Selasa, 15 Januari 2013

REVIEW--HUBUNGAN KESULITAN PENYESUAIAN DIRI DAN DEPRESE MAHASISWA INTERBASIONAL




Review jurnal berdasarkan hasil penelitian Yosefini Rasyanti Munthe,Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta dengan judul Hubungan Kesulitan Penyesuaian diri dan Deprese Mahasiswa Internasional.

1.    Pendahuluan
Dalam menempuh pendidikan di luar negeri pastilah membawa beberapa perubahan dalam kehidupan mahasiswa. Akan ada suatu bentuk kejutan budaya (culture shock). Istilah culture shock sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan emosi negative yang dialami oleh pelancong sebagai akibat  dari hilangnya tanda-tanda dan symbol-simbol interaksi sosial (bock, 1970;Hoff 1979; Redden;1975).
Depresi adalah salah satu masalah yang dialami oleh mahasiswa internasional  yang dapat mempengaruhi tingkat emosi dan kemampuan mahasiswa dalam menyesuaikan diri pada lingkungan barunya. Arti dari depresi sendiri adalah suatu konsepsi yang dapat diterapkan pada suatu rentang keadaan emosi , baik normal maupun abnormal. Perasaan sedih atau kesal adalah hal yang normal dalam spectrum emosi manusia. Suatu periode kesdihan yang pendek sebagai respon terhadap munculnya hal-hal yang menyebabkan stresss adalah normal. Namun, apabila mood depresi terus berlangsung dalam waktu yang panjang maka akan menimbulkan berbagai kesulitan pada diri sendiri.
Stress biasanya terjadi apabila tubuh selalu berada dalam keadaan  siaga penuh, bahkan saat sumber penyebab stress teleah hilang atau berlalu. Strukgeon (1979) menytakan bahwa ada tiga aspek stress yang biasanya selalu mendahului terjadinya kasus depresi :
1.  Adanya suatu periode stress yang berkepanjangan yang membuat tubuh beraksi secara negative
2.  Adanya suatu persaan kewalahan sebagai akibat dari besarnya tekanan dan banyaknya tugas yang harus dilakukan; dan
3.  Adanya suatu perasaan tidak berdaya yang membuat seseorang merasa tidak memilki control terhadap nasibnya.

Dalam adaptasi menuru Selye 91974) mengatakan bahwa secara umum ada tiga tahapan dalam beradaptasi, yaitu (1) alarm stage, dimana seseorang bersiap-siap untuk melawan atau melarikan diri dari ancaman; (2) resistance stage’ dan (3) stage of exhaustion, dimana depresi cenderung terjadi sebagai akibat dari stress yang dialami secara tersu menerus.
Ada beebrapa faktor juga diduga memilik potensi sebagai penyebab stress yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri mahasiswa internasional. Faktor-faktor tersebut antara lain : kemampuan berbahasa Inggris, kemampuan akademis, konsi keuangan, kontak sosial, dan beberapa variable demografis seperti lama tinggal di Negara tempat belajar, jenis kelamin, usia dan pendidikan, serta status perkawinan.
 Kemampuan berbahsa Inggris
Kemampuan berbahasa inggris sangat diperlukan apabila berada di Negara orang lain. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik, mahasiswa internasisal harus mampu untuk menguasai bahasa inggris formal dan bahasa inggris percakapan.  Bahasa inggris formal diperlukan untuk studi di Universitas, sedangkan bahasa inggris percakapan ialah untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Kemampuan Akademis
Tuntutan  dari akademis tidak hanya dialami oleh mahasiswa internasional tetapi juga mahasiswa dalam negeri. Tetapi mahasiswa internasional yang datang memiliki tuntutan diri yang besar untuk sukse secara akademis . apabila mahasiswa internasional tidak dapat mencapai harapan dalam sukses akademis diperkirakan akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri.
Kondisi Keuangan
Kebanyakan mahasiswa internasional memiliki sumber keuangan dari Negara asalnya. Mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan, meraka lebih sulit memecahkan masalahnya daripada mahasiswa local. Dengan demikian jelas bahwa kondisi keuangan yang buruk berhubungan dengan kesulitan dalam menyesuaikan diri.

