apakah semua orang yang akan kamu ajak berkenalan seperti orang-orang saat SMP yang menertawakanmu saat kamu mengajak mereka berkenalan?”
Lead
Konseli
“Mmmmmm... Enggak si bu... Tapi saya sudah down dulu bu.”

Konselor
“Dengan kata lain, Gilang merasa tidak percaya diri untuk memulai berkenalan dengan orang lain?”
Klarifikasi
Konseli
“Iya bu.. apalagi saya seperti ini. Culun bu.”

Konselor
“Menurut Gilang, orang yang seperti apa yang dapat diterima oleh orang lain saat memulai perkenalan terlebih dahulu?”
Lead
Konseli
“Mmm... Kalau menurut saya, semua orang dapat memulai perkenalan terlebih dulu bu. Tapi terkadang penampilan fisik mendukung bu dalam perkenalan.”

Konselor
“Apakah penampilan fisik menjamin seseorang lancar saat memulai perkenalan dengan orang lain?”
Lead
Konseli
“Mmmm... Enggak juga si bu.. itu tergantung bagaimana cara orang itu memulai perkenalannya.”

Konselor
“Menurut kamu, cara memulai perkenalan itu seperti apa?”
Lead
Konseli
“Mmm.. menurut saya cara memulai perkenalan itu ya dengan cara yang sopan, seperti senyum, bicaranya tidak menggunakan nada yang tinggi dan kasar.”

Konselor
“Oke.. Gilang tadi mengatakan bahwa setiap perkenalan yang memulai sampai sekarang adalah teman sebangku Gilang. Bisa diceritakan lebih lanjut tentang teman sebangkumu yang sekarang, bagaimana dia memulai berkenalan dengan kamu?”
Lead
Konseli
“Teman sebangku saya namanya Yan bu. Dia itu sebenarnya secara fisik biasa saja bu. Sampai detik ini saya menganggap dia baik bu, kan saya dan dia baru kenal 2 minggu. Saat berkenalan dengan saya, dia mengulurkan tangan ke saya, tersenyum kemudian mengucapkan namanya dan menanyakan nama saya. Tetapi yang membuat saya ingin seperti dia adalah walaupun baru 2 minggu namun dia sudah akrab dengan hampir semua teman-teman di kelas padahal dulu bukan teman SMPnya bu.”


Konselor
“Kamu ingin seperti dia?”
Restatement
Konseli
“Iya bu.”

Konselor
“Oke kalau begitu. Sekarang ibu kasih tugas buat kamu untuk mengamati bagaimana Yan berkenalan dengan orang lain, seperti apa kepribadiannya dan kamu bisa mewawancarai/bertanya padanya. Setelah itu, kamu menemui saya lagi dan akan kita bahas bersama hasil pengamatan dan wawancara kamu. Bagaimana?

Konseli
“Baik bu, saya akan melakukannya. Lalu kapan saya menemui ibu lagi?”

Konselor
“Untuk mengamati seseorang itu dapat membutuhkan waktu yang cukup lama, jadi apabila kamu sudah merasa cukup dalam mengamati dan wawancara, kamu dapat menemui ibu di ruang BK ini, bisa saat istirahat sekolah. Bagaimana?”

Konseli
“Baik bu, saya setuju.”

Konselor

“Oke Gilang, dari pembicaraan kita dari tadi dapat ibu simpulkan bahwa Gilang kurang percaya diri dalam memulai berkenalan dengan orang baru. Hal itu dikarenakan pengalaman Gilang saat SMP. Lalu setelah kita bahas bersama akhirnya kita menemukan jembatan yaitu tugas untuk mengamati dan mewawancarai teman sebangku kamu.
Oke.. Berhubung ini ibu akan ada rapat maka konseling kita akhiri sampai disini dulu ya. Ibu tunggu kabar dari kamu ya.”
Summary.
Termination.
Konseli
“Iya bu.. Terima kasih Bu.. Assalamu’alaikum”

Konselor
“Wa’alaikumussalam wr.wb.”

Littlre snake pin