Kamis, 17 Januari 2013

SATLAN--TA--MENJALIN KOMUNIKASI YANG BAIK DENGAN PASANGAN




A.      Judul/spesifikasi layanan            : Menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan
B.      Bidang bimbingan           : Keluarga
C.      Jenis layanan                   : Informasi
D.      Fungsi layanan                : Pemahaman
E.       Tujuan layanan                :
a.       Sasaran  mengerti apa yang dimaksud dengan komunikasi yang baik ( nilai rasa ingin tahu )
b.       Saaran mampu memahami makna pentingnya komunikasi dengan pasangan ( nilai rasa ingin tahu)
F.       Sasaran                            : Mahasiswa semester 6
G.      Materi layanan                : Menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan
H.      Tempat penyelenggaraan            : Ruang kelas (LAB BK)
I.         Alokasi waktu                 : 1x45 menit
J.        Metode layanan               : Tanya jawab, diskusi, ceramah
K.      Kegiatan layanan             :
waktu
Kegiatan
5 menit
Pendahuluan
a.   Mengucapkan salam, memeriksa situasi dan kondisi didalam kelas serta memeriksa kehadiran mahasiswa
b.  Penyampaian materi
c.   Tanya jawab
d.  Menyampaikan topik dan tujuan yang akan dibahas pada pertemuan ini
25 menit
Inti
a.   Eksplorasi:
· Menyampaikan sekilas materi tentang menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan
· Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk tanya jawab
b.  Elaborasi:
· Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang bagaimana komunikasi yang baik dengan pasangan
c.   Konfirmasi:
· Memberikan pedoman diskusi kepada mahasiswa
· Mahasiswa membacakan hasil diskusi tentang menjalin hubungan yang baik dengan pasangan (perwakilan)
· Mengadakan sesi tanya jawab
5 menit
Penutup
a.   Memberikan kesimpulan dari hasil diskusi mahasiswa
b.  Memberikan harapan terhadap materi layanan yang telah diberikan
c.   Memotivasi mahasiswa
d.  Salam penutup

L.       Media layanan                 :
a.       Buku
a.       Alat tulis
b.       Papan tulis
c.       Power point
M.     Penilaian hasil layanan   :
a.       Proses    : mengamati sasaran selama mengikuti layanan, mengungkapkan pemahaman sasaran atas materi layanan yang telah diberikan
b.       hasil       : penilaian segera (laiseg), dengan memberikan angket kepada sasaran setelah pelayanan
N.      Rencana tindak lanjut     :
a.       Bimbingan kelompok
b.       Konseling kelompok
O.      Sumber layanan               :
a.       Pujosuwarno, Sayekti. 1994. Bimbingan dan Konsling Keluarga. Yogyakarta: Mas Offset
b.       Dewantari, Laras. 2012. Komunikasi Antar Pasangan. On line at http://laras-dewantari.blogspot.com/2012/04/komunikasi-antar-pasangan.html

Semarang,                           2012
Mengetahui,
Dosen pengampu,                                           Perencana kegiatan layanan

           

NIP                                                                  NIP


MENJALIN KOMUNIKASI YANG BAIK DENGAN PASANGAN

Masalah keluarga adalah masalah yang berhubungan atau bersumber dari komunikasi, karena segala kebutuhan individu dapat dipenuhi melalui komunikasi. Komunikasi ini menyangkut komunikasi antara ibu dan bapak (pasangan suami istri). Antara orang tua dan anak, antara anak dan anak (kaka adik) dan antara anggota keluarga yang lainnya.
Pembinaan komunikasi antara pasangan (suami istri)
Sesuai dengan hukum perkawinan di Indonesia, suami istri diberi hak dan kewajiban yang sama dalam membina keluarga. Kehidupan rumah tangga maupun pergaulan hidup bersama di masyarakat. Suami dibebani kewajiban untuk melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluannya. Suasana keluarga yang biasanya tercermin dalam hubungan antara ibu dan bapak sangat mempengaruhi pendidikan anak. Suasana hubungan yang baik ditandai dengan adanya:
1)       Saling pengertian
Maksudnya karena suami istri adalah dua pribadi yang tumbuh terpisah satu dari yang lainnya dan mempunyai pengalaman waktu kecil yang berbeda, sehingga membawa mereka kepada kepribadian, sikap jiwa dan pandangan hidup yang juga berbeda. Sebelum hidup bersama perbedaan-perbedaan itu mungkin tidak terlihat atau kurang berpengaruh, karena masing-masingny masih dipengaruhi oleh emosi dan gambaran-gambaran indah yang dikhayalkan. Saling mengerti tentang sifat-sifatnya, tingkah lakunya, kepribadiannya serta saling mengerti mengenai latar belakang keluarganya yang membina kepribadian waktu kecil.
2)       Saling menghargai.
Setiap individu membutuhkan penghargaan dan merasa kecewa apabila tidak dihargai orang lain. Betapa banyak masalah yang terjadi disebabkan kurangnya rasa saling menghargai, sehingga suasana rumah tangga akan menjadi tegang danhambar serta dapat menimbulkan ketegangan dan antipati satu sama laainnya dan bahkan dapat menimbulkan terjadinya pertengkaran yang berujung pada perceraian apabila tidak segera terselesaikan dengan baik. Rasa penghargaan yang perlu dibina antara lain adalah menghargai bakat dan kelebihannya serta menghargai kekurangannya.
3)       Saling cinta mencintai
Pada umumnya setiap keluraga dibentuk atas dasar saling cinta mencintai. Dalam perkembangannya, perasaan itu ada yang bertambah dan ada juga yang berkurang bahkan ada yangt akhirnya tanpa cinta dan akhirnya saling membenci dan bermusuhan.
Cara mempertahankan cinta dan kasih sayang tetap kekal dan abadi sebagai berikut:
a.       Lemah lembut dalam berbicara.
b.       Menunjukkan adanya perhatian kepada pasangan (suami/istri)
c.       Bijaksana dalam pergaulan.
d.       Menjauhkan diridari sifat egois.
e.       Tidak mudah tersinggung.
f.        Menentramkan bathin sendiri.
g.       Menunjukkan rasa cinta kepada pasangan (suami/istri).
4)       Saling menerima.
Hal ini adalah prinsip yang harus diusahakan bagai suami/istri. Menerima keadaan diri suami/istri sebagaimana adanya dengan tulus dan jangan berpura-pura. Karena penerimaan ini akan tercermin pada air muka, ucapan dan tindakan. Saling menerima meliputi:
a.       Saling menerima apa adanya.
b.       Saling menerima kegemarannya.
c.       Saling menerima keluarganya.
5)       Saling mempercayai.
Modal utama kebahagiaan dalam rumah tangga adalah saling percaya. Untuk menjamin saling percaya, hal yang perlu diperhatikan adalah percaya kepada pribadinya dan kemampuannya, saling terbuka dan jujur. Suami/istri hendaklah saling percaya pada kemampuannya dan hal ini perlu dibina dan dipelihara serta dipupuk agar terjalin hubungan yang mesra dan tenang dalam rumah tangga.
Selanjutnya Prayitno (1995) menambahkan bahwa untuk membina keluarga bahagia yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka apapun yang diusahakan atau dikerjakan dari mencari nafkah untuk keluarga hendaklah dengan ”Ridha Allah” sehingga tercapai kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.


Littlre snake pin