Kontak Sosial
Kontak sosial dengan masyarakat sekitar adalah penting dalam upaya untuk penyesuai diri dengan lingkungan baru. Furham dan Alibhai (1985) juga menyatakan bahwa mahasiswa internasional yang memiliki hubungan baik dengan tuan rumahnya mengalami sukses dalam bidang pendidikan mapun non-pendidikan selama di manca negara.
Adapun church 91982) menyatakan bahwa kontak dengan mahasiswa dari daerah asal akan meberikan lingkungan yang mendukung yang berfunsi sebgai lingkungan pengganti rumah, mengembalikan perasaan memiliki dan meningkatkan kepercayaan diri mahsiswa internasional.
Lama Tinggal di Amerika
Lysgaard (1955), yang memeperkenalkan teori kurva-U menyatakan bahwa ada hubungan kurvalinear antara tignkat penyesuaian diri dan lamanya tinggal di ngegara tempat studi. Saat kedatangan dan awal dari waktu tinggal ditandai oleh adanya perasaan gembiran dan optimism. Waktu mahasiswa semakin terlibat dalam hubungan sosial dan mulai mengalami frustrasi dalam mencapai tujuannya, ia berubah menjadi orang yang bingung , deprsei , dan pandang negative terhadap kebudayaan setempat.
Jenis Kelamin
Sejauh ini beberapa penilitan telah memberikan hasil yang saling bertentangan mengenai hubungan penyesuain diri dengan jenis kelamin. Church (1982) mengatakan bahwa wanita memiliki kesehatan mental yang lbih buruk dibandingakan pria, sementara Owie (1982) menyatakan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dan kesehatan mental seseorang.
Usia dan Tingkat Pendidikan
Hasil-hasil penelitan para ahli juga saling bertentangan dalam hal membahas hubungan antara usia dan tingkat pendidikan dengan kemapuan menyesuaikan diri. Levit.dkk(1983) melaporkan bahwa mahsiswa muda dan mahasiswa tingkat undergraduate akan lebih mudah untuk menyesuiakan diri dengan kebudayaan setempat dibandingkan dengan rekan meraka yang lebih tua atau mahasiswa tingkat graduate. Sementara Chruch 91982) menyatakan bahwa mahasiswa tingkat graduate secara akademis dan personal lebih mendapatkan kepuasan dari kunjungan mereka di manca ngera.
Status Perkawinan
Ada bukti bahwa tinggal bersama suami/istri akan mengurangi kesulitan dalam menyesuaikan diri. Klineberg dan Hull (1979) menemukan bahwa mahasiswa tyang telah menikah dan tinggal bersama psangannya lebih siap dan lebih mudah untuk menyesuaikan diri daripada mahasiswa yang masih single atau tinggal sendiri.
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa studi diluar negeri mebutuhkan proses penyesuaian diri yang khusus.beeberapa stressor anatara lain adalah kemampuan berbahasa inggris, kemampuan akademis, kondisi keuangan, dan kontak sosial. Variable demografis antara lain  jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan, status perkawinan, dan lama tinggal di suatu daerah.

Perbedaan dalam system pendidikan di Amerika dan di Indonesia memiliki peranan pencetus munculnya kesulitan akademis yang dialami mahasiswa. Beberapa perbedaan itu antara lain mencakup : perbedaan dalam cara pengajaran, di Amerikan menekankan pada diskusi dikelas, kompetisi yang ketat dan menuntut kemandirian. Sedangkan di Indonesia menekankan pada norma dimana guru adalah pembicara sedangkan peserta didik adalah yang mendengarkan dan mengingat.

Littlre snake pin